Dialog Rendra dan Kota Rangkasbitung: Sebuah Refleksi Realitas Sosial dalam Kumpulan Puisi Orang-orang Rangkasbitung Karya W.S. Rendra

Dalam kepengarangannya, Rendra sering kali menuliskan sajak-sajaknya tanpa kekayaan diksi yang mungkin kalah oleh penyair sezaman dulu, sezamannya, hingga sezaman kini. Namun, dalam pandang saya, atau bahkan dalam pernyataan kita; sajak-sajak Rendra tidak bisa mati dan tidak bisa dimatikan oleh zaman—relevansi yang lekat, bobot yang utuh serta panas yang terus menyala, ia terus hidup. Sajak-sajak Rendra terus bergulir menjadi manifestasi kekayaan sastra dan budaya; mampu diperdengarkan di muka umum atau pada sekalian khalayak, meskipun tetap tidak akan kehilangan maknanya bila hanya dibaca seorang diri.  Sajak-sajak Rendra berkelindan menjadi sebuah orasi sosial yang seringkali orang tertegun mendengarnya hingga muncul pertanyaan: siapakah Rendra?

Rendra atau nama lengkapnya Willibrordus Surendra Bhawana Rendra, lahir di Surakarta, 7 November 1935. Ketika masih duduk di bangku SMA St. Yosef, ia mulai menerbitkan sajak-sajaknya di berbagai majalah dengan memakai nama W.S. Rendra. Kemudian saat berusia 37 tahun di dalam berkarya seni ia menyederhanakan namanya menjadi “Rendra” saja sampai sekarang. Oleh karena pendidikan yang diajarkan oleh kedua orangtuanya yang ia dapat ketika pada masa kanak-kanak dan remaja, membawa pengaruh besar pada wawasannya, mengenai dinamika budaya bangsam emansipasi individu, kedaulatan rakyat, hak asasi manusia, pembelaan kepada daya hidup dan daya kreatif manusia sebagai individu dan masyarakat, pengembangan pandangan ilmiah dalam masyarakat, dan juga kepekaannya kepada masalah-masalah pendidikan dan keadilan sosial. [1]

Rendra menemukan rumusan estetik untuk sajak-sajaknya yang bertemakan sosial-politik sebagai berikut: metafora yang dipakai bersifat grafik dan plastik. Dan dalam bentuk semacam itu ternyata ia bisa menciptakan sajak-sajak yang enak dibaca di muka umum. Rendra berhasil melahirkan kumpulan sajak-sajak yang terdiri dari Ballada Orang-orang Tercinta (1957), Rendra: Empat Kumpulan Sajak (1961), Blues untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1980), Nyanyian Orang Urakan (1985), Rendra: Nine Poems (1990), Orang-orang Rangkasbitung (1990), Penabur Benih (1992), Disebabkan oleh Angin (1993), Mencari Bapa (1996), Perjalanan Bu Aminah (1996), Ten Poems (1997), Doa untuk Anak Cucu (2013) dan Rendra: Puisi-puisi Cinta (2015). Selain itu Rendra tidak hanya menulis puisi, seringkali ia juga menulis naskah drama, esai dan orasi kebudayaan. [1]

Tulisan ini akan menyoroti karya-karya Rendra sebagai penyair—bukan  dramawan, esais ataupun budayawan. Dunia kepenyairan Rendra sering kali bisa dikaji menggunakan sudut pandang yang luas dan terbuka, memberikan angin segar bagi khazanah puisi Indonesia. Maka itu, tulisan ini mengangakat tema realitas sosial pada kumpulan puisi Orang-orang Rangkabitung (1990). Pada kumpulan puisi Orang-orang Rangkasbitung terdapat sepuluh (10) puisi yang delapan (8) diantaranya berlatarkan kota Rangkasbitung—yang menjadi perhatian Rendra dalam sajak-sajak ini.

Pada tulisan ini, saya akan mencoba membuka lapisan terdalam ke-delapan puisi yang membahas kota Rangkasbitung ini dalam konteks masyarakatnya sebagai refleksi antara Rendra, karya sastra, dan realitas sosial pada masa itu yang tertuang dalam larik-larik yang mesti ‘diterjemahkan’ agar tak silap pemaknaannya. Kedelapan puisi itu berjudul Orang Biasa, Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Rotterdam, Kenapa Kautaruh…, Tokek dan Adipati Rangkasbitung, Kesaksian Bapak Saijah, Nyanyian Saijah untuk Adinda, Nyanyian Adinda untuk Saijah, dan Demi Orang-orang Rangkasbitung yang ditulis antara rentang waktu 1990-1991. Realitas sosial bisa diartikan sebagai bagian dari kajian sosiologi sastra yakni berkenaan tentang masyarakatnya yang hidup pada masa karya sastra itu ditulis atau terbit.

