Konstruksi Identitas Tokoh Kulit Putih dalam Cerpen Tawanan dan Selamat Tinggal Hindia Karya Iksaka Banu

Analisis Poskolonialisme dalam Sastra

Foto Buku: Dok.Pribadi

BLURB 

Kajian ini mengeksplorasi cerpen Tawanan dan Selamat Tinggal Hindia karya Iksaka Banu. Tulisan ini bertujuan untuk membongkar kontruksi identitas diri pada tokoh kulit putih akibat kondisi sosial masyarakat yang terjadi pasca kemerderkaan Indonesia dan sebagai identifikasi hubungan Timur dan Barat dalam perspektif keterpengaruhan tokoh kulit putih oleh negara jajahan. Dalam penemuan hasil kajian, tulisan ini mengaplikasikan konsep poskolonial Albert Memmi (the colonizer who refuses) dan Homi K.Bhabha (ambivalensi) serta sosiologi sastra. Hasil yang didapatkan dalam kajian ini adalah terjadinya transformasi identitas pada tokoh kulit putih disebabkan adanya kondisi sosial pasca kemerdekaan, kondisi psikis dan modal budaya berupa memori kolektif. Kajian ini berargumen bahwa going native berupa keberpihakan dan pembelaaan yang dilakukan tokoh kulit putih terjadi sepenuhnya sehingga mengakibatkan  ambivalensi dan Liyan pada diri kulit putih, akan tetapi tetap memperlihatkan relasi kuasa antara tokoh kulit putih dan pribumi.

PENDAHULUAN

Kedatangan bangsa Eropa seperti Belanda ke Indonesia telah menimbulkan kolonisasi selama berabad-abad, sekaligus pertemuan dua kebudayaan yakni Timur dan Barat. Fajar (2011) menyebutkan kolonialisasi bangsa Belanda terhadap bangsa Indonesia tidak hanya berhubungan dengan eksploitasi sumber daya manusia dan alam, tetapi juga anggitan (construction) budaya dan identitas (Fajar, 2011: 178). Kehadiran Belanda di tanah jajahan Hindia Belanda (Indonesia), pada perkembangannya tidak hanya tertarik pada hasil alam pribumi tapi juga pada eksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia. Menurut Lamboo (2020) seperti ideologi, kolonialisme berasal dari keadaan-keadaan material dan efek-efek material. Sebuah aspek penting dari proses ini adalah pengumpulan dan penataan informasi tentang tanah-tanah dan penduduknya yang di kunjungi dan kemudian menjadi tunduk kepada kekuasaan-kekuasaan kolonial. (Loomba, 2020: 85).

Kolonialisme berkenaan dengan hubungan antara orang terjajah dan penjajah yang memperlihatkan superioritas kaum Barat dan inferoritas kaum Timur, hal ini melahirkan kajian poskolonialisme yang berusaha membongkar hubungan Barat dan Timur, kaum penjajahan dan kaum terjajah, kolonial dan pribumi. Fenomena ini kemudian terekam dalam banyak karya-karya sastra poskolonialisme.

Berdasarkan konteks realitas sejarah tersebut banyak karya-karya fiksi tumbuh subur sebagai upaya pembacaan baru melalui sastra. Kuntowijoyo (1987) menyebutkan jika karya sastra berupa peristiwa sejarah, maka pengarang mencoba menerjemahkan peristiwa itu ke dalam bahasa imajiner dengan maksud untuk memahami peristiwa sejarah dan sarana bagi pengarangnya dalam menyampaikan pikiran, perasaan, dan tanggapan mengenai suatu peristiwa sejarah. Selain itu, karya sastra dapat berupa penciptaan kembali sebuah peristiwa sejarah sesuai dengan pengetahuan dan daya imajinasi pengarang (Kuntowijoyo, 1987: 127).

Salah satu pengarang yang mengangkat tema-tema sejarah dan kolonialisme dalam karya-karyanya adalah Iksaka Banu. Melalui kedua kumpulan cerpennya yang berjudul Semua untuk Hindia (2014) dan Teh dan Pengkhianat (2019) tersebut Banu mengangkat fiksi sejarah sebagai tema utama.  

