
Remai masih tercenung di antara suara bising tetangga. Ingin sekali dia menambal satu per satu mulut tetangganya. Sepagi ini sedang apa mereka, pikir Remai, merasa terusik. Lantas ia kembali menarik selimutnya sampai ujung kepala. Beberapa menit kemudian, Remai sudah tertidur pulas meninggalkan suara lengkingan amukan bocah-bocah tetangga yang enggan mandi.
Tidur adalah usaha Remai memulai harinya yang amat panjang. Sekali lagi hidupnya hari itu, dilaluinya tanpa sinar matahari. Kelam isi kepalanya membentuk mimpi buruk di siang bolong, karena, ketika terbangun—Remai harus memantaskan diri untuk makan pagi yang sudah sangat terlambat. Setiap kali akan makan, ia harus merenungi apakah dirinya pantas menyuap satu dua suap nasi, sementara lambungnya akan menolak habis-habisan. Gengsi! Akhirnya, ia tunda dan kembali berbaring di tempat tidurnya yang kini telah menjadi tempat kerjanya sesaat ia memutuskan menikahi suaminya. Untuk setiap kerja kerasnya itu, Remai akan diupahi harapan surga.
Hari sudah makin sore, Remai memutuskan untuk makan yang sempat tertunda. Kali ini, makan paginya berubah menjadi makan siang yang juga sudah terlanjur kesorean. Lambungnya tidak menolak, ia melahap habis nasi yang sudah dingin. Sesekali Remai meringis, karena isi kepalanya mulai tidak menyukai kenyangnya perut Remai. Sekali lagi, Remai memutuskan kembali ke tempat tidurnya—yang merupakan tempat kerjanya.
Di tempat tidur itu, Remai kembali memejamkan matanya sambil meramal apa yang terjadi di luar rumahnya. Ada bocah-bocah berlarian mengenakan kaus cangklek putih sambil berteriak kesetanan. Remai heran, mengapa bocah-bocah itu bisa berteriak bebas sementara dirinya sulit berteriak di dalam rumahnya sendiri. Ada juga ibu-ibu tetangga yang berkumpul di antara bau tubuhnya yang menguar mengundang suami-suaminya untuk segera pulang. Ibu-ibu itu seakan dengan sengaja tertawa terbahak-bahak di depan rumah Remai, memarkan apa saja pencapaian anak dan suami mereka. Remai sempat membuka matanya, dan berpikir heran, mengapa mereka begitu bangga, padahal itu bukan tentang diri mereka. Remai kembali menutup matanya sambil menggaruk punggungnya yang mulai berjamur.
Suara di luar rumah kembali sayup-sayup, tidak terdengar jelas, tapi masih bisa Remai ramalkan kondisinya. Yakni seorang ayah kembali dari kerjanya, wajahnya dipaksa tersenyum di hadapan anak dan istrinya. Dengan telinga terbuka, sang ayah mendengarkan celotehan anaknya yang menggemaskan dan dengan telinga setengah terbuka, sang ayah mendengarkan keluhan istrinya yang merasa minder karena mendengar cerita tetangganya yang lebih baik hidupnya. Remai kembali membuka matanya, kali ini dengan menaikkan alis sebelah kirinya. Bukan karena kasihan mendengar keluhan si ibu tetangga itu, melainkan kasihan karena keluhannya akan dianggap angin lalu oleh suaminya. Bagaikan batu sandungan, si ibu tetangga itu akan mudah ditendang oleh suaminya kapan pun ia mau. Wong cuma numpang hidup kok! Begitu pikir Remai saat menelaah isi pikiran si suami tetangga itu.
Pada saat itu, Remai ingin sekali bangun dari tempat tidurnya dan memberi tahu si ibu tetangga itu. Tapi, si ibu tetangga toh mungkin sudah tahu posisi dirinya di mata suaminya, tapi karena demi status dirinya dan anaknya yang masih bocah, ia memutuskan tetap tinggal sambil terus mengencangkan branya agar terlihat terus montok dan bernilai di sisi suaminya. Remai hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Perlahan, kantuk mulai menyerangnya kembali, di sore hari Ramai kembali tertidur dengan kening berkerut karena masih menahan ringisan beratnya kepala. Pada saat kondisi demikian, yang terus terjadi berulang, sebenarnya Remai selalu menyesali karena telah menyantap makanan. Remai memang berbeda dengan orang kebanyakan, jika orang lain akan bertenaga setelah makan, maka Remai sebaliknya, ia akan lemah dan lesu. Hal ini sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Anehnya, meski jarang makan, tubuh Remai terus membengkak. Remai hanya bisa menghela napas panjang memikirkan bobot tubuhnya yang kini menjadi gunjingan tetatangga.
“Bu Remai, jarang makan, kok bisa badannya gemuk? Hamil ya? Syukur, akhirnya dikasih hamil sama Yang Kuasa. Ga jadi mandul toh” Ucap si ibu tetangga pemilik rumah warna kuning kecokelatan seperti warna tahi manusia sehat. Dia memang selalu menyapa Remai tiap kali Remai terpaksa membuka pintu rumahnya untuk mengambil paket, yang entah dari mana, selalu saja datang ke rumahnya. Meski menunduk, Remai selalu bisa melihat mulut si Ibu tetangga ini berkelok-kelok tiap bicara dengannya. Setelah bicara dengan Remai, matanya pun langsung beralih berkedip ke ibu-ibu tetangga lain yang sedang menahan tawa.
Tentu, gayung bersambut, lemparan celotehannya itu disambut oleh si ibu pemilik rumah warna hitam kemerahan seperti warna tahi manusia sakit pencernaan. Begini ucapnya, “Iya loh Bu Remai, jangan-jangan hamil ya. Kan sudah bertahun-tahun toh ga ada anak. Kasian suaminya Bu Remai, buruan hamil toh Bu. Tetangga baru Bu Remai yang kemarin baru nikah juga sudah ngisi lho.” Si ibu tetangga pemilik rumah warna hitam kemerahan seperti warna tahi manusia sakit pencernaan itu terus nyerocos sambil jarinya menunjuk rumah pasangan muda, tetangga baru Remai.
Biasanya, setelah mendengar candaan yang mengarah kepada ejekan tersebut, Remai hanya membalasnya dengan senyuman dan menggangguk pamit sambil kembali menutup pintu rumahnya. Kali ini, Remai berdiri mematung sambil menatap lurus ke arah rumah tetangganya yang sedang bergosip tentang dirinya. Para tetangga itu saling menatap dan menunggu apa yang akan terjadi. Mereka sangat ingin mendengar suara Remai yang jarang sekali bicara semanjak kepindahannya ke perumahan itu. Bahkan para tetangga itu berharap agar mereka bisa bertengkar seperti lingkungan pertetanggaan pada umumnya—yang dengan pertengkaran ini—membukitkan bahwa hubungan mereka dibangun oleh ketulusan. Begitu pikir para tetangga Remai yang tentu saja bertolak belakang dengan pemikiran Remai. Remai bahkan berniat membunuh para tetangganya, di dalam pikirannya, saja. Karena itu, ia makin sakit memikirkannya.
Sambil menatap kosong ke arah para tetanggnya, Remai kemudian berkata, “Di sekeliling rumah saya ada banyak serangga, bagaimana cara membasminya?”
Setelah berkata demikian, Remai mengangkat bibir sebalah kirinya membentuk sunggingan setengah tersenyum, lalu kembali masuk ke rumahnya.[]
Tangerang Selatan, 2023-2024