Hutomo dalam Endraswara menjelaskan sosiologi sastra adalah bagian ilmu sastra. Esensi sosiologi sastra adalah memandang karya sastra sebagai produk sosial budaya, dan bukan hasil dari estetik semata. Nada historis memang penting dalam studi sosiologi sastra, untuk menangkap kebermanfaatan sastra dari sebuah periode. [2] Seperti halnya sosiologi, sastra berurusan dengan manusia dalam masyarakat serta usaha manusia untuk menyesuaikan diri dan usahanya untuk mengubah masyarakat itu. Adaptasi manusia di masyarakat, merupakan makanan empuk sastrawan dalam berkreasi secara imajinatif. Itulah sebabnya, sosiologi dan sastra selalu memiliki titik temu yang signifikan. Dalam hal isi, sesungguhnya sosiologi dan sastra berbagi masalah yang sama. Dari pandangan ini, nampak bahwa sastra tidak akan lepas dari masalah sosial. [3]

Lebih dari itu, sastra mampu mengemas  realitas sosial menjadi lebih rapi, dan menawarkan banyak tafsir tiap pembacanya. Sehingga menghasilkan sebuah keadaan faktual dalam karya fiksi. Sastra mampu membumikan ragam realitas sosial dalam sebuah teks dalam hal ini kumpulan puisi Orang-orang Rangkasbitung karya WS.Rendra.

Realitas sosial mengandung arti kenyataan-kenyataan sosial di sekitar lingkungan masyarakat tertentu. Masyarakat terbentuk karena manusia menggunakan pikiran, perasan dan keinginannya dalam memberikan reaksi terhadap lingkungannya. Hal ini terjadi karena manusia mempunyai keinginan pokok yaitu, keinginan untuk menjadi satu dengan lingkungan alamnya.[4] Realitas sosial dalam karya sastra menunjukkan sebuah peristiwa yang terjadi di dunia nyata yang diimajinasikan kembali oleh pengarang dalam sebuah karya sastra. Dalam karya sastra, banyak terjadi interaksi antar individu yang membentuk suatu peristiwa. Peristiwa antar individu tersebut menimbulkan gejala sosial dalam karya sastra. gejala tersebut merupakan hasil dari rekaan pengarang yang dihasilkan dari kenyataan tersebut yang menunjukkan realitas dalam karya sastra. [5]

Realitas sosial dalam kumpulan puisi Orang-orang Rangkasbitung terdiri dari realitas sosial tentang status sosial, realitas tentang politik, realitas tentang keluarga, kebudayaan, dan hubungannya dengan peran sosial individu dan masyarakat. Rangkasbitung, menjadi daya tarik tersendiri bagi Rendra untuk menguliti sebagian kisah-kisahnya melalui Orang-orang Rangkasbitung: ada yang diceritakan tentang kisah pensiunan guru SD, pembongkaran rumah-rumah, kerinduan pada Rangkasbitung, kisah cinta Saija-Adinda, atau suara tokek yang bising hingga Multatuli yang dinobatkan sebagai asing yang bermata hati pribumi yang karenanya Max Havelaar terbit dalam rintihan.

 Rendra, lekat sekali dengan Rangkasbitung, pertama-tama saya mengetahui Rendra ‘membuatkan’ puisi Rangkasbitung yang kemudian sampai pada saya sajak pertama—saya ketahui—adalah Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Rotterdam, yang berisikan tentang kerinduan seorang pemuda pada kampung halamannya di Rangkasbitung—sebenarnya pada sajak ini, Rendra mencoba mengambarkan kekuasaan menjadi lebih terang benderang, kekuatan yang mesti menindasi rakyat kecil; menjadikan rakyat semakin jelata.

Tulisan ini bukan suatu hal yang menonjolkan kesubjektifan saya selalu kritikus, tapi setidaknya ada hal yang menggugah saya untuk mengenal daerah saya sendiri (Rangkasbitung) melalui puisi-puisi Rendra pada masa kolonial melalui Saija Adinda hingga pada masa Orde Baru. Hingga muncul dua pertanyaan sekaligus apakah Rangkasbitung dicintai Rendra sebagai objek yang ‘indah’ pada puisi-puisinya atau suatu tragedi menjadikan Rangkasbitung sorotan Rendra?

Rangkasbitung di tangan Rendra menjadi nama yang bersejarah pada perpuisian Indonesia. Kumpulan puisi Orang-orang Rangkasbitung patut diperbincangkan di kalangan karya sastra Indonesia, sebab daripadanya itu menawarkan salah satunya ketenangan hidup yang berkisar realitas sosial hubungan sorang ayah dan anak-anaknya (realitas sosial tentang hubungan kelurga), seperti yang dikutip pada puisi Orang Biasa, berikut ini.

