Sebuah Cerpen

Suara denting peralatan masak di dapur sering kali memberikan semangat bagiku untuk segera menyelesaikan tugas kampus yang sedari malam belum juga selesai. Aroma masakan segera memenuhi ruangan diiringi tembang selawat nabi yang dilirihkan ambu makin membuat lidahku berselera. Membayangkan betapa lezatnya masakan ambu—yang kutahu ambu sangat pintar memanjakan kami dengan makanannya yang tidak bisa dibeli di restoran terkenal sekalipun. Lezat amat lezat bagai tidak ada lagi yang lebih lezat selain masakan ambu.
Abah pernah bercerita bahwa sejak muda dulu, ambu bukan saja pandai memasak, ia juga pandai meramu segala jenis rempah-rempah menjadi bumbu untuk kemudian dijadikan resep baru. Aku membayangkan, betapa ambu sangat anggun waktu mudanya dulu, seperti saat sekarang, masih saja anggun. Ya, bisa memasak makanan enak adalah sebuah keanggunan bagi wanita, menurutku. Tapi, setelah kusampaikan hal itu kepada ambu, keningnya hanya berkerut sedikit lantas langsung tersenyum sambil terus membalurkan minyak kelapa murni ke rambut hitam panjangku, tentu mulutnya tak henti-hentinya selawat, lirih, nyaris berbisik.
Itulah ambu, ia tak pernah langsung menjawab dengan jelas. Ambu hanya tersenyum, lalu biasanya di saat yang tepat—saat aku santai, ia akan menjelaskan segala hal yang menurutnya perlu diluruskan dan aku, anak satu-satunya, perlu tahu.
“Memasak adalah bentuk syukur ambu karena melihatmu tumbuh sehat juga melihat abah selalu tertawa sesaat setalah selesai menyesap kuah angeun lada” kata ambu sambil sedikit tertawa, wajahnya bersemu merah.
Abah memang penggila masakan ambu nomor satu, acap kali selesai memakan masakan ambu, abah langsung tertawa, yang kemudian langsung merengkuh kalimat alhamdulillah, lalu mendoakan segala kebaikan untuk ambu sebagai rasa terima kasih.
Kemudian ambu melanjutkan pembicaraanya dengan lebih serius, aku yang sedang bermain gawai, langsung meletakkannya dan menatap lurus wajah ambu, “Lalu ambu?” tanyaku.
“Jadi, bentuk syukur itu bisa diupayakan dalam bentuk apa saja. Bisa jadi dengan belajar sungguh-sungguh, menjadi wanita karier, menjadi ibu yang memiliki anak-anak yang saleh dan salehah, atau tidak menjadi siapa-siapa pun, tak masalah. Bisa juga dengan memasak seperti ambu. Wanita adalah salah satu simbol kemuliaan agama kita, ia dimuliakan.”
Aku terdiam, mengingat-ingat abah juga pernah membahas ini. Abah dan ambu memang sosok orang tua yang rupawan bagiku. Mereka tidak pernah mengatakan, ‘dengarkan ambu!’, atau ‘dengarkan abah!’ yang selalu dikatakan, ‘ayo diskusi!’ yang justru ini membuatku mau mendengar—katanya, seusiaku ini sulit mendengarkan pembicaraan orang tua, karena darah muda sedang membara. Rupanya mereka lebih keren dalam ‘menguasaiku.’
Abah pernah mengatakan, begini kira-kira kalimatnya “Tentang kemuliaan wanita, Rasulullah pernah mengatakan agar berbuat baik kepada para perempuan. Atau yang sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya. Istri yang salehah adalah perhiasan dunia”
“Rasulullah pernah ditanya siapakah orang yang seharusnya aku berbakti pertama kali? Nabi menjawab dengan ucapan ibumu sampai diulang tiga kali, baru kemudian yang ke empat nabi mengatakan ayahmu”
Saat itu aku hanya termangu, tapi saat ini di hadapan ambu aku bertanya sebagai sesama wanita.
