Membongkar Kedudukan Sastra Melayu-Tionghoa dalam Sejarah Sastra Indonesia Modern

Sebuah Telaah pada Kajian Claudine Salmon dalam buku Sastra Indonesia Awal: Kontribusi Orang Tionghoa (2010)

Foto Buku: Dok.Pribadi

Kesusastraan Melayu-Tionghoa berkembang pesat pada kurun waktu 1870-1966, jauh sebelum adanya kemunculan Balai Pustaka. Tulisan ini mencoba membongkar lebih dalam tentang kedudukan sastra Melayu-Tionghoa dalam khazanah kesusastraan Indonesia modern dengan mengkaji sebuah buku penting berjudul Sastra Indonesia Awal: Kontribusi Orang Tionghoa karya Claudine Salmon. Pada pembahasan ini juga akan ditampilkan beberapa pro dan kontra kedudukan sastra Melayu-Tionghoa menurut pakar sejarah sastra lainnya.

Buku berjudul Sastra Indonesia Awal: Kontribusi Orang Tionghoa karya Claudine Salmon diterbitkan pertama kali dalam bahasa Indonesia oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerja sama dengan École frangaise d’Extrême-Orient, Forum Jakarta-Paris, Pusat Bahasa, Yayasan Nabil, Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), dan MTjersil (Masyarakat Tjerita Silat). Para penerjemah terdiri dari Ida Sundari Husen, Arif Bagus Prasetyo, Ida Budi Pranoto, Anton Kurnia, Hendra Setiawan, Maria Sundah, Fanny Thoret Hadiyanto, dan Yerry Wirawan. Buku ini dicetak pertama kali pada Desember 2010 terdiri dari 562 halaman.

Buku Sastra Indonesia Awal: Kontribusi Orang Tionghoa merupakan penelitian panjang Cludine Salmon—karya paling cemerlang—sepanjang saya membaca buku-buku lain tentang sejarah kesusastraan Melayu-Tionghoa. Buku ini menawarkan gambaran yang jelas dan padat tentang kontribusi sastra Melayu-Tionghoa terhadap sejarah kesusastraan Indonesia modern.

Pada halaman awal buku dijelaskan bahwa gambar sampul buku ini menggambarkan seekor klin atau binatang mitis dari Tiongkok, yang juga ditemukan sebagai motif batik daerah pesisir. Gambar ini hasil karya Abay D. Subarna (lulusan Universitas Paris I, Sorbonne), dan berdasarkan sebuah batik Cirebon.

Melalui gambar sampul ini tergambarkan bahwa keterkaitan dan keterikatan Sastra Melayu-Tionghoa dan kaum pribumi akan dibahas lebih jauh dalam buku ini. Sedangkan di bagian sampul belakang buku Sastra Indonesia Awal: Kontribusi Orang Tionghoa karya Claudine Salmon ini terdapat sinopsis yang mencoba menerangkan secara ringkas isi buku dan kaitannya dengan sejarah sastra Indonesia dan sastra masa awal yaitu sastra Melayu Tionghoa.

Disebutkan bahwa novel Indonesia pertama bukanlah Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, tetapi Tjhit Liap Seng (Bintang Tujuh) karya Lie Kim Hok, seorang Tionghoa dari Bogoryang terbit 35 tahun sebelumnya dan bukan terbit awal 1920-an seperti yang diterbitkan Balai Pustaka. Sebelum muncul karya Lie Kim Hok tersebut, Sastra Melayu-Tionghoa sudah lebih dulu didahului aktivitas penulis peranakan lain yang sejak tahun 1850-an, dengan munculnya dunia pers dan penerbitan. Data-data ini mengundang kita untuk memandang kesusastraan Indonesia modern dengan mata baru yaitu menggeser perhatian kita terhadap sastra kaum peranakan atau sastra Melayu-Tionghoa.

