Konstruksi Identitas Tokoh Utama sebagai Representasi Masyarakat Urban dalam Cerpen Helikopter Karya Seno Gumira Ajidarma

Foto Buku: Dok.Pribadi

BLURB

Kajian ini bertujuan untuk membongkar konstruksi identitas pada tokoh utama dalam cerpen Helikopter karya Seno Gumira Ajidarma. Dalam penemuan hasil kajian, tulisan ini mengaplikasikan konsep representasi masyarakat pekotaan dari Raymond Williams dan sosiologi sastra. Hasil yang didapatkan dalam kajian ini adalah adanya transformasi identitas pada tokoh utama akibat konstruksi identitas yang dipengaruhi oleh kondisi-kondisi sosial dalam ruang urban. Selain itu, ruang urban dalam cerpen mampu menghadirkan gambaran kritik terhadap masyarakat konsumerisme. Tokoh utama dalam cerpen ini mengalami ambivalensi dalam proses konstruksi identitasnya. Selain itu, persoalan ironi terhadap masyarakat urban dan budaya konsumtifnya turut ditunjukkan dalam teks dalam bentuk penokohan Saleh.

PENDAHULUAN

Kompleksitas masyarakat urban umumnya ditandai dengan ruang mobilitas yang tinggi. Masyarakat uban menjadi sebuah cerminan masyarakat perkotaan yang mementingkan nilai praktis dan serba cepat, hal ini terjadi karena ruang lingkup kota sebagai ruang industralisasi. Pasaribu (2020) menyebutkan kehidupan urban ditandai dan dibangun oleh dinamika masyarakatnya yang memiliki mobilitas tinggi. Konsep ruang kota memaksa masyarakat untuk terkondisi pada sebuah kondisi sosio-politik dan sikap budaya yang bervariasi (Pasaribu, 2020: 1). Hadirnya urbanisasi sebagai bentuk perpindahan dari desa ke kota menggambarkan banyaknya ruang-ruang urban yang makin kompleks. Pasaribu (2020) lebih lanjut menyebutkan aspek-aspek pembentukan urban terdiri dari aspek sosiologi, ekonomi, geografi, budaya, sejarah, seni, lanskap dan antropologi.

Representasi masyarakat urban yang terdiri dari beragam isu turut dihadirkan dalam karya-karya sastra. Pemahaman sastra urban disebutkan oleh Saidi (2013) bahwa sastra Indonesia modern secara umum merupakan sastra urban sejak kelahirannya yang lahir dan berkembang di kota besar, terutama Jakarta, lahir dari tangan pengarang urban, mengedepankan permasalahan manusia urban, dan penyebarannya difasilitasi oleh media massa yang berada di pusat kota dan pusat masyarakat urban (Saidi, 2013: 10).

Salah satu pengarang yang aktif membicarakan persoalan urban adalah Seno Gumira Ajidarma. J.J Errington (dalam Fuller, 2011) menyebut bahwa Seno dikenal luas dengan cerpen-cerpennya yang menghibur dan sering berkaitan dengan politik dan masyarakat selama era Orde Baru di Indonesia. Korrie Layun Rampan dalam bunga rampai fiksi kontemporer Indonesia, menganggap Seno sebagai bagian signifikan dari kelompok yang disebut sebagai “Angkatan 2000”. Pilihan-pilihan karya Seno yang dipakai dalam bunga rampai itu tidak benar-benar mencerminkan isu-isu yang justru paling banyak diangkat oleh Seno. Rampan menghubungkan aspek-aspek posmodern dalam karya-karya Seno dengan tradisi lisan Indonsesia. Rampan mengklaim bahwa setelah menempatkan Seno di bagian terdepan jajaran penulis cerpen kontemporer Indonesia—dia telah “memperbaharui toleransi lahan estetisnya dengan cara berekspresi yang baru” (Fuller, 2011: 62).

Salah satu karya Seno Gumira Ajidarma adalah cerpen-cerpenya yang dimuat di Harian KOMPAS yang disunting oleh Andina Dwifatma dalam kumpulan cerpen Senja dan Cinta yang Berdarah. Kumpulan cerpen ini diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas pada tahun 2014. Dalam kumpulan cerpen ini terdapat 85 cerpen terhitung sejak tahun 1978-2013. Salah satuu cerpen yang berbicara tentang masyarakat perkotaan dengan budaya konsumtif yang tinggi adalah cerpen Helikopter (1988) yang akan menjadi fokus kajian ini.