Kedua kumpulan cerpen yang diterbitkan oleh KPG ini meraih penghargaan Kusala Sastra untuk kategori prosa masing-masing pada tahun 2014 dan  2019. Dalam cerpen-cerpennya sebagai sastra kontemporer, Iksaka Banu memberi nuansa dan persepsi dengan menjadikan tokoh-tokoh orang kulit putih (Belanda) sebagai tokoh pusat dan mengalami keberpihakan pada pribumi. Hal ini tercermin dalam cerpen berjudul Tawanan (dalam kumpulan cerpen Teh dan Pengkhianat) dan cerpen berjudul Selamat Tinggal Hindia (dalam kumpulan cerpen Semua untuk Hindia). Kedua cerpen ini dipilih dan akan menjadi fokus kajian dalam tulisan ini.

Cerpen Tawanan menceritakan penyekapan tentara Belanda bernama Kapten Martijn van Oijen yang dilakukan tentara Indonesia. Kapten Martijn van Oijen mengalami penyiksaan. Namun, penyiksaan itu dilakukan tidak sebesar penyiksaaan yang dilakukan tentara Belanda kepada tentara Indonesia, hal itu  diungkapkan oleh Jan Kapir yang merupakan orang kulit putih yang menjadi tentara Indonesia. Jan Kapir pada saat itu melakukan negosiasi dengan Kapten Martijn van Oije tentang mengapa ia berpindah membela Hindia Belanda. Selanjutnya, cerpen Selamat Tinggal Hindia menceritakan tokoh perempuan kulit putih bernama Geertje, seorang guru bumiputra asal Belanda yang identitasnya menyatu bersama pribumi dan dalam perjalanannya menjadi propaganda anti-NICA serta mendukung kemerdekaan Indonesia.

Selain kedua cerpen ini yang mengangkat jejak kolonialisme, terdapat juga karya-karya sastra pada masa penjajahan yang mengangkat tema yang sama seperti Cerita Nyai Dasima karya G. Francis (1896), Max Havelar karya Multatuli (1860), Sitti Nurbaya karya Marah Rusli (1922), Salah Asuhan karya Abdoel Moeis (1928), Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer (1981) dan lain-lain. Berbeda dengan karya-karya tersebut yang dianggap sebagai karya sastra klasik atau kanonik, Iksaka Banu melalui karya-karyanya pada masa kontemporer ini menghadirkan penokohan tokoh kulit putih sebagai tokoh protagonis dan tokoh sentral cerita. Hal ini dimaksudkan sebagai strategi pembacaan baru dalam karya sastra poskolonial pada masa kontemporer ini.

Dengan demikian, cerpen Tawanan dan Selamat Tinggal Hindia karya Iksaka Banu ini menjadi layak untuk dijadikan kajian sebagai upaya penemuan cara pandang lain dalam memandang tokoh kulit putih dan gambaran cerita berlatar sejarah yang beragam dalam karya sastra kontemporer. Topik yang akan dibahas dalam kajian ini yaitu konstruksi identitas diri pada tokoh kulit putih pada kedua cerpen ini.

Masalah yang diangkat dalam kajian ini adalah bagaimana pengaruh kondisi sosial pribumi pasca kemerdekaan tercermin dalam pembentukan identitas pada tokoh kulit putih dalam cerpen Tawanan dan Selamat Tinggal Hindia  karya Iksaka Banu. Hubungan tokoh kulit putih dengan kondisi sosial dalam kedua cerpen direpresentasikan sebagai keberpihakan pada pribumi serta terjadinya ambivalensi tokoh kulit putih digambarkan dalam kedua cerpen sebagai sarana tetap terjadinya relasi kuasa antara kulit putih dan pribumi.

Oleh karena itu, dengan menganalisis kedua cerpen ini, tujuan tulisan ini adalah untuk membuktikan adanya kontruksi identitas diri pada tokoh kulit putih akibat kondisi sosial masyarakat yang terjadi pasca kemerderkaan Indonesia sebagai identifikasi hubungan Timur dan Barat dalam perspektif keterpengaruhan tokoh kulit putih oleh negara jajahan. Selain itu, penelitian ini bertujuan melengkapi kajian karya-karya Iksaka Banu dalam pendekatan poskolonial sebelumnya sehingga memberikan pemaknaan berbeda dan menambah kepustakaan sastra Indonesia kontemporer.