Membaca Sastra Indonesia Awal: Kontribusi Orang Tionghoa Melalui Kajian Claudine Salmon

Terdapat  20 artikel dalam buku Sastra Indonesia Awal: Kontribusi Orang Tionghoa ini ditulis oleh Prof. Dr. Claudine Salmon, seorang peneliti asal Prancis, yang sebelumnya menulis buku berjudul Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu pada tahun 1985 yang berisi tentang studi perkembangan kesusastraan Melayu-Tionghoa yang terbagi dalam beberapa periode. Prof. Dr. Claudine Salmon, lulusan  Universitas Sorbonne, Paris, tahun 1970. Beliau adalah anggota Yayasan Archipel, yaitu kelompok peneliti Prancis tentang sejarah dan kebudayaan Nusantara yang didirikan oleh Pierre Labrousse, Denys Lombard dan Christian Pelras pada tahun 1970. Claudine Salmon yang hampir setiap tahun selama 40 tahun  berkunjung ke Indonesia untuk meneliti sejarah dan kebudayaan Indonesia. Tepatnya mulai meneliti sejak berkesempatan bermukim di Jakarta tahun 1967-1969. Latar belakang pendidikannya adalah tentang bahasa dan sejarah Tionghoa, maka, beliau langsung memusatkan perhatiannya pada masyarakat Tionghoa di Indonesia. Di antara para pakar, baik Indonesia maupun asing, yang meneliti sejarah dan kebudayaan kaum Peranakan di Indonesia, Claudine Salmon termasuk yang paling terkemuka. Claudine Salmon menerima Yayasan Nabil Award yang pertama di Jakarta tahun 2007 untuk kontribusinya di bidang tersebut. Hasil penelitiannya telah mengungkapkan sejumlah besar data baru tentang kedudukan dan kehidupan kaum peranakan di Indonesia dari sudut yang beraneka ragam salah satunya melalui kepengarangan dan menunjukkan betapa erat interaksi antara kaum peranakan dan orang pribumi sepanjang sejarah sastra Indonesia.

Claudine Salmon selama 40 tahun telah meneliti masyarakat Tionghoa di Indonesia dari segi sejarah, budaya, sosial, dan sastra. Dalam buku Sastra Indonesia Awal: Kontribusi Orang Tionghoa telah terangkum 20 artikel pilihan yang pernah ditulisnya tentang sastra Melayu-Tionghoa Peranakan dari paruh kedua abad ke-19 sampai masa awal kemerdekaan—yang nantinya pada tulisan ini akan lebih disoroti tentang kaitan kontribusinya sastra Melayu-Tionghoa terhadap khazanah kesusastraan Indonesia modern. Melalui artikel-artikel pilihan yang dikelompokkan dalam empat bab dalam buku ini, tergambarkan kesusastraan dalam bahasa Melayu dan di samping bahasa Tionghoa yang mencerminkan cara para pendatang Tionghoa baik para pedagang atau para cendikiawan dan keturunan mereka telah sedikit demi sedikit masuk dunia budaya Nusantara terutama Hindia Belanda. Hal ini menyebabkan terjadinya proses akulturasi atau percampuran budaya pribumi, Tionghoa, serta Indo-Belanda dan memunculkan arus kepengarangan sastra Melayu-Tionghoa dan kontribusinya pada sejarah panjang sastra Indonesia.

Pada buku ini terdapat bab satu yang berjudul “Kebudayaan leluhur dan terjemahan karya-karya Tionghoa.” Bab satu ini terdiri dari lima artikel pilihan yang membahas bekal budaya yang dibawa serta oleh para imigran. Artikel pertama pada bab satu berjudul “Wang Dahai dan Pandangannya tentang Negeri-Negeri Kepulauan (1791)”membahas tentang tiga orang cendikiawan yang melakukan perjalanan ke Nusantara di antaranya yang pertama Cheng Xunwo (1709-1749) yang mengikat perjanjian kerja di Batavia, Cheng telah ditugaskan untuk menulis laporan tentang Batavia yang berjudul Gelaba jilüe atau “Laporan singkat tentang Kelapa” (yaitu Batavia). Kedua, cendikiawan Chen Hongzhao (1710-1773) pernah tinggal lima bulan di Batavia pada tahun 1749 yang menjadi tamu dari kepala komunitas Tionghoa, Kapitan Huang Zhenguan, ia juga berkunjung ke Banten dan Semarang. Chen Hongzhao menulis sebuah esai berjudul Bayou jilüe atau “Laporan singkat tentang perjalanan ke Batavia.” Selanjutnya yang terakhir adalah cendikiawan Wang Dahai yang telah tinggal di Jawa selama sepuluh tahun dari tahun 1783-179 berturut-turut tinggal di Semarang, Pekalongan dan Batavia. Pada tahun 1791, menulis sebuah esai berjudul Haidao yizhi atau “Catatan-catatan lepas tentang negeri-negeri kepulauan”, yang diterbitkan pada tahun 1806. Ketiganya sama-sama berasal dari provinsi Fujian. Dalam artikel ini ditampilkan ulasan sudut pandang Wang Dahai terhadap Nusantara, dengan membandingkannya dengan sudut pandang Cheng Xunwo dan Chen Hongzhao yang juga pernah tinggal di Batavia, pada abad ke-18.

