
Perbedaan novel dengan film terletak dari cara mengkaji aspek naratif dan sinematografinya. Jika pada novel yang dilihat hanya aspek atau elemen naratifnya saja, maka dalam film selain aspek naratifnya yang dilihat dan dianalisis, aspek sinematografi juga signifikan untuk disoroti, bahkan merupakan suatu komposisi wajib dalam menghasilkan analisis film yang mumpuni. Aspek atau elemen naratif dalam film sama halnya dengan aspek naratif yang ada pada novel dan cerpen yaitu segala hal yg berkaitan dengan peristiwa atau terbentuknya cerita, plot atau alur, tokoh, penokohan, latar, dan lain-lain. Sedangkan aspek atau elemen sinematografi terdiri dari unsur visual dan unsur sonor. Unsur visual (terlihat) terdiri dari pencahayaan dan warna, sudut pandang, dan teknis-teknis sinematografis. Sedangkan unsur sonor (terdengar) terdiri dari suara manusia, vokal, efek suara, musik yang terbagi ke dalam diegesis (suara yg ditemukan dalam film) dan non-diegesis (sumber suara tidak terdapat dalam film). Pada pembahasan ini akan dilakukan sintesis dari perbandingan dua buku yaitu dalam buku The Art of Watching Films (edisi ke-7) karya Joseph M. Boggs & Dennis W. Petrie dan Looking At Movies: An Introduction to Film (edisi ke-5) karya Richard Barsam & Dave Monahan. Perbandingan akan terfokus pada aspek naratif dan sinematografi yang terdapat dalam bagian bab (chapter) pada kedua buku tersebut.
Perbandingan Aspek Naratif
Aspek atau elemen naratif dalam buku The Art of Watching Films (edisi Ke-7) karya Joseph M. Boggs & Dennis W. Petrie terdapat pada chapter 3 dengan judul Fictional and Dramatic Elements. Pada bab ini membahas tentang elemen naratif yang terbagi ke dalam elemen atau unsur-unsur cerita yang baik itu meliputi cerita yang disatukan dalam plot atau alur cerita (a good story is unified in plot), selain itu cerita yang baik harus kredibel atau masuk akal sehingga dapat dipercaya (a good story is credible). Cerita yang baik dan bagus harus menarik artinya mampu menangkap dan mempertahankan minat penonton (a good story is interesting). Selain itu, cerita yang baik itu sederhana dan kompleks (a good story is both simple and complex).Maksud dari sederhana ini yakni cerita harus cukup sederhana sehingga dapat diekspresikan dan disatukan secara sinematik. Sedangkan cerita yang bagus juga harus memiliki beberapa kompleksitas, setidaknya cukup untuk mempertahankan minat kita.
Terakhir, sebuah cerita yang bagus dan baik harus menampilkan elemen atau efek emosional yang kuat pada hampir semua cerita sehingga mampu memanipulasi penonton, tapi manipulasi ini harus jujur dan sesuai dengan cerita (a good story handles emotional). Selain aspek cerita yang bagus, dalam buku The Art of Watching Films ini disinggung juga pentingnya judul (the significance of the). Melalui judul yang tertera, penonton dapat mengetahui tentang film itu, karakter-katakternya, kisah dalam judul juga tergambarkan—judul memiliki satu makna bagi penonton sebelum menonton film.
Ada pula struktur dramatik (dramatic structure) yaitu pengaturan bagian-bagian yang estetis dan logis untuk mencapai dampak emosional, intelektual, atau dramatis yang maksimal. Aspek struktur dramatik dapat berupa linier atau nonlinier, tergantung pada kebutuhan dan keinginan penulis. Kedua pola tersebut mengandung unsur yang sama yaitu eksposisi, komplikasi, klimaks, dan akhir.
Jika dalam bahasa Boggs dan Petrie dibahasakan sebagai dramatic structure, berbeda halnya menurut Richard Barsam dan Dave Monahan dalam bukunya Looking At Movies: An Introduction to Film pada chapter 4 (Elements of Narrative) yang menyebutkan sebagai narrative structure atau struktur narasi dapat dibagi menjadi tiga bagian dasar yang berfungsi sebagai awal, tengah, dan akhir cerita. Setiap bagian melakukan tugas naratif mendasar. Babak pertama mengatur cerita, babak kedua dan terpanjang mengembangkannya serta babak ketiga menyelesaikannya.