Cerpen Helikopter (1988) menceritakan seorang tokoh utama bernama Saleh. Saleh memiliki perubahan sifat atau karakter—dari sederhana menjadi pamer kemewahan. Hal itu dilakukannya karena bentuk kritiknya terhadap orang-orang yang sudah melupakan kesederhanaan. Di saat orang-orang di sekelilingnya berduyun-duyun membeli mobil Baby Benz, Saleh malah membeli helikopter Blue Thunder yang menjadi kendaraanya sehari-hari. Saleh dengan sengaja selalu menyalakan baling-baling helikoternya di atap rumah sebagai bentuk ‘protes’ dan sindirannya pada orang-orang yang memamerkan kemewahan. Saleh juga menyewa pilot pribadi bernama Chuck. Ia akan mengendarai helikopter milik Saleh kemana pun Saleh minta. Maka, dengan sombongnya Saleh terus bertengger di atas helikopter saat berada di jalanan kota, bahkan hanya sekedar membeli rokok. Saleh terus memamerkan helikopternya hingga keluar kota dan melakukan perjalanan jauh bersama pilot pribadinya. Namun, karena kehabisan bahan bakar, pesawat itu jatuh di suatu tempat yang berisi binatang-binatang di zaman purba.

Cerpen Helikopter karya Seno Gumira Ajidarma ini menjadi layak untuk dijadikan kajian sebagai upaya penemuan cara pandang lain dalam memandang tokoh utama yang memiliki transformasi identitas. Topik yang akan dibahas dalam kajian ini yaitu konstruksi identitas diri pada tokoh utama sebagai represeptasi masyarkat urban.

Berdasarkan pendahuluan yang telah diuraikan di atas, kajian ini akan mengangkat rumusan masalah tentang bagaimana pengaruh ruang urban tercermin dalam pembentukan identitas pada tokoh utama dalam cerpen Helikopter karya Seno Gumira Ajidarma. Rumusan masalah tersebut kemudian diuraikan dalam dua pertanyaan penelitian yaitu.

  • Bagaimana hubungan tokoh utama dengan kondisi sosial dalam cerpen dapat mentransformasikan identitas diri?
  • Bagaimana konteks ruang urban menghadirkan gambaran kritik terhadap masyarakat konsumerisme dalam cerpen?

Dalam menganalisis representasi masyarakat urban atau perkotaan, kajian ini merujuk pada konsep Raymond Williams dalam bukunya  The Country and The City (1973). Elemen pemikirannya adalah tantang realitas kota yang memusatkan proses sosial dan ekonomi yang nyata dari seluruh masyarakat, maka suatu titik dapat dicapai di mana keteraturan dan kemegahannya tetapi juga penipuan dan kemewahannya (Willliams, 1973: 51). Selain menyoroti tentang masalah perkotaan, Williams juga menyoroti pedesaan dan proses eksploitatif yang dialamu desa. Selain itu, pendekatan sosiologi sastra juga digunakan untuk melihat kondisi sosial, pengaruh-pengaruh terbentuknya identitas pada tokoh utama seperti kuasa dan kelas-kelas sosial.

Tujuan kajian ini adalah untuk membuktikan adanya kontruksi identitas diri pada tokoh utama akibat kondisi sosial sebagai identifikasi peran ruang urban. Selain itu, tulisan ini bertujuan melengkapi kajian karya-karya Seno Gumira Ajidarma dalam pendekatan sastra urban dan sosiologi sastra sehingga memberikan pemaknaan berbeda dan menambah kepustakaan sastra Indonesia kontemporer.

PEMBAHASAN

Hubungan Tokoh Utama dengan Kondisi Sosial: Transformasi Identitas

Relasi manusia dan kondisi sosialnya sering kali digambarakan melalui konsepsi cara bersikap dan bertindak. Identitas pada diri sering kali dipengaruhi oleh sosial-budaya. Jenkins (2004) menyebutkan identitas adalah kapasitas manusia yang berakar pada bahasa, ini melibatkan mengetahui siapa kita, mengetahui siapa orang lain, mereka mengetahui siapa kita, kita mengetahui siapa mereka pikir kita, dan seterusnya. Klasifikasi multidimensi atau pemetaan dunia manusia tempat kita di dalamnya, sebagai individu dan sebagai anggota kolektivitas  (Jenkins, 2004: 5). Sejalan dengan konsep identitas yang dituturkan oleh Jenkins, identitas pada tokoh utama dalam cerpen Helikopter yang bernama Saleh ini adalah identitas protagonis dan dikenal sederhana oleh sosialnya. Akan tetapi, konflik-konflik sosial yang melingkupinya menjadikan Saleh melakukan konstruksi dalam dirinya. Identitas yang dikonstruksi ini sering dikaitkan dengan atribut atau label yang disematkan kepada seseorang akibat adanya ketimpangan sosial yang dirasakan Saleh.