Artikel kedua berjudul “Awal Sastra Melayu-Tionghoa Dicerminkan oleh Sebuah Syair Iklan Tahun 1886” membahas tentang syair iklan yang ditulis di Semarang pada tahun 1886 oleh seorang Bernama Ting Sam Sien. Teksnya berbentuk syair Melayu yaitu puisi yang panjangnya tidak terbatas dan terdiri atas bait-bait yang mengandung empat larik dan berima a-a-a-a. Syair itu ditulis oleh seorang pedagang dengan tujuan promosi untuk memperkenalkan kepada khalayak ramai terjemahan roman-roman Tionghoa berjumlah 41 yang pada waktu itu sedang dipasarkan di tokonya.

Artikel ketiga berjudul “Terjemahan Roman Tionghoa ke dalam Bahasa Melayu (1880-1930)” ditulis oleh Claudine Salmon dan Denys Lombard, membahas tentang arus penerjemahan yang terjadi pada awal mula Sastra Melayu-Tionghoa Lie Kim Hok (1853-1912) adalah salah satu penulis pertama yang menerjemahkan dari bahasa Belanda sejumlah roman petualangan Barat. Selain itu, beberapa orang peranakan lainnya menerjemahkan dari bahasa Belanda misalnya Gouw Peng Lian atau Gouw le Siang. Pada artikel ini dibahas mengenai isi buku-buku terjemahan dan segi linguistiknya. 

Artikel keempat berjudul “Sanbao Taijian di Indonesia dan Terjemahan Xiyang ji dalam Bahasa Melayu” membahas novel Xiyang ji atau “Perjalanan di Lautan Barat” yang menceritakan  perjalanan Sanbao taijian, Kasim Sanbao, atau Laksamana Zheng He di Laut Selatan. Tokoh yang disebut terakhir itu lebih dikenal secara lokal terkadang dengan nama Sam Po (Sanbao) dan ditandai adanya Gua Sam Po dekat Semarang. Perhatian besar masyarakat Tionghoa-Indonesia untuk Xiyang ji dapat dijelaskan mungkin oleh kenyataan bahwa sampai sekarang ekspedisi Zheng He tetap dikenang di Jawa dan di wilayah-wilayah lain di Nusantara.

Artikel kelima berjudul “Sam Kok di Dunia Melayu: Agama dan Sastra” membahas tentang cerita Sanguozhi yanyi atau serita Sam Kok yang menceritakan sejarah “Tiga Kerajaan.” Kisah Sam Kok tergambarkan oleh ketenaran salah satu tokohnya Bernama Guan Yu. yang telah didewakan dan dipandang sebagai pelindung kaum pedagang. Di Nusantara salah satunya, banyak ditemukan lukisan-lukisan dinding yang menggambarkan beberapa adegan cerita tersebut.

Bab kedua berjudul “Keterlibatan Saudagar-Saudagar Terpelajar dalam Masyarakat Nusantara pada Akhir Abad Ke-19.” Pada bab ini dibahas tentang penggunaan sastra untuk mengungkapkan kritik atau perasaan takjub terhadap masyarakat Hindia Belanda dan modernitas. Pada bab ini dibahas lima penulis berturut-turut yaitu empat berasal dari Jawa yaitu Lie Kim Hok , Boen Sing Hoo (nama aslinya Tan Tjin Hoa), Tan Teng Kie dan Tan Hoe Lo dan yang kelima dari Sumatra yaitu Na Tian Piet. Lima pengarang ini terpecah pembahasannya pada lima artikel. Artikel pertama pada bab dua ini berjudul “Asal-Usul Novel Melayu Modern: Tjhit Liap Seng (Bintang Toedjoeh) Karangan Lie Kim Hok (1886-1887),” mengulas tentang Lie Kim Hok menulis novel Indonesia yang pertama dengan meminjam dua kisah fiksi sekaligus, satu Prancis, satu Belanda, namun dengan menempatkan alur ceritanya di Tiongkok. Lie Kim Hok atau L.K.H sebelumnya pernah mendirikan percetakan Tionghoa yang kedua di Bogor pada 1885.  Artikel kedua pada bab dua berjudul “Sorotan Kritik Terhadap Pakter Candu dalam Syair Sindiran Boen Sing Hoo (Semarang, 1889)” membahas tentang syair sindiran yang berjudul Boekoe Sair Binatang yang ditulis oleh Boen Sing Hoo (nama sebenarnya, Tan Tjien Hwa). Boen menggunakan sebuah syair sindiran untuk melancarkan sebuah kritik pedas terhadap beberapa pakter opium di Jawa Tengah.

