Keran air kamar mandi adalah bunyi paling menenangkan bagi ke-seorangan-diri yang berusia mungkin bisa dikatakan menuju tua, berisik dan menyebalkan. Cerat pancurannya mengalirkan banyak kegelisahan di antara hari-hari yang cengkar dan membosankan. Ada banyak keingintahuan yang tidak perlu, kerepotan palsu, kebisingan tetangga yang dibising-bisingkan, kepedulian yang hijau keunguan atau tawa masam dari orang-orang yang katanya dekat secara darah, doa rupa-rupa, segala puji-pujian, iri-irian yang menebal hingga caci maki yang mengasyikkan, adalah hal-hal yang menjadikan makin pedar segala hal yang mungkin sebenarnya manis.
Papan tombol ini berteriak meyakinkan bahwa inilah tempat membagikan segala kecemasan mewah, rimbanya pikiran dan kerasnya membenci. Rupa-rupa hal kuistirahatkan dalam perjalanan muda ini, misalnya menulis, mengabdi, mendengarkan dan berbicara. Namun, papan tombol memberi kelayakan untuk membangunkan istirahat bagian pertama, setelah sebelumnya—dalam jiwa—apa manfaatnya bagi pembaca?—nanti orang bagaimana bacanya? Rimbanya pikiran menjadikan makin rimbun penantian.
Manfaat adalah sebuah kelainan bagi diri yang takut tidak mewujud, bergaung, memikirkan hal-hal yang tidak perlu direncanakan. Manfaat akan meluruh seiring kejujuran narasi-narasi paling tajam sekaligus bening, oase yang dibutuhkan kebanyakan ke-seorangan- diri yang dipadupadankan dengan kelelahan bertubi-tubi. Tunggu saja, ada banyak nasib serupa, tapi berbeda dalam penanganan di antara sukma-sukma yang berusaha mengisi dengan curah spirit setapak demi setapak.
Diam-diam, memata-matai inginnya diri adalah hobi yang tidak dibayar, tapi sontak menarik jarak paling jauh untuk tidak perlu menyapa hal-hal yang merumitkan. Ada bagian diri yang belum dikenal, tapi biasanya mati-matian berusaha mengenal orang lain, atau berlagak manut mendengar nasihat dari mereka yang tidak punya nasihat untuk dirinya sendiri. Dari paling diri dan atma, ada banyak hal ramai yang perlu disimak tanpa melibatkan orang-orang lain yang sebenarnya sedang repot dengan batu-batunya sendiri.
Lantas siapa sebenarnya yang paling tidak repot dan bersedia mendengarkan sekaligus menjawab hal-ikhwal kesedihan, kesenangan dan menguapnya emosi ke-seorangan-diri ini (tanpa tanda tanya) adalah ketinggian dan tempat bernaung paling teduh, meski kepala kita menyentuh tanah yang menguarkan bau rumah abadi tiap kali memohon kesegalaan.
Ada banyak penyalahan, seperti pertanyaan yang dirumuskan pada materi berita, tapi juga kekalahan setelah mendengarkan jawaban-jawaban. Sekedarnya saja, dalam menangkup tangan di dada atau kalau tidak, tangan itu akan membalik hingga serat putihnya kelihatan. Konsep makhluk sosial yang sering didengungkan bisa jadi sebuah fragmen-fragmen yang belum utuh menjawab bagaimana seharusnya menyambung dan berjarak.
Kerasanya tuturan kata, pedasnya tukikan mata atau curamnya kepedulian, banyak menjadikan jarak-jarak makin terbentang, itu lebih baik, jangan bertahan. Menyelamlah lebih dalam, gunakan kacamata paling tegas, akan banyak pertemuan terumbu karang yang rusak akibat cakar dan gesitnya makhluk yang dinobatkan sebagai makhluk sosial—katanya itu sebutan umum dan terus menyebar di lembahnya lisan-lisan yang terus bergerak, mencampuri urusan. Diri sendiri adalah kedalaman perhatian yang mesti diutuhkan, bukan lagi dengan mengintai diam-diam.
Tulisan healing #2 ditulis oleh dan untuk si empunya blog dan mungkin cocok untuk kalian yang kita sama. Bertaut!
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