Padahal, tadinya, Saleh orang paling sederhana di kota itu, la memang kaya raya, tapi sangat sederhana. Orang-orang menganggapnya sebagai teladan, panutan, dan semacamnya. Banyak orang sering mengutip kata-katanya. Mereka merasa, semua orang boleh bejat, asal jangan Saleh. Ia menjadi tonggak, supaya tidak runtuh. Ia menjadi contoh, bahwa perjuangan dan kerja keras hanya layak untuk membangun dunia, bukan menumpuk kekayaan bagi diri sendiri. (Ajidarma, 2014: 331-332)

Masih terngiang di telinga mereka, dulu Saleh selalu menganjurkan hal-hal baik. Saleh selalu menganjurkan pegawainya supaya lebih prihatin. Perusahaan memang maju, tapi banyak orang lain membutuhkan pertolongan. Banyak orang lain tidak punya kesempatan menolong dirinya sendiri. Semua itu memprihatinkan. Kita harus punya tenggang rasa. Rezeki kita adalah bagian dari pen deritaan orang lain. Jangan menghalalkan hasil perjuangan sendiri. Jangan mentang-mentang punya kesempatan dan nasib baik. (Ajidarma, 2020: 332-333)

Kutipan di atas menunjukkan pembicaraan masyarakat dan karyawan yang tidak mengira Saleh akan melakukan tindakan konsumtif dengan membeli helikopter. Saleh semula digambarkan sebagai tokoh protagonis kemudian bergeser menjadi tokoh antagonis. Pergeseran ini dimaknai sebagai konstuksi identitas. Identitas Saleh mengalami transformasi seiring dengan kondisi sosial dalam ruang urban membuatnya merasa teralienasitapu dalam konsepsi yang ambivalensi, seperti dalam kutipan berikut.

Ketika sembilan dari sepuluh tetangganya beramal ramai membeli mobil baby benz, lelaki bernama saleh itu menjadi panas.

“Keterlaluan sekali,” katanya, “rupa-rupanya orang sudah tidak memedulikan nilai-nilai luhur warisan nenek moyang. Semua orang sudah gila. Semua orang sudah tidak malu-malu lagi pamer kemewahan. Rupa-rupanya kesederhanaan sudah tidak dianggap penting. Tidak ada solidaritas sosial sama sekali. Terlalu!”

Lantas, dibelinya sebuah helikopter Blue Thunder (Ajidarma, 2014: 328).

Kutipan di atas menunjukkan Saleh yang melakukan kritik kepada tetangganya, akan tetapi di saat yang bersamaan ia membeli helikopter yang tentu harganya jauh lebih mahal. Keterbelahan atau ambivalensi ini terlihat dalam diri Saleh sebagai sebuah upayanya melawan namun dengan cara yang tidak praktis. Fuller (2014) dalam bukunya berjudul Sastra dan Politik: Membaca Karya-karya Seno Gumira Ajidarma menyebutkan cerita ini memiliki ciri tokoh paradoks dan bertindak di luar kebiasaaan. Perubahan karakter dari hubungan sebab-akibat merupakan sebuah cara baru untuk mempertimbangkan suatu cara di mana mereka berinteraksi dengan keadaaan. Melalui keterlibatannya dalam mengkritik orang lain, perilaku Saleh cocok dengan ironi kritik sosial posmodern (Fuller, 2011: 83-84).

“Kita tidak usah ragu-ragu memamerkan kekayaan, selama itu memang hasil keringat kita sendiri,” ia berkata pada seorang wartawan, yang mewawancarainya untuk rubrik Dari Mulut ke Mulut. “Kita sudah terlalu capek jadi orang yang selalu mengalah. Godaan terlalu kuat. Bayangkan saja. Hampir semua orang mengendarai Baby Benz! Untuk apa? Kalau cuma untuk transportasi, tidak perlu Baby Benz toh? Isinya juga cuma muat empat orang! Ini pasti perkara gengsi! Dan kalau orang mempertaruhkan gengsinya pada sebuah mobil Baby Benz kasihan sekali. Masyarakat kita sedang berada dalam keadaan yang gawat.”