Artikel ketiga pada bab kedua berjudul “Na Tian Piet dan Pandangannya atas Dunia Melayu Tahun 1890-an” membahas tentang Na Tia Piet E, sastrawan abad ke-19, asal Bengkulu, bekerja sebagai pedagang yang sering bepergian antara Sumatra, Singapura, Penang, dan Jawa. Pada waktu-waktu luang, ia suka menulis reportase dan syair, yang kemudian diterbitkannya dalam surat-surat kabar Hindia-Belanda dan Singapura.

Artikel keempat berjudul “Maskapai Kereta Api Timur Batavia dan Pembentukan sebuah “Daerah” Baru seperti Tercermin dalam Sebuah Syair Karya Tan Teng Kie (1890),” membahas seorang pengarang bernama Tan Teng Kie dengan menyoroti dalam bentuk syair tentang kereta api. Puisi ini berjudul Sj’air djalanan kreta api ja itoe Bataviasche asterpoorweg dengan personeelnja bij gelengenheid van de opening de lijn karang-Kedung-gede bezongen oleh Tan Teng Kie ditulis menggunakan bahasa campuran  Melayu dan Belanda.

Artikel kelima berjudul “Kisah Perjalanan Seorang Saudagar Peranakan ke Eropa: Tan Hoe Lo di Paris (1889)” membahas tentang saudagar peranakan Tan Hoe Lo yang menulis dalam bentuk prosa kesan-kesannya tentang perjalanannya di Eropa, khususnya di Paris.

Pada bab ketiga berjudul “Bangkitnya Masyarakat Tionghoa Peranakan di Jawa pada Permulaan Abad ke-20”, pada bab ini terdapat 3 artikel yang membahas sebuah gerakan nasionalis di kalangan para peranakan Tionghoa pada tahun-tahun akhir abad ke-19, ajaran Konfisius dan pengembangan pendidikan sekolah Tionghoa modern mulai terbentuk. Artikel pertama pada bab ketiga ini berjudul “Syair Tiong Hoa Hwe Kwan Batavia (1905)” membahas tentang sebuah syair karya Tjia Ki Siang (1905) yang memuji Tiong Hoa Hwe Koan (THHK)  yaitu Perkumpulan Tionghoa yang didirikan tahun 1900 dan usaha perkumpulan itu untuk membuka sekolah-sekolah di Batavia dan di kota-kota lain. Syair tersebut berjudul Boekoe sair Tiong Hwa Hwe Kwan koetika boekanja passar derma.

Artikel kedua berjudul “Tentang Kunjungan Sebuah Armada Kekaisaran Tiongkok di Jawa pada Tahun 1907” mengulas sebuah syair lain yang terbit tahun 1907, karya seorang penulis anonim untuk memperingati kunjungan resmi dua kapal penjelajah yang mengawal utusan Yang Shiqi.

Selanjutnya, artikel ketiga berjudul “Keluarga Han dari Keresidenan Besuki Seperti Dicerminkan dalam Sebuah Novelet Karya Tjoa Boe Sing (1910)” membahas salah satu roman sejarah  yang berlatar belakang masyarakat peranakan yang ditulis oleh Tjoa Boe Sing pada tahun 1910.

Bab keempat berjudul “Kesusastraan Periode 1920-1980-an sebagai Cermin Sosial” menyoroti keseluruhan masyarakat Indonesia yang mengalami banyak perubahan politik dan sosial, maka kesusastraan yang berkembang turut mengikuti perubahan tersebut. Artikel pertama pada bab empat ini bejudul “Masyarakat Pribumi Indonesia di Mata Penulis Keturunan Tionghoa (1920-1941)” membahas para pengarang seperti Liem Khing Hoo, Soe Lie Piet dan Njoo Cheong Seng. Antara 1920 dan 1923 dikemukakan satu cerita yang mengambil latar masyarakat Sumatra dan empat yang lain mengisahkan cerita dalam masyarakat bukan Tionghoa di Jawa.