“Ambu apakah wanita bebas memilih hidupnya? Apakah perempuan boleh tidak memasak? Boleh ‘kan perempuan tidak bisa memasak?” Aku membrondong ambu dengan pertanyaan yang bikin ambu terkekeh.
Kulihat ambu mengambil napas panjang, lalu sekali tarikan napas ia hembuskan dengan kalimat selawat. Seperti selawat sudah jadi bagian dari gerak-gerik ambu, aku memang harus menjadi perempuan seperti ambu, tapi dalam memasak, aku masih sangsi.
Sebelum sempat ambu menjawab, aku menyela “Tapi ambu, aku hanya suka makan, tidak suka memasak, kecuali lihat ambu memasak, aku suka” kataku terkekeh. Khawatir ambu tidak memasak lagi dan aku kehilangan makanan lezat itu, gerutuku dalam hati.
Ambu tertawa, lalu sejurus kemudian ia berkata amat pelan,”Rasulullah pernah menyuruh umatnya memasak tidak?”
Aku tidak bisa menjawab dan ambu membiarkan pertanyaannya itu menggantung tanpa ada jawaban sebelum akhirnya aku memahami saat muludan tiba.
Kami tiba pada perayaan—sebagai bentuk kecintaan pada baginda nabi. Muludan kali ini bertepatan dengan hari libur, maka dengan cepat aku yang tinggal di kota karena harus kuliah dan tinggal di indekos, buru-buru berkemas untuk pulang ke desa. Hanya satu yang berputar-putar dalam benakku: masakan ambu!
***
Muludan berarti kebahagiaan bagi desa kami. Desa kami jadi meriah, di masjid-masjid bergema lantunan selawat, di jalanan semua orang bersuka cita. Bahkan daun-daun hijau berselawat—menjadi bukti Kanjeng Nabi adalah pelipur lara dan pembawa rahmat Allah.
Pada muludan juga, kami akan menjumpai orang berlalu-lalang nganteuran ke setiap tatangga lalu kemudian oko kami diisi kembali dengan makanan.
Di sepanjang perjalanan, aku membayangkan kentang balado buatan ambu, dipadukan dengan hati ayam dan juga sedikit petai. Opor ayam berlumur bawang goreng di atasnya atau oreg kacang panjang atau tempe yang sudah dibaluri bumbu kunyit atau bandeng bumbu kuning, pokoknya membayangkan makanan membuatku bahagia. Lidahku berderai, perutku keroncongan.
Benar saja, saat tiba di pintu rumah, ambu dengan tembang selawatnya masih asyik memasukkan minyak ke dalam sohun dibaluri kecap. Sementara bumbu sedang digoreng di wajan yang harumnya menguar ke segala penjuru. Masakan ini bernama ase berkali-kali jika ada perayaan besar ambu sering memasaknya.
Ah aku jadi teringat pertanyaan ambu tentang Rasulullah pernahkan menyuruh umatnya memasak? Ambu belum juga memberikan jawaban. Tapi kenapa aku harus anti memasak? Bukankah ketika mengingat makanan ambu, aku bahagia? Maka, pada muludan kali itu, aku putuskan membantu ambu memasak di dapur.
“Ambu kenapa tidak pernah memintaku membantu ambu memasak?” tanyaku di sela-sela memotong wortel.
“Karena memasak itu harus tulus, nanti kalau terpaksa, makanannya jadi tidak enak lho” jawab ambu santai sambil menuangkan opor ayam ke mangkok besar.
“Aku kan sibuk kuliah, ambu” jawabku membela sambil sedikit terkekeh.
Ambu tertawa sambil menghampiriku, “Nanti kamu bisa masak dengan sendirinya kok. Ini ilmu katon”
Aku mengangguk-angguk sambil terus memperhatikan ambu melanjutkan masaknya, tiap kali ambu menggoreng, memasukan garam, memasukan gula, membuat gulai, ambu tak lepas dari selawat. Apakah mungkin ini yang menjadikan masakan ambu lezat tiada banding?
Maka, aku pun berselawat saat memotong kentang, awalnya biasa saja, tapi lama-lama aku jadi keranjingan memotong-motong sayuran yang ada di dapur. Kemudian ambu mulai memintaku membantunya menggoreng tempe dan tahu, tentunya sambil berselawat, aku menikmatinya sebagai ‘prosesi’ yang sakral.