Proses analisis data dilakukan dengan merujuk pada konsep yang dapat membantu dalam penemuan hasil penelitian. Dalam menganalisis bagaimana posisi tokoh kulit putih menolak penjajahan dalam kedua cerpen, makalah merujuk pada konsep Albert Memmi (the colonizer who refuses) dalam bukunya The Colonizer and The Colonized (1974). Namun, ada transfromasi dalam cerpen yang seutuhnya tokoh kulit putih menjadi Yang Liyan, sementara pada konsep Memmi, penolakan penjajah dimungkinkan masih untuk kepentingan kolonial seperti bagaimana posisinya nanti di kehidupan masa depan bangsa. Selanjutnya, dalam menganalisis terjadinya ambivalensi pada tokoh kulit putih, makalah merujuk pada pemikiran Homi K. Bhaba sebagai strategi pembacaan ambivalensi pada tokoh-tokoh kulit putih dan untuk mengungkapkan tetap terjadinya relasi kuasa.

Selain itu, pendekatan sosiologi sastra juga digunakan untuk melihat pengaruh-pengaruh terbentuknya keberpihakan pada tokoh-tokoh kulit putih pada pribumi, seperti konflik-konflik yang terjadi dalam masyarakat pribumi seperti kekerasan dalam masyarakat, penghinaan, dan diskriminasi. Kondisi sosial masyarakat pada saat itu terdiri dari tiga golongan yaitu masyarakat sipil pribumi, tentara Indonesia dan tentara Belanda yang terlibat konflik dan peperangan serta penindasan yang bertubi-tubi sehingga para tokoh kulit putih mengalami keberpihakan pada pribumi.

PEMBAHASAN

Hubungan Tokoh Kulit Putih dengan Kondisi Sosial Indonesia Pasca Kemerdekaan

Realitas sosial dalam suatu masyarakat pada masa tertentu  sering kali digambarkan salah satunya melalui teks-teks sastra. Damono (2020) menyebutkan bahwa sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium; bahasa adalah ciptaan masyarakat. Sastra menampilkan gambaran kehidupan; dan kehidupan tak lain adalah suatu kenyataan sosial.

Pandangan Damono tersebut sejalan dengan cerpen Tawanan dan Selamat Tinggal Hindia karya Iksaka Banu ini yang menampilkan gambaran kehidupan masyarakat pada masa pasca kemerdekaan Indonesia. Pada masa tersebut digambarkan terjadinya banyak perlawanan dari bumiputra kepada Belanda yang hendak menguasai kembali Indonesia. Selain itu, terjadinya masalah-masalah dalam masyarakat pribumi seperti kekerasan, persoalan diskriminasi dan konflik perang. Permasalahan kondisi sosial ini kemudian mempengaruhi pembentukan identitas pada tokoh kulit putih dalam kedua cerpen ini.

Tokoh kulit putih yang terpengaruh kondisi sosial pribumi dalam cerpen Tawanan adalah Jan Kapir yang mengalami tranformasi identitas. Kapir adalah seorang Belanda asli yang kemudian berpindah haluan menjadi Tentara Nasional Indonesia. Hal ini disebabkan oleh persoalan psikologis, keprihatinannya pada masalah sosial di Indonesia dan modal budaya berupa memori kolektif yang ia miliki sebagai warga negara Belanda.  

“Panggil aku apa saja. Si Sontoloyo, atau Jan Kapir, seperti mereka memanggilku dulu. Tidak penting. Jauh lebih penting bagimu untuk mulai berpikir bahwa perang ini sia-sia. Sama sekali tidak terhormat,” kata orang itu sembari merogoh pipa gading dari saku baju.”

(Banu, 2019: 133)

Kutipan di atas menunjukkan tokoh Jan Kapir sedang memberikan pandangannya mengenai kondisi masyarakat di Indonesia akibat perang kepada tokoh aku yang juga tokoh kulit putih. Pada kutipan di atas terdapat kalimat sama sekali tidak terhormat yang mengindikasikan bahwa peperangan pasca kemerdekaan ini banyak merugikan korban-korban pribumi berjatuhan, para korban ini adalah generasi muda Indonesia dan alangkah tidak terhormatnya jika merampas masa depan bangsa lain. Tokoh aku kulit putih ini bernama Kapten Van Oijen. Oijen merupakan tentara Belanda yang sedang menjadi tawanan tentara Indonesia. Oijen sangat terkejut melihat saudara sebangsanya sendiri berpindah haluan menjadi pembela tanah jajahan, seperti dalam kutipan berikut.