Artikel kedua pada bab empat berjudul “Banjir Darah di Bawah Pohon Kelapa: Sebuah Pandangan Radikal Terhadap Hindia Belanda (1929)” memaparkan tentang karya sastra berbahasa Tionghoa dalam bentuk buku di Hindia Belanda yaitu sebuah kumpulan cerita karya Zheng Tufei yang diterbitkan pada awal Juni 1929 di Shanghai berjudul Yezi ji (Pohon Kelapa) itu dicetak tanpa kata pengantar atau penutup.  

Artikel ketiga pada bab empat berjudul “Penulis Wanita Tionghoa di Indonesia dan Pandangannya Tentang Emansipasi Kaum Wanita” para pengarang wanita yang, mulai tahun 1920-an mulai membicarakan kondisi sosial mereka. Data menunjukkan total pengarang dan penerjemah sebanyak kurang lebih 800, dengan sekitar 30 di antaranya wanita, yang karya sastranya terbagi dalam periode pertama, sejak permulaan sampai 1924, dicirikan oleh penulisan puisi, dan belakangan oleh munculnya terjemahan pertama novel-novel Tionghoa yang dilakukan wanita; periode kedua mulai 1925 hingga 1928.

Selanjutnya artikel keempat pada bab empat berjudul “Masyarakat Peranakan dan Utopia: Dua Roman Melayu Tionghoa (1934-1939)” membahas jenis sastra utopia yang terdapat dalam dua roman karya Liem Khing Hop, penulis Tionghoa peranakan yang dilahirkan di Jawa. Roman-romannya, yang ditulis dalam bahasa Melayu dan muncul di majalah Tjerita Roman, yang diterbitkan di Surabaya, masing masing berjudul “Berdjoeang” dan “Masjarakat.”

Artikel kelima pada bab empat berjudul “Dunia Sastra dan Seni Masyarakat Tionghoa Makassar (1930-1950)” mengupas secara khusus kebudayaan dan kesusastraan berbahasa Melayu di kalangan kaum peranakan dari Makassar. Terjemahan naskah roman Tionghoa ke dalam bahasa dan tulisan Makassar salah satunya yakni Liêm Kheng Yong, yang dikenal di Sulawesi Selatan.

Artikel keenam pada bab empat berjudul “Di Persilangan Kesusastraan dan Sejarah: Taufan Gila Karya Njoo Cheong Seng (1950)” membahas novel Taufan Gila ditulis tahun 1950 oleh Njoo Cheong Seng dengan menggunakan nama samaran Monsieur d’Amour.

Selanjutnya artikel terakhir pada bab empat berjudul “Sebuah Pandangan Tionghoa tentang Revolusi Indonesia: Petualangan Gao Yangtai (1982)” membahas sebuah novel berjudul Zhinaren Gao Yangtai atau “Orang Tionghoa Gao Yangtai”, yang di sepanjang alur kisah sentimental tentang percintaan antara seorang gadis Jawa dan pemuda Tionghoa. Pengarang novel ini, Chen Jinlan dan suaminya, Zhang Jichun yang keluarganya berasal dari Fuqing (Fujian), tinggal di Hong Kong sejak 1981.

Membongkar Kedudukan Sastra Melayu-Tionghoa dalam Sastra Indonesia Modern

Jika kita melihat dengan lebih rinci gambaran yang ditampilkan Claudine dalam buku Sastra Awal Indonesia: Kontribusi Orang Tionghoa, kita dapat memahami tindak laku para pengarang peranakan yang sangat erat dengan kesusastraan pribumi bahkan melebur menciptkaan kebudayaan berdampingan. Namun, berbagai pendapat mengatakan bahwa kesusastraan Melayu-Tionghoa ini dianggap hanya bayangan dan bukan bagian dari sejarah sastra Indonesia secara “resmi.” Berbagai pendapat itu telah ditanggapi oleh Maman S. Mahayana melalui artikelnya berjudul Masalah Angkatan dalam Sastra Indonesia yang dimuat dalam Sembilan Jawaban Sastra Indonesia: Sebuah Orientasi Kritik (Mahayana, 2005: 389-400). Menurut Maman, Ajip dan Teeuw secara apriori telah menyimpulkan kelahiran kesusastraan Indonesia modern hanya berdasarkan karya yang dipublikasikan sebagai buku. Karya yang terbit dalam majalah dan surat kabar telah ditenggelamkan. Oleh karena itu, pelacakan lebih lanjut mengenai sumbangan media massa itu bagi kesusastraan Indonesia merupakan tuntutan yang mendesak. Dengan demikian, pemahaman mengenai periode Balai Pustaka mesti dimaknai sebagai masa menjelang dan awal berdirinya lembaga penerbitan itu (Yudiono, 2010).