Dalam citraan imajinerku, aku seperti mendengar bunyi letupan minyak adalah selawat. Tempe saling bercengkrama dengan tahu, juga kentang yang siap dibumbui ikut menimpali.
“Akhirnya tiba juga saat kita dimakan oleh manusia, aku bersyukur momen itu terjadi saat peringatan lahirnya Kanjeng Nabi”ucap tempe dengan nada ceria.
Tahu tak kalah semangatnya,”aku akan mengeluarkan rasa terbaik di dalam tubuhku agar manusia saleh dan salehah yang menemukanku bisa mengucap syukur berlebih”
“Hei tunggu! Tunggu aku, aku masih belum mendapat bumbu yang tepat untuk badanku. Tapi ukuran potongan kentang ini sangat proporsional! Aku juga pasti disukai oleh manusia” teriak kentang dalam wadah pendinginan.
Opor ayam yang sudah berada di mangkok yang terdiri dari beberapa potong dada dan paha ayam tak kalah hebohnya, “lihat dagingku tebal, di antara organku yang lain, aku yang istimewa kerana akan dibagikan ke tetangga dan bale, ayo kentang, kami tunggu kamu bersiap-siap!”
Kentang mengangguk semangat, lalu menatapku dengan cantiknya.
Seketika itu aku meminta ambu untuk segera menggoreng bumbu balado kentang.
Aku melongo, pandanganku jauh pada perkaataan ambu tentang memasak adalah ekspresi rasa syukur.
Mensyukuri bahwa tempe sebelum sampai ke penggorengan ini hanyalah sebuah kacang yang kemudian diberi ragi lalu ditunggu sampai matang hingga tumbuh jamur baik. Selawat menjadikan kegiatan masak jadi penuh syukur. Benar kata ambu!
“Ambu kenapa setiap masak selalu berselawat?” tanyaku saat mulai mengangkat tempe dari penggorengan.
“Biar makananya berkah, berpahala, abah suka, kamu sehat. Selawat itu kan memohon kepada Allah untuk memberikan rahmat-Nya kepada nabi Muhammad saw dan keluargnya. Kata Rasulullallah kalau kita berselawat, malaikat akan medoakan keselamatan bagi kita. Mendatangkan karunia Allah” ucap ambu yang sekarang mulai menyiuk nasi ke dalam wadah.
***
Menjelang siang hari, semua makanan sudah terhidang di meja makan. Jangan tanya aku sudah habis berapa piring. Aku benar-benar bahagia saat muludan, makanan lezat, belum lagi nanti ditambah oko dari tetangga dan bale. Mataku berbinar-binar membayangkannya. Abah yang sedari tadi membantu ambu mengemasi oko juga terlihat ceria. Sedangkan aku, kelelahan membantu ambu memasak. Payah!
“Nak, bawakan oko ini ke tetangga rumah nomor 3 ya, untuk tetangga lain ambu dan abah yang mengantarkan” pinta ambu sambil terus menata oko untuk dibawa ke bale menjelang magrib nanti.
Aku mengangguk dan segera bergegas bersiap-siap mengantarkan oko ketika tiba-tiba dua tetangga sekaligus datang menyeruak mengantarkan oko rumahku.
Aku melihat isi oko yang diantarkan tetangga terdiri dari daging kerbau, sapi, ikan bandeng, sambal ati ampela, dan masih banyak lagi yang membuat lidahku kembali bergoyang. Ambu membalas isi oko dua tetangga itu tak kalah banyaknya, bahkan ambu memberikan kue-kue yang sempat ambu buat semalam seperti papais, apem, jojorong, dan pasung.
Setelah melihat pertukaran oko itu, aku kembali bergegas mengayun langkahku menuju tetangga dengan rumah nomor 3. Di sepanjang jalan aku berselawat sambil sesekali memandang senang ke arah kentang balado dalam rantang bening ini, kentang balado lezat itu terlihat melambai ke arahku.