“Tapi, kenapa Anda sendiri membeli helikopter, ken daraan paling mahal di kota ini?”

“Karena kesederhanaan memang sudah tidak penting. Kesederhanaan sudah terlalu mewah. Kesederhanaan ter nyata lebih mewah dari kemewahan itu sendiri. Jujur sajalah, semua orang ingin dirinya kelihatan hebat. Coba lihat, kamera Anda sendiri juga Hasselblad. Padahal ini cuma untuk rubrik gosip. Ya, kan?” (Ajidarma, 2014: 329)

Kutipan di atas menunjukkan Ajidarma melalui tokoh Saleh menitipkan konsepsi ironi dalam penggunaan barang-barang bermerek. Hal ini sejalan dengan konsep yang digagas Williams (1973) yang menyebutkan dalam lanskap kota biasanya memusatkan proses sosial dan ekonomi yang nyata dari seluruh masyarakat, maka suatu titik dapat dicapai di mana keteraturan dan kemegahannya. Akan tetapi ada juga penipuan dan kemewahannya (Williams, 1973: 51). Konsep tersebut sejalan dengan kritik yang dihadirkan dalam cerpen ini melalui penokohan Saleh yang melihat bahwa masyarakat membeli Baby Benz hanya untuk fungsi gengsi dan nilai tanda, begitupula kamera mewah yang digunakan oleh wartawan padahal hanya untuk rubrik gosip.

Identitas pada diri Saleh tidak hanya terjadi akibat kondisi sosial, tetapi juga oleh persoalan persoalan Saleh yang sebenarnya berasal dari desa atau proses urbanisasi. Yoesoef (2020) menyebutkan identitas pada dasarnya berbicara mengenai kepemilikan tentang apa yang secara umum dimiliki atau dilekatkan kepada seseorang. Di dalam persoalan identitas itu tercakup juga dengan lokasi, relasi, dan interaksi dengan yang lain. Oleh karena itu, munculnya permasalahan terkait dengan identitas itu berhubungan dengan pertumbuhan masyarakat sebagai konsekuensi adanya migrasi, urbanisasi, dan transmigrasi (Yoesof, 2020: 138). Sejalan dengan itu, konstruksi identitas pada Saleh dimungkinkan karena dirinya adalah bagian dari masyarakat urban yang semula berada di desa dan menjunjung kesederhanaan. Kemudian ketika berada di kota, ia tetap mempertahankannya. Namun, lagi-lagi relasi dengan sosialnya membuatnya merasa kecil dan termarginalkan jika tidak melakukan pembelian barang konsumtif yang sama.

Kelakuan Saleh jadi berita di koran-koran kuning. Neneknya sampai merasa perlu datang dari kampung.

“Saleh cucuku yang saleh, kenapa kamu jadi begini sekarang? Pamer kemewahan tidak kira-kira?”

“Apa salahnya Nek? Ini hasil kerja kerasku sendiri. Aku bukan koruptor. Aku seorang pengusaha.”

“Tapi Saleh, kesombongan dan kemubaziran bertentangan dengan pelajaran agama.”

“Bertentangan dengan ajaran agama? Ha-ha-ha! Kata kan itu kepada para pemilik Baby Benz.” (Ajidarma, 2014: 331).

Saleh tidak hanya sekedar membeli helikopter lalu dijadikannya kendaraan pribadi, Saleh sengaja setiap pagi meminta pilotnya menerbangkan helikopternya untuk melakukan tindakan pamer ke seluruh kota. Dengan sengaja ia meminta pilotnya merendahkan helikopternya untuk menyerempet mobil-mobil, dan untuk tiap baret-baret mobil itu, Saleh melemparkan uang kepada pemiliknya. Kelakuan Saleh itu tersebar ke seluruh kota hingga sampai pada telinga neneknya. Kutipan di atas menunjukkan bahwa nenek Saleh disimbolkan sebagai tameng untuk Saleh kembali pada jati dirinya.

Alangkah lincahnya helikopter itu, terbang miring ke kiri dan ke kanan seperti tarian. Di luar kota, para petani melambaikan tangannya dari sawah-sawah. Mata Saleh mengerjap melihat kerbau menyeret bajak. Waktu kecil ia senang menggembalakan kerbau itu di pandang rumput. la suka duduk di atas punggung kerbau sambil meniup seruling. Alangkah senangnya. Helikopter terus melayang dan melaju. Baling-balingnya berputar dengan megah, sehingga penumpangnya merasa bangga. Mereka sudah tiba di atas laut. Saleh melihat garis panjang gelombang yang putih. Perahu-perahu nelayan dan sesekali ikan terbang yang berloncatan (Ajidarma, 2014: 335).