“Kami? Apakah aku sedang bicara dengan seorang landverrader?” tanyaku. “Lihat baik-baik bajumu! Apakah engkau lahir di sini dan terlalu lama menetek babu Jawa, sehingga hilang ingatan? Sadarlah. Kau sedang mencoreng martabat bangsamu sendiri!”

(Banu, 2019: 133-134)

            Oijen yang menuduh Kapir sebagai pengkhianat dengan mengatakan landverrader merupakan bentuk refleksi tidak berterimanya ia terhadap saudara sebangsanya yang berpindah haluan. Selain itu, tokoh Oijen ini melakukan objektivikasi kepada pribumi dengan menyebutkan menetek babu jawa. Objektivikasi ini merupakan bukti adanya permasalahan disksriminasi yang seringkali terjadi di lingkum masyarakat pribumi.

“Sekali lagi, silakan menyebutku apa saja,” Jan menyulut tembakau di dalam pipanya, “Tetapi martabat seperti apa yang sedang kau risaukan sebenarnya? Apakah pilot P-40 pembantai rombongan tentara Siliwangi yang sedang melakukan, long march tempo hari itu punya martabat? Para pejuang Republik itu membawa anak-istri mereka, cita-cita mereka, masa depan mereka. Berjalan kaki sejauh 900 km dari Yogya, hanya untuk kemudian terkapar berserakan, berkubang, darah di sawah berlumpur seperti hama tikus!”

(Banu, 2019: 134).

“Mengusir Jepang, melindungi penduduk.” Jan kembali menjejali pipanya dengan tembakau. “Aku pun dulu dicekoki doktrin seperti itu. Kita begitu naif.”

“Faktanya, penduduk tak ingin lagi Belanda tinggal di sini. Sama seperti kita menolak Nazi Jerman bercokol lebih lama di negeri kita. Mereka ingin merdeka. Dan pahamilah, orang orang ini sama sekali bukan garong atau ekstremis. Kalau kau tinggal di tengah mereka, bernapas seperti mereka, ikut long march bersama mereka, bahkan kehilangan istri bumiputra selamanya karena peluru Belanda, matamu akan terbuka. Betapa orang Belanda itu banyak lagak dan biadab.”

(Banu, 2019:136-137)

Kutipan di atas menunjukkan kritik tokoh kulit putih bernama Jan Kapir terhadap penjajahan Belanda di Indonesia. Jan Kapir mencoba melakukan perbandingan dengan penjajahan Jerman di Belanda, hal itu untuk memengaruhi Oije yang sama-sama memiliki modal budaya yang sama dengan Jan berupa memori kolektif atas penjajahan Jerman di Belanda. Selain itu, para masyarakat sipil yang digambarkan ekstermis oleh Kapten Martijn van Oije pun turut ditolak oleh Jan Kapir yang melihat bahwa mereka hanya membela bangsa sendiri. Hal ini diakibatkan pasca kemerdekaan terjadinya tipuan yaitu adanya arsitektur dunia baru pasca kepulangan penjajah. Namun, ternyata ini mengindikasikan adanya ketidakbebasan yang tersembunyi. Secara kasat masa kita melihat keadaan baru (merdeka) tetapi di balik itu harus diakui bahwa belum benar-benar merdeka karena masih adanya pengaruh bangsa Barat yang ingin mencoba kembali menguasai daerah bekas jajahan sehingga adanya tarik-menarik antara kedatangan dan kepergian serta kemerdekaan dan ketertindasan.

Memmi (1974) menyebutkan dalam the colonizer who refuses bahwa fakta kehidupan kolonial bukan sekedar gagasan, melainkan efek umum dari kondisi sebenarnya. Penolakan terhadap penjajahan berarti menarik diri secara fisik dari kondisi tersebut atau tetap berjuang dan mengubahnya (Memmi, 1974: 63). Penolakan yang dilakukan Jan Kapir ini menjadikan dirinya tidak menarik diri secara fisik, melainkan menunjukkan sikap secara terang-terangan berpihak pada Indonesia. Pembelaan ini dinilai murni karena dipengaruhi oleh permasalahan psikolgis yang dialami Jan Kapir yakni meninggalnya sang istri yang merupakan seorang bumiputra.

