Aktivitas kepengarangan perempuan sejak dulu turut serta mewarnai khazanah kesusastraan Indonesia. Potensi-potensi produktif seringkali menjadikan para pengarang perempuan ikut andil dalam literasi sastra Indonesia—mencermati gejala sosial—atau tak jarang menggugat segala hal yang memenjarakan keadilan terhadap kaum kelas bawah atau pun perempuan itu sendiri. Segala hal yang berkenaan dengan ketiadaan kesempatan, kehangusan kesetaraan, atau kepincangan realitas mesti dibongkar habis oleh sastra. Sastra seperti ‘mengembalikan’ jiwa yang muram dengan saksi tulisan yang mengkritisi. Tulisan ini mencoba mengungkapkan peran perempuan dalam kepengarangan sastra dan tindak tanduknya memenangkan kesetaraan serta kesempatan yang sama dalam menduduki panggung literasi.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sastra Indonesia ialah sastra berbahasa Indonesia, sedangkan hailnya adalah sekian banyak puisi, cerita pendek, novel, roman, dan naskah drama. [1] Semua hal boleh jadi berdasarkan kenyataan-kenyatan atau disebut juga realitas sosial. Realitas sosial dalam karya sastra menunjukkan sebuah peristiwa yang terjadi di dunia nyata yang diimajinasikan kembali oleh pengarang dalam sebuah karya sastra. Dalam karya sastra, banyak terjadi interaksi antar individu yang membentuk suatu peristiwa. Peristiwa antar individu tersebut menimbulkan gejala sosial dalam karya sastra. gejala tersebut merupakan hasil dari rekaan pengarang yang dihasilkan dari kenyataan tersebut yang menunjukkan realitas dalam karya sastra. [2]
Sastra mampu mengemas realitas sosial menjadi lebih rapi, dan menawarkan banyak tafsir tiap pembacanya. Sehingga menghasilkan sebuah keadaan faktual pada karya fiksi. Sastra mampu membumikan ragam realitas sosial dalam sebuah teks. Gambaran lebih luas lagi dalam mengguat realitas adalah peran kepengarangan perempuan dalam melahirkan beragam karya sastra dari zaman ke zaman. Dalam pandang saya, atau bahkan dalam pernyataan kita; karya-karya pengarang perempuan tidak bisa mati dan tidak bisa dimatikan oleh zaman—relevansi yang lekat, bobot yang utuh serta panas yang terus menyala, ia terus hidup menyuarakan berbagai masalah sosial, budaya, gender dan kesetaraan.
Periode 1933-1942, para pengarang wanita jumlahnya tidak banyak, apalagi pada masa sebelum perang, yang paling terkenal adaalah Selasih atau Seleguri yang menulis dua buah roman Kalau Tak Untung (1933) dan Pengaruh Keadaan (1937), sajak-sajaknya banyak dimuat dalam majalah Poedjangga Baroe dan Panjdi Poestaka. Selanjutnya, periode perkembangan 1945-195, terdapat penulis bernama Ida Nasution, Waluji (Supangkat), S. Rukiah (Kertapati), St. Nuraini (Sani) dan Suwarsih Djojopuspito. Salah satunya Ida nasution pengarang esai yang berbakat. Ida menulis beberapa esai buah esai yang dimuat dalam majalah-majalan, tetapi kemudian menjadi korban revolusi, ia hilang ketika dalam perjalanan Jakarta-Bogor (1948). Suwarsih Djojopuspito pada masa sebelum perang, menjelang Jepang dtang tahun 1941, ia menerbitkan roman yang ditulisnya dalam bahasa Belanda, berjudul Buiten het Gareel (Di Luar Garis), dalam roman ini dilukiskannya kehidupan kaum pergerakan nasional Indonesia, terutama di lingkungan perguruan swasta (Taman Siswa) pada masa tahun tiga puluhan.[3]
Selanjutnya, periode 1953-1961 ada Nh.Dini dalam kumpulan cerpennya berjudul Dua Dunia, dalam cerpen-cerpen itu, Nh.Dini menunjukkan perhatiannya yang besar terhadap kepincangan-kepincangan sosial yang dia lihat terjadi di sekelilingnya. Pada 1961, para pengarang wanita kian bertambah seperti Titie Said, S.Tjahjaningsih, Titis Basino, Sugiarti Siswandi, Ernosiswati Hutomo. Enny Sumargono dan lain-lain sebagai pengarang prosa. Penyair Isma Sawtiri, Dwiarti Mardjono, Toety Heraty. [3] Para pengarang perempuan kian bertambah hingga kini seperti Ayu Utami, Dewi Lestari, Leila S. Chudori, Okky Madasari, dan lain-lain.