Selanjutnya, karakterisasi (characterization) juga disinggung dalam buku The Art of Watching Films dan Looking At Movies: An Introduction to Film yang berkenaan tentang characters. Karakterisasi dalam The Art of Watching Films dimaknai sebagai karakter harus tampak nyata, dapat dimengerti dan layak untuk diperhatikan. Karakterisasi ini meliputi karakterisasi melalui penampilan yang menekankan pada aspek utama dari karakterisasi film terungkap secara visual (characterization through appearance), ada juga karakterisasi melalui dialog (characterization through dialogue) yaitu yang secara alami mengungkapkan banyak hal tentang diri para aktor melalui apa yang mereka katakan—penggunaan tata bahasa, struktur kalimat, kosa kata, dan dialek tertentu oleh aktor mengungkapkan banyak hal tentang karakter mereka. Selanjutnya, karakterisasi melalui tindakan eksternal (characterization through external action) yang memperlihatkan hubungan yang jelas antara karakter dan tindakannya; tindakan harus tumbuh secara alami dari kepribadian karakter. Sebaliknya karakterisasi melalui tindak internal (characterization through internal action) menyoroti tindakan batin. Karakterisasi selanjutnya melalui reaksi karakter lain (characterization through reactions of other characters) yang terkadang banyak informasi tentang karakter utama sudah ‘disampaikan’ karakter lain—melalui cara tersebut sarana karakterisasi dinilai sangat baik sebelum karakter pertama kali muncul di layer. Karakterisasi melalui pilihan nama (characterization through choice of name) juga ikut disoroti Boggs dan Petrie dalam buku ini yang memperlihatkan salah satu metode karakterisasi yang penting. Selain itu masih ada dua karakterisasi yang tersisa yakni characterization through contrast: dramatic foils dan characterization through caricature and leitmotif.
Jika aspek karakterisasi ini diperbandingkan dengan Barsam dan Monahan dalam Looking At Movies: An Introduction to Film diperlihatkan bahwa konsep karakter (characters) dalam buku ini diawali dengan tampilan contoh yang kemudian menyoroti pada konsep karakter. Barsam dan Monahan menyebutkan bahwa hampir setiap narasi film bergantung pada dua elemen penting yaitu karakter yang mengejar tujuan. Sifat pengejaran itu tergantung pada latar belakang karakter, posisi, kepribadian, sikap, dan keyakinan. Sifat-sifat ini mengatur bagaimana karakter bereaksi terhadap peluang dan masalah, membuat keputusan, bertindak berdasarkan keputusan tersebut, dan menangani konsekuensi dari tindakan tersebut. Tidak seperti Boggs dan Petrie dalam The Art of Watching Films yang menyebutkan macam-macam karakterisasi hingga menjabarkan konsep varietas karakter (varieties of characters), Barsam dan Monahan dalam Looking At Movies: An Introduction to Film lebih menekankan aspek contoh-contoh karakterisasi pada film-film yang disebutkan seperti contoh serial The Hunger Gams.
Selain aspek karakter, Barsam dan Monahan juga menyebutkan elemen-elemen naratif (elements of narrative) yang memperlihatkan perbedaan cerita dan plot, order, events, duration atau durasi yang mengidentifikasi tiga jenis durasi khusus yaitu durasi cerita, durasi plot dan durasi layar, juga elemen naratif lain seperti suspense versus surprise, repetition, setting atau latar dan scope. Selain itu dibahas juga penulisan skenario (the schreenwiter) yang menjadi bekal analisis pada contoh film di akhir bab.
Sementara itu aspek-aspek naratif lain yang disoroti oleh Boggs dan Petrie dalam The Art of Watching Films salah satunya adalah konflik (conflict) yang dimaknai sebagai sumber utama dari setiap cerita dan sangat penting bagi karakter yang terlibat. Selain itu, dikaji juga allegory, symbolism, dan irony yang tidak disebutkan oleh Barsam dan Monahan. Namun, dalam bukunya ini Looking At Movies: An Introduction to Film, Barsam dan Monahan menyertakan contoh analisis narasi pada film Stegecoach karya John Foard yang menganalisis aspek story, schreenwriter, schreenplay, narration dan narrator. Kemudian dianalisis juga karakterisasi, struktur narasinya, plot atau alur cerita hingga aspek naratif lainnya.
Perbandingan Aspek Sinematografi
Aspek atau elemen sinematografi dalam buku The Art of Watching Films karya Joseph M. Boggs & Dennis W. Petrie terdapat pada chapter 5 dengan judul Cinematography and Special Visual Effects, sedangkan pada buku Looking At Movies: An Introduction to Film karya Richard Barsam & Dave Monahan terdapat pada chapter 6 dengan judul Cinematography. Pada buku The Art of Watching Films, Boggs dan Petrie pertama-tama menyoroti tentang pentingnya gambar visual yang menyebutkan bahwa film berbicara dalam bahasa indera. Kualitas estetika dan kekuatan dramatis gambar sangat penting bagi kualitas keseluruhan sebuah film. Pada film sinematik (the cinematic film) yang paling penting dari ini adalah kualitas gerakan terus menerus dan terlihat menarik, kemudian adanya interaksi gambar, suara, dan gerakan yang terus menerus di layar menghasilkan ritme yang bervariasi, kompleks, dan halus.
Konsep sinematografi dalam buku The Art of Watching Films ini selaras dengan konsep sinematografi Barsam dan Monahan dalam bukunya Looking At Movies: An Introduction to Film yang menyebutkan bahwa sinematografi adalah proses menangkap gambar bergerak pada film atau perangkat penyimpanan digital. Barsam dan Monahan juga menyebutkan dalam membuat analisis dan evaluasi sebuah film, kita perlu mempertimbangkan apakah sinematografer bekerja sama dengan pembuat film lain dalam proyek telah berhasil memanfaatkan kekuatan bahasa visual ini untuk membantu menceritakan kisah dan menyampaikan maksud. Dengan demikian pemaknaan awal mengenai sinematografi dalam dua buku ini adalah sama yakni meletakkan sinematografi sebagai sesuatu yang signifikan dalam keberlangsungan sebuah film.