Tak seperti rumah tetangga lain, rumah ini terlihat sepi, tidak tercium juga bau aroma masakan. Maka kuketuk perlahan, saat dibuka kusodorkan oko berisi makanan penuh. Terlihat wajah tetangga dengan rumah nomor 3 ini terlihat bingung, bagai hari ini dilanda kegusaran yang paling besar.
“Kami hanya bisa memberikan ini, kami tidak masak untuk muludan. Sampaikan maaf pada ambu” kata tetangga dengan rumah nomor 3 itu sambil menunduk.
“Hmmm, maaf, kata ambu, oko ini tidak usah diisi lagi. Ambu juga berlaku begitu kepada tetangga yang lain” ucapku pelan setelah mengerti maksud ucapan ambu sewaktu sebelum aku mengantarkan oko ini ke tetangga dengan rumah nomor 3.
“Ah baik sekali ambumu itu, Nak. Tapi tidak apa-apa, kami juga ingin mendapatkan syafaat dari Rasul dengan cara mengirimkan sedikit makanan ini untuk ambumu.” ucap tetangga dengan rumah nomor 3 itu tersenyum lemah.
Aku mengangguk dan kembali ke rumahku. Aku ingat tadi sebelum mengantarkan oko ke tetangga dengan rumah nomor 3 ini, ambu berpesan agar aku mengatakan hal itu, tapi bila tetangga dengan rumah nomor 3 itu terlanjur memberikan isi oko, maka aku harus menerimanya.
“Kenapa harus diterima, ambu? ‘Kan kasian mereka, siapa tahu mereka hanya punya mie instan ini di rumahnya” ucapku lirih.
“Anak ambu memang lembut hatinya ya” ambu mengelus rambutku, “Tapi Nak, mereka adalah tangan-tangan yang diberkahi Allah, dalam kesuliatanya pun mereka bersedekah, ambu senang sekali mendapatkan doa dari tetangga kita itu melalui mie instan ini”
“Berbuat baik kepada tetangga ada loh perintahnya. Rasulullah pernah mengatakan jika kita memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikan tetanggamu maka berikanlah kepada mereka dengan baik” jelas ambu.
Aku masih diam mendengarkan.
“Jadi, perintah berbuat baik kepada tetangga misalnya memberi atau berbagi itu adalah kebaikan yang pahalanya besar. Saat memberi, jangan memberatkan. Maksudnya orang yang kita beri seperti diminta wajib membalasnya, lebih baik dicari solusi lain. Nah tetangga kita dengan rumah nomor 3 itu memberikan solusi yaitu memberikan mie instan yang terbaik yang ia punya”
“Lantas ambu, boleh jadi nganteran oko ini tradisi yang memberatkan?” tanyaku masih penasaran, karena teringat tadi dua tetangga yang datang ke rumahku membawa oko, ketika ambu akan mengisi oko mereka—tampaknya mereka menyindir-nyindir ambu untuk diisikan makanan yang sama banyaknya termasuk kue buatan ambu. Padahal aku yakin, ambu pasti memberikan isi oko yang terbaik.
Ambu seperti bisa menebak jalan pikiranku langsung menimpali, “Hayo mikirin tetangga yang datang tadi ya?” tanya ambu terkekeh. Aku hanya tertawa.
“Semua tradisi membawa berkah tersendiri, tapi tidak kaku. Yang penting cinta kita tertuju ke Kanjeng Nabi itu utuh. Tradisi ini adalah bentuk syukurnya saja” ucap ambu.
Aku termenung, betapa banyak pelajaran yang bisa didapat dari muludan ini. Aku melihat jalanan penuh tawa sukacita. Orang-orang berlarian ke bale untuk selawat bersama. Ya Rasulullah, selepas kau tiada pun, kebahagiaan masih kau pendarkan.
***
Seperti tradisi muludan di kota-kota lain, di desa kami pun diadakan ceramah muludan yang membahas tentang sirah nabawiah, keteladanan dan segala hal tentang Rasulullah. Menjelang magrib sampai nanti isya, abah ke bale untuk ngariung oko. Kemudian selepas isya kembali ke rumah untuk makan bersama lantas kembali ke bale untuk menyimak ceramah hingga tengah malam nanti.