Selain itu kiprah perempuan dalam tulis menulis turut serta mewarnai literasi Indonesia seperti pada majalah perempuan Indonesia. Jadi, perempuan yang sering kali dianggap kaum marginal dalam berprestasi, tentu ditentang habis-habisan oleh para pengarang perempuan ini melalui karya-karyanya yang membungka segala bentuk penindasan.
Salah satunya berkembangnya dunia pers perempuan dalam majalah perempuan Indonesia. Perjalanan pers perempuan Indonesia dapat dibagi dalam 4 periode yakni periode kolonial 1908-1945; periode orde lama 1946-1966; periode orde baru 1967-1998; dan periode pasca reformasi 1998-kini. Masing-masing periode mencatat karakteristik media perempuan dan isu-isu yang berbeda-beda. Dalam periode kolonial, isi redaksional diwarnai isu-isu pentingnya pengetahuan dan pendidikan. Periode pra 1942, setidaknya tercatat 14 media perempuan. Era orde baru menandai perubahan karakter pers perempuan Indonesia, tercatat pada tahun 1966 terbit majalah Mutiara dan setahun sesudahnya Majalah Srikandi. [4]
Pandangan negatif terhadap perempuan, serta anggapan kerendahan kualitasnya, diperparah juga oleh masyarakat dan pendidikan di rumah tangga yang memprioritaskan anak lelaki dibandingkan anak perempuan. Padahal, kalau merujuk kepada kitab suci, kita tidak menemukan dasar dari superioritas satu jenis atas jenis yang lain. Perbedaan kualitas—yang selama ini terasa di masyarakat—lebih banyak disebabkan anatara lain oleh kurang tersedianya peluang bagi perempuan untuk berkembang melalui pendidikan dan pelatihan. Ditambah lagi dengan kurangnya minat perempuan atau dorongan lelaki terhadap mereka untuk mengembangkan diri akibat terendap dan meresapnya pandangan budaya yang keliru itu di bawah sadar. Ini terbukti antara lain dengan tampilnya sekian banyak perempuan yang memiliki prestasi yang menyamai, bahkan melebihi, prestasi laki-laki. Ini juga membuktikan bahawa perempuan dapat maju dan berprestasi jika mereka bertekad buat maju dan menciptakan peluang buat diri mereka. [5]
Menyoal perempuan: kekuatan persepektif dalam mempertahankan ketahanan negara. Perempuan punya peran penting dalam kekuatan sebuah bangsa. Ia hidup menjadi benang tak kasat, tapi menyatukan segala yang terberai. Tidaklah mungkin memang menyamakan laki-laki dan perempuang dengan dalih bahwa laki-laki pemimpin bagi kaum perempuan? Di antara dua jenis kelamin ini memiliki proporsional tugas dan kewajiban bersama. Yang saya garis bawahi adalah peran dan kualitas perempuan dalam sebuah prestasi bisa juga melampaui kaum lelaki atau perempuan itu sendiri (baca: perempuan tidak berdikari).
Dalam hal kepengarangan sastra—menulis-literasi—peran perempuan hendaknya bisa menjadi basis yang kuat dalam melihat realitas sosial sebagai sebuah gugatan bilamana terjadi ketimpangan sosial, terpenjaranya keadilan serta ketidaksetaraan hak dan kesempatan dalam berkarier. Sastra dan perempuan adalah urgensi yang terus dikembangkan melalui karya-karya pengarang perempuan sebagai sumbangsih literasi Indonesia.[]
[1] Yudiono K.S, Pengantar Sejarah Sastra Indonesi, (Jakarta: Grasindo, 2010), h.11
[2] Tanti Nur Wulandari, dkk. “Realitas Sosial dalam Kumpulan Cerpen Teriakan dalam Bungkam Karya Rizqi Turama.” Jurnal BASTRA. Volume 4. Nomor 3, 2019. h.407
[3] Ajip Rosidi, Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia, (Bandung: PT Dunia Pustaka Jaya, 2013), h. 68-134
[4] Jane Ardaneshwari, “Potret Dilema Perempuan Bekerja dalam Media Perempuan Indonesia”, Jurnal Perempuan, Vol.18 No.1, Maret, 2013, h. 29-32
[5] M Quraish Shihab, Perempuan, (Tangerang: Penerbit Lentera Hati, 2018), h. 118-119
***
Pamulang, 24 Oktober 2020
Tulisan ini pernah dikutsertakan dalam sayembara menulis artikel “Perempuan dan Keberagaman” yang diadakan oleh Puan Amal Hayati
