Hibriditas Tokoh Perempuan Kulit Putih: Membaca Resistensi Tokoh Perempuan Pribumi dalam Cerpen Belenggu Emas Karya Iksaka Banu

Foto Buku: Dok.Pribadi

Tulisan ini terfokus pada kajian hibriditas yang diiringi mimikri dan ambivalensi sehingga memunculkan resistensi tokoh perempuan pribumi. Tulisan ini juga menyoroti pertukaran, persilangan, atau tercampurnya antara budaya Barat dan Timur yang tercermin pada tokoh perempuan kulit putih dan tokoh perempuan pribumi dalam cerpen Belenggu Emas karya Iksaka Banu.

Cerpen Belenggu Emas adalah salah satu cerpen yang terdapat dalam kumpulan cerpen Teh dan Pengkhianat karya Iksaka Banu diterbitkan oleh KPG tahun 2019 dan mendapatkan penghargaan Kusala Sastra 2019. Cerpen ini menceritakan tentang berbagai kemajuan, semangat juang, hingga resistensi tokoh perempuan pribumi Minang bernama Roehana Koeddoes melalui fokalisasi tokoh perempuan kulit putih bernama Nellie sebagai tokoh aku dan Nyonya Westenenk yang juga mengalami hibriditas dan ambivalensi.

Tokoh-tokoh perempuan ini dipertemukan dalam satu kegiatan kunjungan Nellie dan Nyonya Westenenk ke Kota Gadang untuk bertukar wawasan dengan Roehana Koeddoes yang pada waktu itu merupakan seorang perempuan pribumi pemilik surat kabar Soenting Melajoe dan pendiri sekolah Amai Setia yang saat itu selalu menjadi pembicaraan para pejabat Belanda. Fenomena ini memungkinkan munculnya ruang ketiga yaitu ruang yang dicapai melalui hibriditas tokoh perempuan kulit putih dan mimikri tokoh pribumi perempuan yang memunculkan resistensi tehadap relasi kuasa Barat kepada Timur.

Konsep yang dapat membantu dalam penemuan hasil penelitian ini adalah teori poskolonial Homi K. Bhaba yaitu hibriditas, mimikri, dan ambivalen yang kemudian memunculkan ruang yang memungkinkan adanya interaksi antara kaum kolonial dan pribumi yang tercermin dalam tokoh-tokoh perempuan baik pribumi maupun kulit putih.

Bhabha menyebutkan dalam bukunya The Location Culture (1994), bahwa hibriditas adalah “the name of this displacement of value from symbol to sign that causes the dominant discourse to split along the axis of its power to be representative, auth oritative. Hybridity is a problematic of colonial representation and individuation that reverses the effects of the colonialist disavowal, so that other ‘denied’ knowledges enter upon the dominant discourse and estrange the basis of its authority its rules of recognition.” (Bhaba, 1994:113-114).

Dalam praktiknya, hibriditas dapat berupa tanda yang menyebabkan wacana dominan terbelah sehingga memungkinkan terwujudnya ambivalensi. Hibriditas juga menjadi sebuah efek penolakan kolonialis sehingga wacana dominan yang muncul adalah percampuran pengetahuan dan budaya.

Tak jauh berbeda dengan rumah-rumah Hindia lain yang biasa dimiliki pejabat bumiputra terpandang, yang kami sambangi ini adalah sebuah bangunan besar dengan empat keping jendela gaya Prancis, masing-masing dua buah di sisi kiri dan kanan, mengapit pintu depan. (Banu, 2019: 104)