Saat kembali dari bale selepas isya, abah membawa tiga oko. Aku berbinar melihatnya. Tiga oko itu isinya beragam. Malam ini penuh kebahagiaan.
Kudengar pula para tetangga di samping rumah riuh tertawa sambil menikmati oko, makanan yang lezat membawa banyak kebahagiaan. Muludan ini memang berkah. Selawat bagimu ya Rasulullah, lirihku.
Demikian menyoal memasak itu masih menjadi tanda tanya besar bagiku. Memasak adalah prosesi yang menyenangkan. Dari memasak dihasilkan makanan. Makanan membuat orang menjadi tertawa, menjalin kebersamaan, apa yang salah dengan memasak? Aku bertanya pada diriku sendiri.
Ketika aku sedang termenung, ambu datang membawa sepiring makanan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Ini namanya bola-bola mie, ayo dicoba” ucap ambu menyodorkan berisi makanan yang menggiurkan. Aku segera melahapnya dan mataku kembali berbinar, “ini enak sekali ambu” kataku tertawa bahagia.
“Bahan dasarnya hanya mie, pemberian dari tetangga kita yang sudah mendoakan kita itu” ucap ambu sambil menuangkan saus ke mangkuk.
Mataku terbelalak, “Kok? Kok bisa jadi makanan seperti ini ambu?” tanyaku sambil terus mengunyah.
“Bisa dong. Tambahkan terigu, telur, daun bawang, kaldu jamur lalu gorengnya di cetakan wajan. Jadilah ini bola-bola mie” ucap ambu.
Aku kembali takjub dengan kehebatan ambu meracik segala jenis masakan menjadi lebih enak dan berbeda.
“Jadi Nak, memasak itu proses bersyukur kita. Ambu yakin memasak itu alamiah, keahlian dasar, semua pasti bisa. Kita dapat mie dari tetangga, ambu senang sekali, ambu langsung terpikir memasaknya menjadi bola-bola mie instan, agar kita sekeluarga bisa mendoakan kembali kebaikan tetangga dengan rumah nomor 3 itu atas pemberiannya ini. Lezat kan?” jelas ambu.
Aku menutup mulut, seperti mendapat jawaban atas pertanyaan ambu tempo lalu.
Ambu tersenyum cerah, “Jadi, apakah Rasulullah menyuruh umatnya memasak?” []
Kosakata:
- Ambu: Salah satu panggilan untuk ibu dalam bahasa Sunda
- Abah: Panggilan untuk ayah dalam bahasa Sunda.
- Angeun lada: Angeun berarti sayur dan lada berarti pedas. Makanan berkuah yang terdiri dari babat sapi dan campuran sayur. Biasanya dihidanhkan saat perayaan besar seperti lebaran.
- Muludan: Perayaan Maulid Nabi (di daerah Sunda menyebutnya dengan muludan).
- Nganteuran: Berkunjung mengantar makanan ke keluarga atau tetangga yang dibalas lagi dengan makanan (dalam bahasa Sunda)
- Oko: Oko adalah hidangan makanan yang terdiri dari nasi, lauk, kue-kue, sayuran, tempe tahu, dan lain-lain. Disebut juga berkat (makanan yang dibawa saat pulang kenduri). Oko di daerah sunda biasanya dikemas dalam daun pisang atau kertas nasi saat di bawa ke masjid. Bisa juga dikemas dalam rantang dan piring bila diberikan kepada sanak saudara dan tetangga.
- Soun: Mie kecil-kecil berwarna putih, biasanya ada dalam ketoprak.
- Ase: Mie soun yang dibalur kecap manis tapi gurih sebagai ciri masakan sunda.
- Ilmu katon: Sering disebut oleh para orangtua memasak adalah ilmu katon yaitu bisa dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.
- Papais, apem, jojorong, dan pasung: Makanan pasar khas sunda
Cerpen ini pernah diikutsertakan dalam lomba cipta cerpen cinta Rasul saw. tahun 2020, yang diadakan oleh Diva Press Group dan Basabasi.