……

apabila menjadi guru.
Semangatku bergelora,
gairah hidupku menyala
dalam suka maupun duka,
apabila aku menjadi guru.
Memang tidak istimewa untuk ukuran dunia.
Sangat, sangat biasa.
Tetapi aku, Rangkasbitung dan gandaria,
sebenar-benarnya,
adalah sangat, sangat biasa.

Kenapa anak-anakku menjadi gelisah,
hanya karena aku mantap menjadi orang
biasa?
Aku bukan panglima. Aku bukan bankir.
Bahwa aku mendapat ijazah itu sudah
anugerah.
Ilmu hitung dan bahasa Inggris mendapat nilai lima.
Tetapi! Te-ta-pi …
aku bukan orang yang putus asa
atau pun menderita.
Aku gembira.
Dan aku juga tidak rendah diri.
Aku bangga.
Sangat bangga.
Hidupku indah……(h.17-18)

      Pada kutipan puisi Orang Biasa di atas kita bisa saja menghakimi bahwa ulah sosial-lah—yang menjadikan sang ayah hendak ‘mengasingkan’ diri di Rangkasbitung, seyogyanya dalam Orang Biasa berisikan kenyataan sosial hubungan manusia yang lekat tentang penyerahan simbolik pada hidup dan kehidupan. Selain penyerahan sang ayah pada puisi Orang Biasa itu, ada pula penyerahan hubungan percintaan yang gugur sebelum mekar seperti pada puisi berjudul Nyanyian Saijah untuk Adinda dan Nyanyian Adinda untuk Saijah. Pada dua puisi tersebut ada beberapa akar yang menempelkan pada kisah Saija dan Adinda yang demikian lekat pula pada Max Havelaar karya Multatuli.

Puisi dengan judul Orang Biasa ditulis tahun 1990, mengisahkan tentang kedalaman cinta menjadi orang biasa yang daripadanya sudah cukup puas tinggal di kota Rangkasbitung, menjadi pensiunan guru SD. Meski menjadi orang biasa pun tetap menjadi perhatian korban proyek pembangunan negara, seperti dalam kutipan berikut.

  ……
Setelah pensiun
sebagai guru SD di Rangkasbitung,
aku menetap di sini.
Sebuah desa kecil, di pinggir kota itu.

Untung aku dulu sempat membeli tanah ini.
Memang murah, tetapi cocok dengan gaji
guru.
Dua puluh kali tujuh puluh meter.
Memanjang ke belakang.
Dengan pagar batu kali. Separoh badan.
Ketika istriku tercinta wafat,
aku makamkan ia di kebun belakang
dibawah pohon gandaria….. (h.10-11)

Tokoh pada puisi Orang Biasa menceritakan tentang keberhasilannya mendapatkan  ketenangan jiwa, tapi ia harus dihadapkan pada adanya realitas sosial tentang keluarga, kebudayaan, politik, serta perannya yang sebagai individu dan masyarakat biasa—yang harus menerima sebelah rumahnya jadi korban pembangunan negara.

……
Dekat setelah aku pensiun,
tanahku jadi korban pembangunan.
Tinggal dua puluh kali tiga puluh meter.
Akibat proyek jalan raya.

Hilanglah pohon-pohon nangka.
Bahkan rumah juga dibongkar.
Tinggal tanah enam ratus meter persegi,
pagar batu kali separoh badan,
rumpun bunga kana,
kuburan istriku,
dan gandaria.

Uang ganti rugi aku berikan kepada putra 
bungsuku.
untuk belajar ke Yogya.
Sekarang ia pembantu rektor di Gadjah Mada….. (h.11-12)

Apabila terus dalam menelisik kumpulan puisi Orang-orang Rangkasbitung karya Rendra ini, kita akan dihadapkan pada tokoh Multatuli pada puisi berjudul Demi Orang-orang Rangkasbitung yang menceritakan tentang sebuah potret pemerintahan daerah  yang tidak memihak pribumi, atau penjajah yang kadang kala berlagak ‘ingin pulang kampung’ tapi tetap berada di tempat: menjarah, menggunakan bahasa yang anggun dan sikap paling gagah. Perhatikan kutipan puisi berikut.

……
Tuan-tuan dan nyonya-nyonya,
Salam sejahtera!
Nama saya Multatuli
Datang dari masa lalu.
Dahulu abdi Kerajaan Belanda,
ditugaskan di Rangkasbitung,
ibukota Lebak saat itu.
Satu pengalaman penuh ujian.
Rakyat ditindas oleh bupadi mereka sendiri.

