Pelajaran dari Pemilik Mata Berabjad

Aku bukan petugas pemerintahan, wakil rakyat, atau pengamat selayaknya manusia. Barangkali  aku hanya semut, padi, ikan salmon, yang mengenakan almamaternya sendiri—diciptakan Tuhan untuk meneliti kehidupan di kota Zamrud Khatulistiwa.  

Ikuti kisahnya, jangan kisahku. Puluhan tahun silam, kota ini berkabut. Kota Senja namanya. Itu perumpamaan. Aslinya bernama kota Zamrud Khatulistiwa, kota di tepi Asia. Hutan heterogen, ribuan bakal lauk berserakan, apa pun tumbuh subur di kota ini. Termasuk para manusia berkepala bulan, berkepala matahari, berkepala tumbuhan, bahkan berkepala binatang. Aku bergidik mendengar cerita ini. sekali lagi, ikuti kisahnya, jangan kisahku. Kisah kota ini masih berlanjut hingga kini, kini yang mulai bersaing dengan kota tetangga di Asia. Berlomba, berpeluh keringat, saling menyikut demi eksistensi, katanya. Demi menyambung napas, nyatanya. Perdagangan bebas dan profesi digadang-gadang jadi tujuan buah bertemu akar. 

Barangkali aku semut, padi, ikan salmon yang mengenakan almamaternya sendiri, akan berkelana mengelilingi bilah-bilah kota Zamrud Khatulistiwa. Kota ini maha luas, maha kaya, maha hijau dan maha atas segala Maha Penciptaan-Nya. Aku tersungkur juga di sebuah desa, yang entah ribuan kilometer dari pusat bumi kota Zamrud Khatulistiwa. Desa Pesisir Selatan, namanya. Aku menyelinap di sela-sela bambu rumah milik seorang ibu tua—kurasa dia sudah menjadi nenek. Rumahnya terbuat dari bambu yang apakah ini rumah? 

Ibu tua itu—kurasa dia sudah menjadi nenek, bernama Kenanga. Sewaktu muda ia pasti cantik seperti namanya, pikirku sembari mencatat hasil temuanku itu di binder—untuk laporan ujian semester di almamaterku. Sekali lagi, ikuti kisahnya, jangan kisahku. Kisahnya bisa terlihat dari kacamatanya yang begitu tebal, boleh jadi sejumput saja terlihat tikaman mata yang tertancap duri-duri, ibu tua itu menebasnya dengan abjad yang lahir dari buih-buih mulut tuanya. Aku menerka-nerka, pekerjaan apa yang selama ini ia lakukan, hingga terlihat binar matanya yang penuh dengan abjad dan angka.

“Pagi….. Ibu Kenanga….!!”teriak anak-anak yang entah dari mana asalnya tiba-tiba mengerumuni rumah ibu tua itu. Aku penasaran, maka aku mendekat memasuki rumah itu melalui celah-celah yang tak terlihat. Ibu tua itu tersenyum,”pagi anak-anakku”suara seraknya terdengar berat dan berwibawa.

“Ibu, ajari kami membaca dan berhitung!”teriak salah satu anak yang kutahu namanya Otong. Teriakan Otong langsung disetujui oleh anak-anak lain, yang jumlahnya sembilan orang itu.

“Di sekolah tak ada guru, Bu! Mereka Cuma datang mengisi daftar hadir lalu memberi tugas kepada kami. Kami tidak mengerti tugas ini, ajari kami, Bu!”protes Amelia, gadis berambut panjang itu dengan pipi yang bergelembung menahan kesal. 

Ibu tua itu terlihat bingung, namun ia menyembunyikan kebingungan itu dengan senyuman, “pasti tugasnya pelajaran membuat pantun yah?”tanya ibu tua itu sedikit berseloroh. Anak-anak itu menggelang, “membuat cerita tentang keindahan kota kita, Bu”jawab anak-anak dengan bersemangat. Mendengar jawaban anak-anak itu, seketika ibu tua tertegun. Aku semakin penasaran, siapa sebenarnya ibu tua yang bernama Kenanga ini. Ya, untuk permulaan aku tahu, ia adalah seorang guru. Guru? Apakah semua guru memiliki rumah yang sama. Terbuat dari bambu? Apakah ibu tua yang bernama Kenanga ini adalah guru yang terjamin hidupnya, seperti yang sering diteriakkan Raja dari kota ini. Aku terus mencatat apa pun yang kudapat dari kisah ibu tua ini. Demi nilai laporanku lolos. Sekali lagi, ikuti kisahnya, jangan kisahku.