Pada pembahasan selanjutnya dalam The Art of Watching Films dibahas mengenai sudut pandang sinematik (cinematic points of view) yang terdiri dari sudut pandang objektif (objective point of view) atau kamera sebagai pengamat sampingan, selanjutnya sudut pandang subjektif (subjective point of view) yaitu sudut pandang visual dan intensitas emosi yang dirasakan oleh karakter yang berpartisipasi dalam aksi tersebut. Kemudian sudut pandang subjektif tidak langsung (indirect-subjective point of view) yaitu tidak memberikan sudut pandang partisipan, tetapi mendekatkan kita pada tindakan sehingga kita merasa terlibat secara intim. Terakhir yaitu sudut pandang interpretasi sutradara (director’s interpretive point of view) yang menekankan pada sutradara tidak hanya memilih apa yang akan ditampilkan kepada kita, tetapi juga bagaimana kita akan melihatnya. Sementara pada buku Looking At Movies: An Introduction to Film tidak dibahas mengenai sudut pandang atau point of view pada sinematik. Barsam dan Monahan langsung membahas tentang properti sinematografi atau cinematographic properties of the shot yang termasuk didalamnya pencahayaan, lensa, warna juga empat jenis lensa utama seperti the short-focal-length lens, the long-focal-length lens. although the short dan long extremes dan the zoom lens.
Selain itu, dibahas juga pembingkaian bidikan framing of the shot yang juga dibahas pada buku The Art of Watching Films yaitu elemen komposisi sinematik (elements of cinematic composition) yang membahas tentang setiap pengambilan gambar ditentukan oleh sifat media film, setiap bidikan harus dirancang dengan mempertimbangkan tujuan komposisi sinematik. Tujuan-tujuan ini mengarahkan perhatian ke objek yang paling penting, menjaga gambar tetap bergerak, dan menciptakan ilusi kedalaman. Sementara dalam Looking At Movies: An Introduction to Film membahas framing of the shot adalah proses sinematografer menentukan apa yang akan muncul di dalam batas gambar selama pengambilan gambar. Pembingkaian mengubah pandangan mata manusia yang relatif tak terbatas menjadi gambar film yang terbatas—pemandangan tak terbatas menjadi tampilan terbatas. Proses ini kedekatan dengan kamera subjek utama, kedalaman komposisi, sudut dan tinggi kamera, skala berbagai objek dalam hubungannya satu sama lain, dan jenis gerakan kamera. Dalam pembahasan framing of the shot ini juga dibahas salah satunya tentang camera angle, handheld camera, lighting dan lain-lain yang juga dibahas dalam buku The Art of Watching Films pada bagian teknik sinematk khusus.
Pandangan dan Simpulan terhadap Aspek Naratif dan Aspek Sinematografi dalam Buku The Art of Watching Films dan Looking At Movies: An Introduction to Film
Setelah melakukan sinstesis dengan membandingkan buku The Art of Watching Films dan Looking At Movies: An Introduction to Film ini terlihat bahwa masing-masing penulis; keduanya sama-sama menekankan aspek naratif dan aspek sinematografi pada film. Boggs dan Petrie menyebutkan sastra dan film berbagi dan mengomunikasikan banyak unsur atau elemen naratif dengan cara yang sama. Analisis naratif pada film bertumpu pada prinsip-prinsip yang digunakan dalam analisis sastra. Sementara Barsam dan Monahan menekankan pada aspek narasi dan narator. Bahwa narasi merupakan bagian budaya kehidupan kita. Cerita dan penceritaan melekat dalam kehidupan kita sehari-hari, termasuk film yang kita tonton. Namun, aspek-aspek naratif yang tertera dalam buku The Art of Watching Films dinilai lebih lengkap karena sampai menyentuh area simbol dan ironi. Sedangkan dalam buku Looking At Movies: An Introduction to Film memang terkesan kurang lengkap, tetapi pada buku ini disertakan juga konsep penulisan skenario (the schreenwriter) juga ditampilkan contoh analis naratif pada film. Dengan demikian, kedua buku ini bisa dikatakan saling melengkapi. Sementara itu pada aspek sinemtografi dalam The Art of Watching Films dan Looking At Movies: An Introduction to Film, keduanya terlihat melengkapi dan mumpuni sebagai sebuah buku kajian film—menerangkan contoh dan aspek sinematografi secara jelas.[]
Daftar Referensi
Barsam, Richard & Dave Monahan. 2016. Looking At Movies: An Introduction to Film. (Edisi ke-5). New York: W.W. Norton & Company.
Boggs, Joseph M. & Dennis W. Petrie. 2008. The Art of Watching Films. (Edisi ke-7). New York: McGraw-Hill.