“Saidah. Wanita mulia. Mencintaiku dengan segenap jiwa.” Jan mengatur napas. Matanya berkaca-kaca. “Sebuah granat jatuh di ruang tamu kami dalam sebuah penyisiran desa oleh marinir Belanda. Aku melompat ke luar, naik ke bukit, melihat rumahku diliputi asap. Ruang tamu berantakan. Masih pula diguyur mitraliur. Setelah serangan berakhir, aku mengais re runtuk, melongok sisa rumah. Kujumpai istriku tertelungkup penuh debu. Kepalanya berlubang kena peluru. Kukira bisa segera melupakannya. Ternyata tidak.”

(Banu, 2019: 137)

Kutipan di atas menunjukkan selain karena keprihatinannya pada permasalahan sosial di Indonesia, persoalan psikis yaitu kehilangan istri adalah salah satu hal yang menjadikannya membela pribumi. Keberpihakannya pada pribumi sepenuhnya murni. Memmi (1974) menyebutkan apa yang sebenarnya dia (penjajah) tolak adalah bagian dari dirinya sendiri, dan dia perlahan menjadi apa setelah dia menerima kehidupan di koloni. Dia berpartisipasi dan mendapat manfaat dari hak-hak istimewa yang dengan setengah hati dia tolak. (Memmi, 1974: 64). Pandangan Memmi tersebut merupakan penolakan terhadap penjajahan namun masih dalam kacamata kepentingannya selaku kolonial. Sementara pada cerpen Tawanan ini yang direpresentasikan oleh Jan Kapir menunjukkan sepenuhnya menjadi Liyan, artinya tidak ada kepentingan sebagai mantan penjajah.

Seperti pada cerpen Tawanan, cerpen Selamat Tinggal Hindia juga menggambarkan berbagai permasalahan sosial pasca kemerdekaan. Dalam cerpen ini tokoh aku adalah seorang laki-laki kulit putih berprofesi sebagai wartawan yang mencoba mempengaruhi tokoh kulit putih perempuan bernama Geertje yang mengalami transformasi identitas layaknya Jan Kapir pada cerpen Tawanan. Tokoh aku ini hendak menemui Geertje dan mengajaknya meninggalkan Indonesia, namun di tengah perjalanan ia dihadang oleh para laskar yang merupakan bumiputra.

Dibantu beberapa rekannya, si kumis menggeledah seluruh tubuh kami. Sebungkus rokok Davros yang baru kunikmati sebatang segera berpindah ke saku bajunya. Demikian pula beberapa lembar uang militer Jepang di dalam dompet. Seorang laskar lain masuk ke dalam mobil, memeriksa laci, lalu duduk di kursi sopir, memutar-mutar roda kemudi seperti seorang anak kecil.

(Banu, 2020: 1-2)

“Tak apa, Tuan. Begitulah sebagian dari mereka. Mengaku pejuang, tapi masuk-keluar rumah penduduk, minta makanan atau uang. Sering juga mengganggu perempuan,” sahut Dullah

(Banu, 2020:2)

Kutipan di atas menunjukkan persoalan sosial yang terjadi adalah masalah kemiskinan yang dialami masyarakat pribumi akibat dampak penjajahan. Penjajahan yang dilakukan berabad-abad oleh Belanda ditambah kemudian oleh Jepang menjadikan para bumiputra mengalami krisis sosial. Persoalan perempuan juga menjadi permasalahan, perempuan pribumi yang selalu dianggap Liyan ini kemudian menjadi salah satu penyebab keterpengaruhan Geertje sebagai perempuan kulit putih yang ingin terus menyebarkan pendidikan.

“Bila api revolusi telah berkobar, tak ada yang bisa menahan,” Geertje menghentikan laju jemarinya di atas tuts. “Mereka hanya ingin mandiri, seperti kata ayahku dulu. Ayah pengagum Sneevliet. Ia siap kehilangan hak-hak istimewanya di sini. Aku sendiri seorang guru sekolah bumiputra. Lahir, besar di tengah para bumiputra. Saat Jepang berkuasa, kusadari bahwa Hindia Belanda bersama segala keningratannya telah usai. Aku harus berani mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Dan apapun yang ada di ujung nasib, aku akan tetap tinggal di sini. Bukan sebagai ‘penguasa’, seperti istilahmu. Entah sebagai apa. Jepang telah memberi pelajaran, pahitnya menjadi jongos atau babu. Setelah kemarin hidup makmur, bukankah memalukan lari di saat orang-orang ini butuh bimbingan kita?”