Ibu tua itu memandang anak-anak di sekelilingnya seraya berkata, “kalian persis seperti ibu dan bapak kalian, murid-muridku dulu yang begitu bersemangat untuk bersekolah”ucapnya lembut, “orangtua kalian adalah murid-muridku yang cerdas, namun sayang keinginannya untuk melanjutkan sekolah terpotong karena alasan biaya”lanjutnya menahan air mata. “Tapi tidak untuk kalian, anak-anakku. Kalian harus bersekolah setinggi mungkin”kata ibu tua sambil mengusap kepala anak-anak itu. Mata ibu tua itu terlihat berair. Aku tahu, ia mati-matian menahan air matanya agar tak jatuh.

“Sekarang, kalian tulis apa yang ingin kalian tulis tentang kota ini. Apa pun”ucap ibu tua itu. Semua anak menurut,mereka bergegas mengerjakan apa yang diperintahkan ibu tua itu. anak-anak itu terlihat serius, mata-mata biru mereka menerawang membayangkan seandainya kotanya menjelma jadi kota yang menakjubkan seperti di Istanbul, Paris, dan yang paling penting seperti di Mekah, kota suci atau Madinah.kota para nabi. Khayalan anak-anak itu menembus pandangan nyata, mereka memainkan imajinasi anak-anaknya. Aku bisa merasakan itu. 

Sementara itu, ibu tua bernama Kenanga itu terlihat menembus kenyataan hidup, masa lalunya, masa kekiniannya, dan masa depannya. Ia memandangi rumah tua atau bisa kubilang ini gubug, aku tak tega menyebutnya, karena sepertinya ibu tua itu adalah seorang yang dihormati. Ia memandangi buku-buku miliknya, arsip-arsip saat ia mengajar, amplop-amplop kosong dan seragam yang tak pernah berganti menjadi ‘seragam negeri’. Ibu tua itu tersenyum dan tak pernah meminta haknya, karena ia tak pernah merasakan melaksanakan kewajibannya. Baginya,menjadi seorang pengajar adalah pengabdian. Pengabdian pada diri, agama dan kotanya. Aku menggeleng-gelengkan kepala, berdecak kagum atas jiwa ksatrianya. Ibu tua itu tahu, para guru di kotanya yang “belum resmi” seragamnya bukan tidak mau mengajar, mereka hanya meminta hak-hak pada Dinasti Pemerintahan Kerajaan Kota Zamrud Khatulistiwa, mereka turun ke jalanan, berteriak meminta keadilan. Sedangkan untuk guru yang telah resmi memiliki ‘seragam’juga bukan tidak mau mengajar, mereka hanya terlena untuk sesaat pada pundi-pundi yang kini begitu menjamin. Ibu tua itu berdiri, tegap walau kutahu punggungnya sudah bongkok. Teramat bongkok. Dia meyakinkan hatinya, bahwa masih ada pemilik para mata berabjad yang bekerja di bawah rasa tulus dan abdi pada sesama dan semesta. Ibu tua itu tersenyum, binar matanya kembali nyala. Melihat anak-anak di sekelilingnya begitu bersemangat menuliskan tantang kota ini. Kota Zamrud Khatulistiwa.

Tidak terasa laporanku sudah cukup penuh oleh tulisan-tulisan bermakna tentang ibu tua bernama Kenanga itu yang juga hidupnya bermakna sebagai salah satu pemilik mata berabjad. 

Aku hanya semut, padi, ikan salmon, yang mengenakan almamaternya sendiri—diciptakan Tuhan untuk meneliti kehidupan di kota Zamrud Khatulistiwa. 

Saatnya pulang. []

***
Ciputat, 16 Januari 2015 (pernah diunggah juga di adengbukanbandeng.blogspot.com)

Sebagai Juara III Lomba Menulis Cerpen yang diadakan oleh Lembaga Dakwah Kampus UIN Jakarta (KOMDA FITK).