Kehadiran nenek Saleh dimaknai sebagai upaya Saleh menepi dari hiruk pikuk kota. Saleh meminta pilotnya menerbangkan pesawat untuk melintasi desa dan alam-alam yang hijau. Hal ini disimbolkan sebagai kerinduan Saleh akan kesederhanaan yang ia dapatkan di desa. Williams (1973) menyebutkan tentang masyarakat kota yang merindukan masa lalu yang lebih bahagia. Hal ini juga didasarkan pada gagasan kepolosan yang lain dan terkait: kepolosan pedesaan. Kotras antara desa dengan kota dan istana: di sini alam, di sana keduniawian (Williams, 1973: 46). Pandangan Williams tersebut nampaknya selaras dengan apa yang dirasakan Saleh—kerinduan pada kesederhanaan—dengan simbolisasi membawa helikopter masuk ke alam pedesaan. Dengan demikian, konstruksi identitas pada diri Saleh ini dimaknai mengalami ambivalensi yaitu keterbelahan antara mengikuti budaya konsumtif di perkotaan atau kembali kepada kesederhanaan.

Ruang Urban dan Kritik terhadap Masyarakat Konsumtif

Saidi (2013) menyebutkan istilah urban memang telah dikenal umum, yang diartikan sebagai hal yang berkaitan dengan perkotaan. Manusia urban adalah manusia pendatang dan kemudian menetap di perkotaan, umumnya kota besar (Saidi, 2013: 5). Kota-kota besar ini kemudian menampilkan berbagai isu yang erat kaitannya dengan persoalan diskriminasi, marginalisasi, kelas-kelas sosial hingga budaya konsumtif.

Baudrillard (dalam Martono, 2021) menyebutkan dalam kegiatan konsumsi hubungan antara manusia dengan objek konsumsi, hubungan manusia dengan dirinya sendiri dipalsukan, dikelabui, dimanipulasi. Rasionalitas konsumsi dalam sistem masyarakat konsumsi telah jauh berubah, karena saat ini masyarakat membeli barang bukan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan (needs), namun lebih sebagai pemenuhan hasrat (desire) (Martono, 2021: 95).

Persoalan konsumtif ini juga turut dihadirkan dalam konteks ruang urban di dalam cerpen. Cerpen sebagai bagian dari karya sastra menampilkan representasi keadaan pada masa itu. Damono (2020) menyebutkan bahwa sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium; bahasa adalah ciptaan masyarakat. Sastra menampilkan gambaran kehidupan; dan kehidupan tak lain adalah suatu kenyataan sosial.

Sejalan dengan konsep Damono tersebut, cerpen Helikopter ini terbit pada era 80-an yang ditandai dengan masuknya mobil mewah salah satunya Baby Benz. Ajidarma memasukkan konteks tersebut ke dalam cerita sebagai upayanya dalam menampikan kritik melalui representasi ruang urban dalam cerpen.

Setiap pagi dengan gagahnya helikopter itu meng angkasa. Ia telah menyewa penerbang jempolan Chuck Yeager. Dengan dagu naik ke atas diliriknya deretan Baby Benz di jalanan. Beratus-ratus, beribu-ribu bahkan berpuluh-puluh ribu Baby Benz mengalir seperti anak sungai di sepanjang jalan. Yang merah berkumpul dengan yang merah, yang hitam bergabung dengan yang hitam, yang putih sambung-menyambung dengan yang putih. Saleh tersenyum.

“Lihatlah Chuck, inilah masyarakat kami, masyarakat adil makmur gemah ripah loh jinawi.”

“Gemaripa what? What’s that? I don’t understand.” “Ah, bego juga kamu. Artinya, we are very rich!”

“What? Are you kidding? Rich? Do you think your country is rich?” (Ajidarma, 2014: 330).

Kutipan di atas menujukkan hadirnya lanskap urban juga turut membawa budaya konsumtif yang besar-besaran: berpuluh-puluh ribu Baby Benz. Bayangkan saja mobil ini digambarkan dalam cerpen memenuhi kota Jakarta. Ajidarma (2015) dalam bukunya Obrolan Urban: Tiada Ojek di Paris menyebutkan dunia Jakarta adalah dunia mobil dan kemacetan. Tidak bisa tidak, manusia Jakarta harus berurusan dengan dua perkara itu. Demikianlah pertumbuhan Jakarta melahirkan mobil-mobil dan orang bermobil, dan hasilnya adalah sebuah dunia yang macet oleh pertumbuhannya sendiri (Ajidarma, 2015: 22).