(Banu, 2020: 9)

Kutipan di atas menunjukkan sikap tegas Geertje yang tidak akan meninggalkan Indonesia, bukan hanya karena ia semasa kecil tinggal di negeri jajahan ini, melainkan adanya penyatuan akan dirinya dan negara ini. Memmi (1974) menyebutkan “is there then no way out except submission to the heart of the colonial community or departure? Yes, still one. Since his rebellion has closed the doors of colonization to him and isolated him in the middle of the colonial desert, why not knock at the door of the colonized whom he defends and who would surely open their arms to him in gratitude?” (Memmi, 1974:65).

Pandangan Memmi tentang perbandingan antara pergi dari negara jajahan atau menetap dengan meminta balas budi pribumi akan kebaikan ‘penjajah yang bukan penjajah.’ Sementara itu, pada cerpen Selamat Tinggal Hindia melalui representasi tokoh perempuan kulit putih Geertje ini, melampaui pandangan Memmi. Greetje tidak menuntut balasan hanya karena dia seorang guru dan aktivis anti-NICA. Greetje sepenuhnya menjadi Liyan dan melebur bersama pribumi.

“Ini tempat para pemberontak berkumpul. Banyak bahan pro paganda anti-NICA,” lanjutnya.

“Maaf,” aku menyela. “Setahuku rumah ini milik Nona Geertje, seorang warga Belanda.”

“Tuan kenal? Kami akan banyak bertanya nanti. Ada dugaann bahwa Nona Geertje alias “Zamrud Khatulistiwa’ alias ‘Ibu Pertiwi’, yaitu nama-nama yang sering kami tangkap dalam siaran radio gelap belakangan ini, telah berpindah haluan.”

Aku membisu. Sulit mempercayai ini semua. Tetapi yang membuat tubuhku membeku sesungguhnya adalah peman dangan di dinding sebelah kiri. Pada dinding lapuk itu, ter gantung satu set wastafel lengkap dengan cermin. Di atas permukaan cermin, tampak sederetan tulisan. Digores bergegas, menggunakan pemerah bibir: ‘Selamat tinggal Hindia Belanda. ‘Selamat datang Repoeblik Indonesia’.

(Banu, 2020: 11-12)

Kutipan di atas menunjukkan jawaban atas pandangan Memmi yang menerangkan akan balas budi pribumi pada ‘penjajah yang baik.’ Greetje sepenuhnya Liyan—bahkan menjadi agen pergerakan melawan NICA bersarang kembali di Indonesia. Keterpengaruhan Geertje oleh pribumi disebabkan adanya persoalan sosial dan usahanya memajukan pendidikan. Geertje adalah tokoh kulit putih yang memilih tetap tinggal di bumiputra—bukan dengan balas budi bumiputra—melainkan usahanya untuk mendirikan seutuhnya menjadi pribumi.

Ambivalensi Tokoh Kulit Putih dan Relasi Kuasa

Pembahasan ambivalensi yang terjadi pada tokoh kulit putih dalam kedua cerpen ini akan tetap menyasar pada representasi keberpihakan dua tokoh kulit putih ini kepada pribumi. Keberpihakan kulit putih ini kemudian menjadi sesuatu ‘nilai’ yang dipakai untuk melawan penjajahan Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia.

Bhabha (1994) menyebutkan bahwa adanya wacana dominan yang terbelah sepanjang poros kekuatan. Keterbelahan ini disebut juga dengan ambivalensi. Wacana mimikri biasanya dibangun di sekitar ambivalensi; namun, dalam konteks ini persoalan going native adalah isu utamanya. 

Going native adalah salah satu konsep yang melihat penjajah mencoba untuk meniru yang dijajah secara umum atau bahkan dalam konteks kedua cerpen ini penjajah sepenuhnya menjadi Liyan. Disebut Liyan karena kedua tokoh kulit putih ini mengalami ambivalensi atau keterbelahan (split) yakni beralihnnya ke posisi yang sama dengan yang tertindas (bumiputra), tapi hal ini mengindikasikan identitas kulit putih atau kebelandaannya ini dipakai untuk pembelaan terhadap pribumi sebagai Yang Liyan.