Petani hanya bisa berkeringat,
tidak bisa tertawa,
dan hak pribadi diperkosa.
Demi kepentingan penjajahan,
Kerajaan Belanda bersekutu dengan
kejahatan ini.
Sia-sia saya mencegahnya.
Kalah dan tidak berdaya.

Saya telah menyaksikan
bagaimana keadilan telah dikalahkan
oleh para penguasa
dengan gaya yang anggun
dan sikap yang gagah.
Tanpa ada ungkapan kekejaman di wajah
mereka.
Dengan bahasa yang rapi
mereka keluarkan keputusan-keputusan
yang tidak adil terhadap rakyat.
Serta dengan budi bahasa yang halus
mereka saling membagi keuntungan
yang mereka dapat dari rakyat
yang kehilangan tanah dan ternaknya.

Ya, semuanya dilakukan
sebagai suatu kewajaran.

Dan bangsa kami di negeri Belanda
pada hari Minggu berpakaian rapi,
berdoa dengan tekun.
Sesudah itu bersantap bersama,
menghayati gaya peradaban tinggi,
bersama sanak keluarga,
menghindari perkataan kotor,
dan selalu berbicara
dalam tata bahasa yang patut,
sambil membanggakan keuntungan besar
di dalam perdagangan kopi,
sebagai hasil yang efisien
dari tanam paksa di tanah jajahan….. (h.60-62)

Pada puisi Demi Orang-orang Rangkasbitung di atas, tak sampai setengah saya kutipkan, walau seperempat saja kita sudah bisa melihat ketidakberpihakan pemerintah daerah pada pribumi. Multatuli diibaratkan simbol luka para rakyat. Tak sampai di situ, pada puisi ini diperlihatkan realitas sosial dengan konkret tentang keadilan adalah hal yang tuli.

Tak sampai di sini, ada juga pada kumpulan puisi Orang-orang Rangkasbitung ini menyoal realitas sosial yang hubungannya dengan peran perempuan dalam puisi berjudul Kenapa Kautaruh… berikut kutipannya.

…… Kenapa kau taruh mawar-mawar berduri
di atas susumu?
Suatu pemandangan yang luar biasa.
Tapi kenapa?

”Aku taruh mawar-mawar berduri
sebagi protes kepada wartawan.”
Sejak aku meninggalkan Rangkasbitung
dan lalu menjadi None Jakarta,
para wartawan potret
suka mengincar dadaku.

Selanjutnya selama berminggu-minggu
setiap koran dan majalah
keranjingan dadaku
Bahkan sebuah majalah yang mabuk
memuat seabrek gambar dadaku
dengan diiringi syair yang berjudul:
“Bernaung dibawah dadamu,
ini namanya inflasi susu!”

 “Ini terlalu!”

Ada banyak masalah wanita
kecuali dadanya.
Para buruh wania masih kurang terjamin
haknya.
Metode keluarga berencana
terlalu mengorbankan wanita.
Wanita nakal disebut tuna susila.
Lelaki nakal disebut Sang Arjuna.
Surat izin usaha penerbitan
bukan sekedar nasi goreng di pinggir jalan.
Di dunia ini banyak mulut diplester.

Dan ia yang boleh bicara,
bukan membela mereka
yang dianggap sampah jalanan
tetapi malah ngomyang tentang dada dan
paha.

Pada kutipan puisi Kenapa Kautaruh…, Rendra menangkap keremangan yang terjadi pada kaum perempuan. Ada banyak sekali hal-hal yang Rendra ungkapkan dalam kumpulan puisi Orang-orang Rangkasbitung, berupa harapan, petualangan, keadilan, sinisme pada keadilan, tragedi dan metafor-metafor. Rendra dan Rangaksbitung, lekat sebagai karya. Realitas sosial menjadikan struktur puisi ini—yang bisa dikatakan menjadi arus yang tepat dalam mengkaji kumpulan puisi Orang-orang Rangkasbitung karya W.S. Rendra dalam menawarkan pandangan yang bisa dikaji lagi, karena realitas sosial hidup terus menerus berada di tengah masyarakat; menjadi bagian dari karya sastra.[]

[1] Rendra, Orang-orang Rangkasbitung, (Yogyakarta: Diva Press dan Mata Angin, 2017), h.70-71.
[2] Suwardi Endraswara, Sosiologi Sastra, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013), h. 1
[3] Suwardi Endraswara, Sosiologi Sastra, (Yogyakarta: FBS Universitas Negeri Yogyakarta, 2011).
[4] Tanti Nur Wulandari, dkk. “Realitas Sosial dalam Kumpulan Cerpen Teriakan dalam Bungkam Karya Rizqi Turama.” Jurnal BASTRA. Volume 4. Nomor 3, 2019. h.407
[5] Wulandari, dkk, Op.Cit.. h. 407

***
Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam sayembara kritik sastra 2020 yang diadakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.