Persoalan mobil sejak tahun 80-an pada konteks cerpen ini tetap dikukuhkan pada masa kontemporer sejalan dengan pandangannya Ajidarma. Kepemilikan mobil ini kemudian dipuji oleh Saleh dengan nada satir. Tak hanya Saleh, Chuck selaku pilot dalam kutipan di atas memberikan pertanyaan besar tentang kepemilikan mobil apakah serta merta membuat Saleh berpikir kotanya kaya? Ini menjadi nada kritik yang disisipkan oleh penulis.

“Untuk apa semua kemajuan ini ya Allah, jika kami masih sama dengan binatang purbakala?! Kami memang rakus! Kami memang memikirkan perut kami sendiri! Tapi kami, kan manusia?! Kamu menyindir aku ya Allah? Aku tersinggung! Aku ter…”

“Mister! Bahan bakar habis! Kita jatuh!”

Baling-baling helikopter berhenti. Blue Thunder meluncur ke bawah. Tak terdengar bunyi mesin. Sunyi. Hanya terdengar teriakan Saleh.

“Tuhan! Ternyata kita masih hidup di zaman purbaaa!!” (Ajidarma, 2014: 339).

Alur pada cerpen ini kemudian bergerak saat Saleh dan Chuck terus terbang jauh melintasi hutan-hutan. Seperti yang ditunjukkan dalam kutipan di atas, Ajidarma membawa cerita sampai pada mode flashback yaitu zaman purbakala. Hal ini dimaknai sebagai ironi bahwa kerakusan yang digambarkan para binatang zaman purbakala masih dikukuhkan oleh manusia-manusia zaman sekarang. Dengan demikian, cerpen ini melalui representasi ruang urban justru menghadirkan kritik terhadap perlakuan konsumerisme yang dilakukan masyarakat urban terutama melalui penokohan Saleh.

SIMPULAN

Kajian pada cerpen Helikopter ini mengeksplorasi konstruksi identitas diri tokoh utama disebabkan oleh kondisi sosial. Pada cerpen ini hadirnya transformasi identitas pada tokoh utama akibat konstruksi identitas yang dipengaruhi oleh kondisi-kondisi sosial dalam ruang urban. Selain itu, cerpen mampu menghadirkan gambaran kritik terhadap masyarakat konsumerisme. Tokoh utama dalam cerpen ini mengalami konstruksi identitas dalam bentuk ambivalensi dan ironi. Cerpen Helikopter karya Seno Gumira Ajidarma ini adalah representasi kritis permasalahan ruang urban yang terkait budaya konsumtif yang dilanggengkan tokoh-tokohnya dalam cerita. Tokoh Saleh meskipun demikian mengalami ambivalensi, tapi alur cerita membawa cerpen kepada zaman purbakala. Kesadaran Saleh dimaknai terlambat, hal ini mengindikasikan tindakan konsumtif yang berlebihan hanya akan membawa pada kerakusan dan kemiskinan.

DAFTAR REFERENSI

Ajidarma, Seno Gumira. (2015). Obrolan Urban: Tiada Ojek di Paris. Bandung: Mizan Pustaka.

Ajidarma, Seno Gumira. (2014). Senja dan Cinta yang Berdarah. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Damono, Sapardi Djoko. 2020. Sosiologi Sastra. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Fuller, Andy. (2011). Sastra dan Politik: Membaca Karya-karya Seno Gumira Ajidarma. Yogyakarta: Insist Press.

Jenkins, R. (2004). Social Identity Third edition. New York: Routledge.

Martono, Nanang. (2021). Sosiologi Perubahan Sosial: Perspektif Klasik, Modern, Posmodern, dan Poskolonial. Depok: Rajawali Press

Pasaribu, Yannes Martinus. (2020). Kota dan Budaya Urban. Conference Paper: Dialog Budaya Nasional.

Saidi, Acep Iwan. (2013). Sastra Indonesia Modern Dan Manusia Urban. Jentera. Vol 2, No 1.  

Williams, Raymond. (1973). The Country And The City. New York: Oxford University Press

Yoesof, M. (2020 ). Identitas dan Stigma Sosial dalam Cerpen “Bila Jebris Ada di Rumah Kami” Karya Ahmad Tohari. Diksi. Vol 28, No 2 .