Di hadapanku, dekat jendela, berderet buku berbahasa Belanda, Arab, dan Melayu. Tersimpan rapi di dalam sebuah lemari berkaca dengan empat ambalan. Di ujung kanan ada rak pendek, penuh tumpukan koran terbitan dalam dan luar negeri. Sementara di sisi kiri tergantung sebuah potongan kain yang dikerjakan dengan kehalusan menakjubkan. Mungkin itu salah satu contoh tenunan yang dikerjakan di sini. Dan terakhir, di atas meja, tampak terbitan terbaru sebuah koran yang belum lama ini menjadi perbincangan hangat di antara kami. Koran yang nanti akan menjadi bahan pembicaraan kami dengan tuan rumah pagi ini. Benar-benar ruang tamu yang sarat peradaban. Bukan hal aneh menjumpai pemandangan semacam itu di ruang tamu para pejabat Belanda. Tetapi saat ini aku tengah berada di dalam sebuah bangunan yang jauh dari keramaian kota, milik seorang bumiputra. Tepatnya, seorang Wanita bumiputra. (Banu, 2019: 105)

Pada kutipan teks di atas tergambarkan melalui sudut pandang penceritaan tokoh aku sebagai tokoh perempuan kulit putih tentang kemajuan yang dimiliki tokoh pribumi perempuan yaitu Roehana Koeddoes yang dicapai melalui hibriditas. Hibriditas tercermin dalam pemilihan gaya properti rumah kaum bumiputra yang menerapkan perpaduan gaya model Barat dan pada ruangannya berderet buku dalam tiga bahasa namun juga dihiasi sepotong kain tenun yang menggambarkan tercampurnya dua kebudayaan (Barat dan Timur) dalam kehidupan tokoh Roehana Koeddoes. Selain itu, terdapat hibriditas yang diiringi ambivalensi pada tokoh perempuan kulit putih.

Kami tinggal di kawasan Gunung Sahari. Sebuah wilayah dekat pantai. Udara di situ sangat panas dan lembap. Tiada hari tanpa keringat, sehingga aku lebih sering mengenakan kain kebaya dibandingkan pakaian Eropa. Seperti anjuran seorang rekan wanita Papa, aku selalu mengenakan kebaya putih. Selain memantulkan panas, putih adalah warna kebaya kelas atas yang sebaiknya dipilih oleh wanita Eropa bila ingin memakai busana gaya tropis. Aku juga semakin terampil menggulung rambut tinggi-tinggi. Kini leher dan kuduk terbebas dari rasa gatal akibat panas. Setelah kami pindah ke Padang, aku tetap berpenampilan demikian, hanya saja kainnya kuganti motif Minang (Banu, 2019: 111-112)

Penggunaan busana kebaya oleh tokoh Nellie ini mencirikan adanya pencampuran budaya Timur yang masuk pada orang kulit putih, seperti halnya tokoh pribumi Roehana yang terdapat pada gaya dan ruangan rumahnya mengadaptasi model Barat dan Timur. Namun, tokoh Nellie sebagai perempuan kulit putih ini dilarang suaminya bernama Theo untuk mengenakan pakaian pribumi karena dianggapnya merendahkan diri dihadapan para pribumi yang posisinya dianggap inferior. Theo berargurmen bahwa orang Eropa tetap mengenakan pakaian Eropa. Stereotipe Theo selaku Barat ini membuat Nellie mengalami ambivalensi.

“Sejauh yang kuingat, hal itu tidak menurunkan wibawa mereka di depan jongos maupun babu. Di Batavia kemarin, semua warga Belanda juga memakai sarung, kebaya, dan baju takwa. Beberapa pemuda bumiputra terpelajar juga ada yang mengenakan dasi dan pantalon. Engkau tidak merasa terganggu?” (Banu, 2019:113).

Tokoh Nellie yang gemar mengenakan kebaya bahkan sejak tinggal di Singapura ini menentang adanya diskriminasi pakaian dalam dirinya yang dilakukan oleh Theo. Nellie mengalami ambivalensi saat merasa tidak ada larangan bahwa seorang kulit putih memakai kebaya dan ambivalensinya menjurus kepada pembelaan terhadap pribumi. Nellie yang hidup dengan aturan suaminya termasuk gaya berpakaian hingga cara makan merasa perlu melakukan perjalanan bersama Nyonya Westenenk bertemu Roehana Koeddoes untuk belajar menjadi seorang perempuan yang bebas. Secara sadar, Nellie yang seorang tokoh kulit putih belajar pada tokoh perempuan pribumi, hal ini terjadi karena adanya efek mimikri yang dilakukan oleh Roehana Koeddoes.