Meskipun Jan Kapir dalam cerpen Tawanan dan Greetje dalam cerpen Selamat Tinggal Hindia mengalami ambivalensi, dengan menyamakan posisi dengan Liyan (pribumi); tapi kedua tokoh ini tetap terlihat sebagai pemimpin di antara pribumi lainnya. Hal ini kemudian digambarkan dalam kedua cerpen sebagai sarana tetap terjadinya relasi kuasa antara kulit putih dan pribumi.

“Baiklah,” katanya. “Memang sulit berunding dengan bahasa terbatas. Untuk itu, saya akan membiarkan teman saya mengambil alih peran. Ia jauh lebih fasih bicara Belanda, Sampai besok, Kapten! Jangan lupa tanda tangan.” Tatang melempar pandang satu kali kepadaku, sebelum masuk ke balik tirai pembatas ruangan tanpa diikuti kedua pengawalnya.

(Banu, 2019: 133)

Kutipan di atas menunjukkan adanya ketidakmampuan Tatang sebagai pribumi dan selaku tentara Indonesia dalam  menghadapi Kapten Martijn van Oije. Dia meminta bantuan Jan Kapir, selain karena Belanda asli, kemampuan bahasa diharapkan mampu menjadi penyambung negosiasi di antara Indonesia dan Belanda tersebut. Namun kemudian yang menjadi perhatian di sini adalah meskipun Jan Kapir sepenuhnya menyamakan posisi sebagai kaum pribumi (terjajah), tapi ia mampu tetap memperlihatkan identitas yg berbeda (kekuatan) dengan cara hanya dia yang mampu bernegosiasi dengan kolonial Belanda. Hal ini memperlihatkan adanya sebuah relasi kuasa yang menitikberatkan ketergantungan pada Jan Kapir selaku negosiator. Jika pada cerpen Tawanan, Jan Kapir diperlihatkan sebagai orang yang mampu diandalkan, dalam cerpen Selamat Tinggal Hindia, Geertje digambarakan sebagai pemilik rumah sementara wanita pribumi sebagai pembantunya.

“Nona!” wanita itu meraung, memeluk kaki Geertje. Geertje menarik bahu si wanita agar berdiri.

“Jepang sudah kalah. Aku pulang, Iyah. Mana suamimu? Apakah selama ini engkau tinggal di sini?” tanya Geertje. “Ini Tuan Witkerk, teman saya. Martin, ini Iyah. Pengurus rumah tangga kami.”

(Banu, 2020: 7)

Kutipan di atas menunjukkan adanya relasi kuasa Geertje selaku majikan dan Iyah sebagai pribumi selaku pembantu. Meskipun Geertje berpindah haluan, ia tetap memainkan posisi kuasa tersebut. Kutipan berikut ini akan makin memperlihatkan ambivalensi Geertje dan wacana kuasa yang dibangunnya.

“Tuan kenal? Kami akan banyak bertanya nanti. Ada dugaann bahwa Nona Geertje alias “Zamrud Khatulistiwa’ alias ‘Ibu Pertiwi’, yaitu nama-nama yang sering kami tangkap dalam siaran radio gelap belakangan ini, telah berpindah haluan.”

(Banu, 2020: 11).

Wacana kuasa pada teks di atas terlihat Geertje sebagai Ibu Pertiwi, yang dimaknai sebagai kepemimpinan Geertje dalam melancarkan perlawanan pada NICA. Jadi, meskipun Geertje menyamakan posisi seperti pribumi atau disebut dengan ambivalensi, ia tetap memunculkan adanya relasi kuasa melalui kepemimpinannya dalam propaganda anti-NICA.

Refleksi Keberpihakan dan Pembelaan Tokoh-tokoh Kulit Putih terhadap Pribumi

Keberpihakan dua tokoh kulit putih terhadap pribumi dalam kedua cerpen ini kemudian mengonstruksikan identitas masing-masing tokoh yakni sepenuhnya menjadi Liyan. Namun, Liyan di sini dimaknai sebagai penguat dan perlawanan terhadap kolonial. Permasalahan psikis, sosial dan modal budaya akibat memori kolektif yang dimiliki di negara asal menjadikan tokoh Jan Kapir mengalami transformasi identitas yakni keberpihakan dan pembelaannya pada pribumi. Going native tampaknya terjadi sepenuhnya pada diri Jan Kapir berupa transformasi identitas.

