
- Judul: Mao Mao & Berang-Berang: Penerbangan Ajaib ke Ujung Dunia
Penulis: Clara Ng - Penyunting: Arif Koes Hernawan & Dhewiberta H.
- Ilustrasi sampul & isi: Larasita Apsari & Jarikecil
- Penerbit: Bentang (PT Bentang Pustaka)
- Tahun terbit: 2023
- Jumlah halaman: 244
- Fiksi; novel fabel
Mao Mao adalah seekor anak bebek yang tampil berbeda dengan kelompok bebek kebanyakan. Mao Mao memiliki tubuh yang lebih kecil, kepalanya sangat besar melebihi tiga kali ukuran kepala bebek, dan bulunya tebal seperti domba berwarna ungu magenta. Di kalangan bangsa bebek, Mao Mao sering mengalami perundungan. Namun, Mao Mao adalah seekor bebek yang mampu melawan. Ia tidak pernah takut. Dibandingkan bebek lain, Mao Mao sangat kritis sehingga bebek dewasa sering dibuat pusing oleh pertanyaan-pertanyaan kritisnya.
Pada musim semi yang nyaris tiba, biasanya para bebek akan terbang ke Utara. Namun, Mao Mao bersikeras untuk mencapai Utara sebelum bebek lainnya tiba. Di Utara sana ada Danau Tak Bertepi, sebuah danau indah tempat para bebek bermigrasi. Dengan semangat tinggi, Mao Mao mulai belajar terbang. Mao Mao ingin menguji takdirnya bahwa seekor bebek juga bisa terbang sendirian, tidak harus berkelompok. Dengan semangat juang yang tinggi, akankan Mao Mao menjadi bebek pertama yang berhasil mendarat dengan selamat di Danau Tak Bertepi?
Novel berjudul Mao Mao & Berang-Berang: Penerbangan Ajaib ke Ujung Dunia karya Clara Ng merupakan novel fabel yang menyajikan cerita dengan tokoh cerita seluruhnya adalah hewan. Hewan-hewan ini bertindak layaknya manusia; berbicara, membangun masyarakat, bahkan merasakan cinta, persahabatan, dan kasih sayang. Tak ketinggalan sifat serakah dan sifat buruk lainnya turut digambarkan. Semuanya diceritakan dengan alur yang memikat.
Tema novel fabel ini adalah petualangan sehingga subjudul novel dibagi ke dalam delapan bagian subjudul perjalanan dalam bertualang. Di setiap subjudul terdiri dari beberapa bab. Di setiap subjudul memperlihatkan judul perjalanan Mao Mao ke negeri atau kerajaan yang akan disinggahinya. Seperti judul utamanya Penerbangan Ajaib ke Ujung Dunia, pembaca benar-benar dibawa oleh Mao Mao menjelajahi tiap pulau, negeri, dan kerajaan yang memiliki cerita dan keunikan masing-masing.
Subjudul yang pertama adalah “Perjalanan Pertama: Negeri Anyaman.” Mao Mao lahir dan dibesarkan di Negeri Anyaman. Bebek yang mengerami telurnya adalah Uni—yang bukan ibu kandungnya sendiri. Belakangan saat Mao Mao melakukan perjalanan, ia baru tahu bahwa kisah ibu kandungnya sangat kelam. Di Negeri Anyaman, Mao Mao merasa tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Ia kemudian memutuskan terbang seorang diri untuk mencari jati diri.
Saat terbang, ia melintasi berbagai pulau dan kerajaan. Mao Mao bertemu banyak hewan baik hati maupun hewan licik. Mao Mao adalah bebek tangguh, meski lemah dan hampir menyerah, ia tiba juga di Kerajaan Kayu, sebuah kerajaan penghujung sebelum tiba di Danau Tak Bertepi.
Di Kerajaan Kayu, Mao Mao bertemu seekor binatang baik hati bernama Berang-Berang. Lebih tepatnya, Berang-Berang menolong Mao Mao yang sakit. Persahabatan Mao Mao dan Berang-Berang terjalin sedemikian dalam, hingga Mao Mao jatuh hati pada seekor Berang-Berang. Mao Map mengalami kebimbangan apakah ia harus melanjutkan terbang ke Danau Tak Bertepi atau tinggal selamanya di Kerajaan Kayu. Bagi seekor bebek, hal ini menyalahi aturan, karena bebek selalu terbang.
Mao Mao mengalami kebimbangan dan kesedihan luar biasa karena harus memilih Berang-Berang atau terbang ke Danau Tak Bertepi seperti impiannya sejak awal.
Novel fabel ini tidak hanya mengisahkan tentang persahabatan seekor bebek berbulu magenta dan seekor berang-berang berbulu tebal, bermata teduh. Namun, menawarkan pengetahuan tentang jenis-jenis hewan dan tempat tinggalnya. Bagaimana mereka hidup dan sejarah yang mereka buat. Meski tidak ada keterangan khusus novel ini ditujukan untuk usia berapa, tapi menurut saya, novel ini bisa dinikmati oleh mereka yang berusia 13 tahun hingga pembaca dewasa.
Meskipun cerita fabel identik dengan cerita anak-anak, tapi menurut saya, butuh kebijaksanaan dan pendampingan jika novel ini dibaca oleh mereka yang berusia di bawah 13 tahun. Hal ini didasarkan karena cerita petualangan ini mengerucut menjadi kisah romantis dan cerita berlapis. Meski tidak kehilangan ciri khasnya sebagai novel fabel yang mengisahkan penemuan jati diri bagi Mao Mao, novel ini layak menjadi perhatian sebagai novel fabel yang memiliki alur yang cukup kompleks dan novel yang layak diselesaikan pembacaannya.
Novel fabel ini juga memperlihatkan bagaimana perbedaan diurai menjadi kebersamaan melalui cerita pertemuan Mao Mao dan para hewan baik hati. Tak hanya itu, pelajaran tentang penerimaan diri dan mencintai diri ikut diperlihatkan melalui perkembangan karakter Mao Mao.