Bhabha menyebutkan “the effect of mimicry on the authority of colonial discourse is profound and disturbing.” (Bhabha, 1984: 126). Salah satu strategi mimikri adalah pengaruhnya terhadap wacana kolonial yang sangat mendalam dan mengganggu. Keterkaitan konsep mimikri Bhabha ini tercermin pada “kuasa” dan pengetahuan yang miliki tokoh pribumi perempuan. Roehana Koeddoes mampu mempengaruhi Nellie melalui efek mimikrinya.

Aku harus bertemu dengan wanita Minang yang luar biasa ini. Wanita yang telah menjadi ilham banyak orang di Hindia. Yang telah mendirikan sekolah, memberi bekal ketrampilan menenun, menjahit, serta membordir bagi kaumnya, agar tidak semata menggantungkan nafkah dari belas kasihan suami, atau sekadar menjadi perhiasan tak bernyawa. Serta yang paling penting, agar tidak jatuh ke lembah nista, menyewakan tubuh untuk bertahan hidup saat suami mereka meninggal. (Banu, 2019: 115)

Di pintu masuk kulihat wanita yang kuimpikan itu. Berdiri dengan tas rotan tersampir di pundak. Ia lebih pendek dari yang kubayangkan. Bahkan terlihat semakin mungil dengan kain ikat berwarna kesumba di kepalanya. Tetapi aku bisa melihat jelas semangat hidup yang berkobar dari kedua belah matanya. Juga dari kuatnya genggaman saat ia menyambut uluran tanganku serta berkata dengan suara lantang dalam bahasa Belanda yang sangat fasih, “Ik ben Roehana Koeddoes. Welkom op de ambachtsschool genaamd Amai Setia. Van mevrouw Westenenk heb ik vernomen dat u een interessant manuscript over vrouwen heeft voor mijn krant?” (Banu, 2019: 116)

Kutipan-kutipan di atas memperlihatkan tokoh Roohana mengalami mimikri yang tercermin dari penguasaannya terhadap bahasa Belanda juga pendidikannya yang maju sehingga mengundang tokoh perempuan kulit putih termasuk Nellie mengunjunginya.

Roohana menjadi pembicaraan banyak pejabat Belanda di Hindia akibat kemajuan yang dimilikinya seperti mendirikan sekolah, memberi bekal berbagai ketrampilan sehingga banyak menginspirasi kaum pribumi maupun kolonial.

Pada kutipan di atas juga tercermin Roohana yang meskipun lantang dan fasih berbahasa Belanda, ia tetap bergaya dan berpenampilan pribumi seperti berbalut kain pada kepalanya dan mengenakan tas rotan. Roohana mengalami hibriditas dan diiringi dengan mimikri—mengakibatkan tokoh perempuan kulit putih ingin mencari wawasan padanya, hal ini menjadi salah satu strategi membaca resistensi tokoh pribumi perempuan melalui starategi mimikri yang dielaborisakan melalui kemajuan pendidikannya, penguasaan bahasa, dan keterampilan yang dimilikinya serta pemikiran-pemikirannya yang maju, sehingga mampu mengundang tokoh perempuan kulit putih dan sekaligus menciptakan ruang ketiga.

Daftar Referensi

Banu, Iksaka. (2019). Teh dan Pengkhianat. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Bhabha, Homi K.(1994). The Location Of Culture. New York: Routledge.

Bhabha, Homi K. (1984). Of Mimicry and Man: The Ambivalence of Colonial Discourse. The MIT Press, Vol. 28