Bagi Giddens (dalam Barker, 2020), identitas diri terbentuk oleh kemampuan untuk melanggengkan narasi tentang diri, sehingga membentuk suatu perasaan terus menerus tentang adanya kontinuitas biografis. Lebih lanjut disebutkan identitas disebut sebagai proyek yakni identitas merupakan sesuatu yang kita ciptakan, sesuatu yang selalu dalam proses, suatu gerak berangkat ketimbang kedatangan. Proyek identitas membentuk apa yang kita pikir tentang diri kita saat ini dari sudut situasi masa lalu dan masa kini kita, bersama dengan apa yang kita pikir kita inginkan dan lintasan harapan kita ke depan (Barker, 2020: 175).

Sejalan dengan pandangan Giddens tersebut, maka hal ini selaras dengan tokoh Jan Kapir dan Greetje yang mengalami transformasi identitas yang diproyeksikan dalam rangka pembelaannya pada pribumi. Identitas terbentuk dari masa lalu dan masa kini. Pada konteks kedua cerpen ini baik di masa lalu maupun masa kini (pasca kemerdekaan), kondisi sosial masyarakat pribumi makin memprihatinkan akibat adanya penjajahan yang mencoba menguasai kembali. Kesadaran yang dibangun melalui persoalan psikis (pribadi), sosial, dan pendidikan yang dialami kedua tokoh ini kemudian memproyeksikan adanya konstruksi identitas yaitu keberpihakan dan pembelaaan terhadap pribumi.

SIMPULAN

Penelitian pada cerpen Tawanan dan Selamat Tinggal Hindia ini mengeksplorasi konstruksi identitas diri tokoh kulit putih yang disebabkan oleh kondisi sosial pasca kemerdekaan Indonesia. Pada cerpen Tawanan transformasi identitas disebabkan tidak hanya oleh persoalan sosial yang menjadi perhatian tokoh kulit putih, melainkan adanya permasalahan psikis (pribadi) dan kesamaan modal budaya berupa memori kolektif dari negaranya yakni Belanda yang juga pernah dijajah Jerman. Hal ini kemudian menyadarkan tokoh kulit putih untuk menjadi pembela bumiputra. Meskipun terjadi ambivalensi karena menyamakan posisi dengan pribumi sebagai yang tertindas, tokoh kulit putih ini tetap berada pada posisi yang diandalakan dibanding pribumi lainnya yakni berperan sebagai negosiator antara pribumi dan kolonial. Dalam melakukan negosiator tersebut, tokoh kulit putih ini mencoba mempengaruhi tokoh aku yang seorang penjajah untuk menghentikan perang.

Pada cerpen Selamat Tinggal Hindia, keberpihakan terjadi disebabkan adanya peleburan diri dengan tanah pribumi dan keresahannya tentang pendidikan. Sama halnya pada cerpen Tawanan, dalam cerpen ini, tokoh kulit putih perempuan ini tetap berperan sebagai pemimpin yakni memimpin gerakan untuk melakukan propaganda anti-NICA. Dengan demikian, konsep going native dalam kedua cerpen ini terjadi sepenuhnya yakni berupa penyatuan dengan pribumi dalam rangka sebagai penguatan pembelaaan terhadap pribumi sebagai Yang Liyan.

DAFTAR REFERENSI

Banu, Iksaka. 2019. Teh dan Pengkhianat. (Cetak ke-2). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia

Banu, Iksaka. (2020). Semua untuk Hindia (Cetak ke-4). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Barker, Chris. (2020). Culutral Studies Teori & Praktik. (Terj. Nurhadi). Bantul: Kreasi Wacana.

Bhabha, Homi K.(1994). The Location Of Culture. New York: Routledge.

Damono, Sapardi Djoko. 2020. Sosiologi Sastra. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Fajar, Yusri. (2011). Negosiasi Identitas Pribumi dan Belanda dalam Sastra Poskolonial Indonesia Kontemporer. Literasi. Vol 1, No. 2.

Kuntowijoyo. (1987). Budaya masyarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Loomba, Ania. (2020). Kolonialisme/Pascakolonialisme. (Terj. Hartono Hadikusumo). Yogyakarta: Narasi.

Memmi, Albert. (1974). The Colonizer and The Colonized. UK: Earthscan Publications