Cerita yang Sangat Pendek di Kota B

Ilustrasi: Diciptakan oleh ChatGPT (2025). OpenAI. Diakses dari https://chat.openai.com

Beberapa becak bergantian melewati jalanan yang sunyi, satu dua terlihat membawa penumpang, tidak jarang juga berlalu tanpa penumpang. Sesekali kendaraan seperti mobil dan motor lalu lalang, menandakan kota ini sudah menyentuh gaya yang berbeda semenjak kutinggalkan 7 tahun lalu. Masjid Agung kebanggaan masyarakatnya semakin berdiri gagah dengan menara menjulang merayapi kaki-kaki langit. Masjid ini semakin semarak karena berada di tengah alun-alun kota—langsung menghadap ke pendopo lapangan yang ada di alun-alun—biasanya digunakan untuk upacara pemerintahan Kota B.

Kota B, aku sengaja menyamarkan nama kota ini, karena mungkin saja, ini keputusan yang tepat, mengingat semuanya samar tentang kota ini termasuk nama kotanya sendiri. Aku hanya mengingat satu hal, yang tak mungkin silap, meski puluhan tahun aku pergi: aku dilahirkan di kota ini. Di sebuah desa yang tidak begitu jauh dari pusat kota, tapi terasa jauh, karena jalanan yang rusak, pohon yang masih tinggi, serta akses angkutan umum sama sekali tidak masuk ke desaku, kecuali nyarter atau pengemudinya adalah sopir yang berasal dari desaku. Tapi itu dulu, sekarang orang-orang di desaku hampir seluruhnya mempunyai kendaraan pribadi baik itu motor atau mobil, meskipun tetap saja tak pernah ada angkutan umum seperti angkot yang masuk ke desaku.

Semuanya tidak risau, sebab mereka memiliki mobil mentereng yang mesti dibayar tiap bulannya. Betapa cepat semuanya berubah, betapa segalanya terasa asing. Aku yang asing, desa yang asing, kota yang asing. Hanya satu, yang tak pernah asing: Beliau. Beliau yang sedang kucermati di kejauhan dan mendengar kabarnya dari langit yang samar. Beliau, kusebut Beliau, karena tak ada satu keberanian pun aku mengatakan namanya—yang sebenarnya sudah lama menyembul-nyembul aku pintakan pertemuan dengannya.

Segala kerendahan yang bercokol di batinku, selalu urung menjadikan pertemuan menjadi nyata, menjadi sebuah kebahagiaan tak terperi, menjadikanku untuk pertama kalinya mengucap terima kasih yang banyak sekali. Aku ragu, apakah suasana itu akan datang atau hanya selesai di kepalaku. Lihat saja, sekarang saja aku hanya duduk di pelataran Masjid Agung sambil memandangi lalu lalang para petugas masjid yang terlihat bersemangat sekali, terpancar di sana rupa-rupa keikhlasan, keteduhan tapi juga kerinduan.

Aku beranjak meninggalkan masjid, menyeberangi jalan yang tidak terlalu besar menuju alun-alun. Lapangan alun-alun di Kota B ini terhitung cukup besar, dilengkapi pohon yang masih rimbun, pot-pot berisi tanaman segar lengkap tersedia bangku-bangku taman. Di sebelah barat alun-alun tersedia lapangan basket mini, juga bangku yang terlihat estetik karena ditaburi daun-daun kuning berguguran yang akan melelahkan jika terus disapu. Aku memilih melangkah ke bangku lapangan basket ini, karena hanya tempat ini yang paling kosong. Kira-kira 100 meter dari tempatku duduk terdapat air mancur yang pelatarannya dikelilingi muda-mudi, mereka bercakap, tapi menunduk. Mereka tertawa tapi menunduk, tak ada keriuhan di antara muda-mudi itu, selain bunyi-bunyi di telinga mereka masing-masing yang disumpal alat.

Sementara di pendopo alun-alun utama, terlihat seorang ayah sedang bermain dengan anaknya, pasangan yang berbicara serius, remaja-remaja yang tersenyum malu-malu, juga pedagang sepatu keliling sambil mengelap peluh di dahinya terlihat sedang menawarkan dagangannya. Akhirnya, aku merasa ada kehidupan yang sudah lama asing di mataku. Mungkin saja percakapanku akan sedemikian riuh bila pertemuan itu terjadi dengan Beliau. Mungkin saja, mungkin saja aku bisa mengatakan bahwa aku hidup dengan penuh kelambatan. Berbagai kemungkinan membuat kepalaku sakit.

“Sakit?” tanya seorang anak kecil seraya menujuk keningku yang sedang kupijat sembarang.

Aku tersenyum dan menggelang cepat, “Sini duduk” tawarku sambil mengangkat tas ketika melihat anak ini hanya berdiri memperhatikanku lekat-lakat.

Anak kecil ini bermata bulat bersih, wajahnya polos sekali sama halnya dengan kakinya yang polos—tanpa alas, sedangkan tangannya memegangi beberapa bungkus tisu serta tumpukan kantong pelastik baru.

“Kalau sakit, tuh di sana ada rumah sakit” jari mungilnya menunjuk sebuah rumah sakit megah yang tidak jauh dari Masjid Agung.

“Tapi itu rumah sakit buat orang kaya doang” tambahnya sambil terkekah, “Om orang kaya bukan? Kalau orang kaya, belilah daganganku ini” katanya sambil memamerkan giginya yang kekuningan tapi bertengger rapi. Lalu dia menunjukkan tisu dan kantong pelastik dagangannya penuh semangat. Aku tertawa mendengar promosi dagangannya.

“Berapa harga tisu? Buat apa itu kantong pelastik?” tanyaku penuh selidik.

“Tisu tigaribu-an aja Om, kantong pelastik ya buat wadah” jawabnya singkat.

“Yasudah tisunya tiga, kantong pelastinya satu saja” kataku sambil membuka dompet.

Anak kecil itu bergegas memberikan pesananku dengan bersemangat, “Sepuluh ribu aja Om.” Aku menyerahkan selembar uang duapuluhribu-an, “Sisanya buatmu, terima kasih ya tadi sudah perhatian sama saya.”

Wajah anak kecil itu berseri bahagia lantaran dapat keuntungan sepuluh ribu tapi kemudian menampakan wajah yang bingung, “Perhatian apa Om?”

Aku tertawa sambil mengacak rambutnya lalu melangkah pergi.

“Makasih Om! Moga panjang umur!!!” teriak anak kecil itu. Aku hanya melambaikan tangan.

Dalam hati kecilku, aku setengah mengaminkan doa anak kecil itu, karena bila doa itu terkabul, aku akan semakin lama bertemu dengan Beliau yang semakin kurindu.[]

Tangerang Selatan, 2022-2023

Cerita pendek dalam bahasa Inggris, klik di sini