Kecemasan yang Mewah

Aku banyak membicarakan tentang diriku pada kamar-kamar kosong yang didalamnya menjual banyak kesepian. Ada banyak rupa yang tidak kuketahui menarik-narik untuk menghargai kecemasan yang bila saja kubiarkan—kecemasan ini—aku akan mati. Aku bahkan tidak mengerti mengapa kecemasan datang dengan gemuruhnya, berharap aku melindunginya. Tidak pernah kubiarkan kecemasan ini merenggut segala hal yang sebenarnya biasa saja, tidak rimbun, bahkan tidak menimbulkan efek kebahagiaan yang datang dengan benar. 

Bila saja kubiarkan—kecemasan ini—aku akan mati dalam keadaan: satu rupa itu menangisiku. Lantas satu rupa itu mengatakan menyayangiku sambil menyeringai: hah! Pengganggu itu sudah mati, kini dia milikku, darah kami sama. Aku pikir bakal terjadi begitu, bila aku biarkan kecemasan ini, maka, aku akan mati. 

Maka, aku tidak akan mati karena kecemasan yang meminta pengharapan dariku. Aku bicarakan kecemasan ini pada kamar-kamar kosong yang sepi itu, tapi di sana ternyata banyak rupa yang menyuruhku, memerintahku bahkan menghardikku untuk menghargai kecemasan yang mewah ini, kata mereka, ini mewah. Bangsat! Mewah, mahal dan berharga, kata mereka lagi, terus-terusan mengayunkan suara paling berisik. 

Bahkan aku tak enak menuliskan kata bangsat! pada tulisan ini yang mungkin akan dibaca banyak orang. Nah! Seperti ini saja, aku cemas. 

Memang ada apa dengan kata bangsat! ada dalam KBBI rupanya. Jadi aku aman, KBBI bukankah kitab petunjuk penggunaan bahasa? Jadi, tidak masalah ‘kan? Sial! Aku masih saja cemas. Oke, bangsat! ini aku coret. Demi, aku, agar tidak cemas. Bila cemas datang dan membiarkan—kecemasan ini—aku akan mati. 

Katanya, kecemasan adalah sebuah penyakit, bila terjadi terus menerus, sembarang saja aku katakan ini. Katanya, perlu menemui para ahli agar cemas-cemas itu gugur? Benarkah? Bila cemas itu gugur, berarti mati. Jadi, aku yang hidup? Wah, aku dan kecemasan ini benar-benar bertarung mempertahankan posisi di bumi. 

“Kecemasan yang kau punya adalah kemewahan, ia menyinar tubuhmu yang bahkan sudah hilang sarinya!” teriak rupa pria berperawakan sedang dan berkulit putih bergerinjul itu sambil terus menusuk-nusuk duri pada kepalanya. 

“Kau hanya punya kecemasan itu, bila kecemasan itu dihilangkan, maka kau tidak akan kebagian kebahagian di bumi ini!” aku kembali diteriaki oleh rupa pria berperawakan yang kali ini amat tinggi tapi tetap berkulit putih bergelinjur. Dia berteriak sambil mengikis punggung-punggungnya yang bersisik emas lantas membagikannya pada para jelata dan berharap balas budi. 

Lalu terus semua rupa berteriak membela kecemasan, mengatakan kecemasan adalah kemewahan dan kemewahan mendatangkan kebahagaian. Bahkan mereka rela menukar segala kebahagiaan yang mereka punya saat ini dengan kecemasan; agar mereka mendapat kebahagiaan berkali-kali lipat, katanya. 

Aku makin tidak paham dengan banyak rupa di kamar-kamar kosong ini, mereka sangat mencintai kecemasan. Bahkan mereka mengeluarkan banyak ludah untuk menasihatiku, mengorek semua kehidupanku yang berhasil mendapat kecemasan yang mewah itu dan  memintaku bersyukur, tapi banyak pula yang iri dan berakhir pada cibiran tajam dan menyakitiku. Banyak sekali yang menyakitiku. Banyak sekali. Maka, aku putuskan untuk meninggalkan banyak rupa di kamar-kamar kosong itu—yang semula mereka adalah rupawan dengan sebanyak nasihat yang siap meluncur, tak peduli cocok atau tidak, yang mereka tahu, nasihat adalah hal pokok yang harus diberikan pada orang yang meminta pertolongan. Mereka abai untuk mendengarkan, mereka hanya ingin menasihati: sambil memamerkan pencapaian diri yang berhasil melewati kecemasan mewah. 

Aku dan kecemasan ini akhirnya meninggalkan kamar-kamar kosong itu menuju sebuah kolam daun. Di kolam itu banyak sekali daun yang bukan berguguran karena alam, tapi sengaja dipetik dan dikumpulkan oleh tangan-tangan daun itu sendiri. Kolam daun itu kemudian tumbuh menjadi pohon daun, yang tiada ranting, tiada kayu, tiada akar pada umumnya pohon yang biasa kulihat. Pohon daun itu benar-benar daun itu sendiri, mereka  tumbuh hijau dan berhasil menaungi diri mereka sendiri. 

“Pohon daun, mengapa kau berbeda dengan pohon-pohon yang lain? Kau hanya daun-daun yang tiada kayu. Mengapa menciptakan perbedaan di antara pohon-pohon di sekitarmu?” tanyaku dengan lantang setengah berteriak. 

Pohon daun itu mengibaskan daun-daunnya sambil tersenyum lalu melirik kecemasan di sebalahku, lalu pergi begitu saja. Luar biasa! Pohon daun itu bahkan bisa berjalan. 

Aku termenung-menung memikirkan sikap pohon daun itu yang kupikir masa bodoh dengan pertanyaanku. Ia bahkan meninggalkanku tanpa ada rasa kecemasan karena kuhakimi dia berbeda. 

Sementara itu, aku dan kecemasan terus berdampingan. Tapi aku masih enggan menyebutnya sebagai kecemasan yang mewah. Aku mengangkat bahuku tanda membebaskan kecemasan dengan menujuk arah lain. Kecemasan masih setia saja, aku kembali menunjuk ke arah yang lain, tapi ia terus saja memandangiku. Akhirnya aku angkat seluruh tubuhku dan pergi tanpa perlu mendengarkan kecemasan yang mulai cemas pada dirinya sendiri. 

Tulisan healing #1 ditulis oleh dan untuk si empunya blog dan mungkin cocok untuk kalian yang kita sama. Bertaut!

Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.