Sementara itu Jakob mengatakan kesusastraan modern golongan pribumi Indonesia telah lama direkayasa oleh pemerintah kolonial sejak tahun 1910 dengan mendirikan Commisie Voor de One Volkslectuur dan berlanjut dengan Balai Pustaka pada tahun ank 1917. Rekayasa pemerintah kolonial ini rupanya belajar dari Onga kegagalan penjajahan Inggris di India. Di India seperti Indonesia, pemerintah jajahan memberikan pendidikan kepada golongan pribumi India untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terdidik dalam pemerintahannya, tetapi pemerintah tidak mengontrol bacaan mereka. (Sumardjo,2004, p.35)

Beberapa penulis sejarah sastra (Rosidi, 1969; Teeuw, 1980; Pradopo, 2009; dan Yudiono K.S. 2010) menegaskan bahwa awal sastra Indonesia modern adalah 1920-an dan menjadikan Balai Pustaka, yang merupakan bagian politik kolonial Pemerintah Belanda menjadi tonggak penting awal kesusastran Indonesia. Dengan melihat fakta itu, Watson (1971) menegaskan perlunya sejarah sastra awal Indonesia direkonstruksi (Ding Choo Ming, 1978). Kajian Salmon (2010) tentang kesusastraan ini membuktikan bahwa kesusastraan ini bagian tak terpisahkan dari Sastra Indonesia Modern dan merupakan mata rantai pokok dari perkembangannya (Bahtiar, Waluyu, Suwandi:48: 2021). Dalam buku itu Claudine diperlihatkan bahwa pers Melayu-Tionghoa dan para penulis peranakan Tionghoa memainkan peranan besar dalam menyebarluaskan bahasa Melayu sebagai lingua franca di Indonesia sejak tahun 1890-an. Bahasa Melayu yang digunakan pengarang peranakan tidak ada bedanya dengan bahasa Melayu kaum nasionalis Indonesia awal abad XX. Bahasa inilah yang menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia. (Rosida dan Bahtiar, 2011, p.20)

Berbagai pendapat ini menegesakan bahwa Sastra Melayu-Tionghoa patut menjadi bagian dari sejarah sastra Indonesia modern mengingat pembacaan kita pada Sastra Indonesia Awal: Kontribusi Orang Tionghoa yang memperlihatkan arus penerbitan karya-karya peranakan ikut meramaikan dan memperkaya sastra Indonesia modern. 20 artikel yang terdapat dalam empat bab buku tersebut seluruhnya menampilkan karya-karya kepengarangan dengan menampilkan isu-isu yang terjadi di Hindia-Belanda yang ditampilkan melalui kisah-kisah, baik terjemahan maupun asli.

Pada penelitain Claudine Salmon dalam Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu yang merupakan terjemahan dari bagian pertama buku yang berjudul Literature in Malay by the Chinese of Indonesia. A Provisional Annotated Bibliography, tercatat dan dibicarakan lebih dari 3000 karya sastra Melayu oleh pengarang Cina peranakan di Indonesia dari berbagai corak dan bentuk seperti sandiwara, syair, terjemahan karya-karya Barat, terjemahan dari bahasa Cina, novel, serta cerpen asli (Salmon,1985).

Dengan melihat berbagai argumen dan kajian mendalam pada beberapa karya sastra-Melayu Tinghoa melalui penelitian Claudine Salmon dalam Sastra Indonesia Awal: Kontribusi Orang Tionghoa menjadikan sastra Melayu-Tionghoa dapat diperhitungkan kedudukannya karena kontribusinya dan sebagai penyumbang  awal mula kesusastraan Indonesia modern.[]

Daftar Referensi

Bahtiar, Ahmad, dkk.  Menelisik Sastra Melayu Rendah Dan Kedudukannya Dalam Sejarah Sastra Indonesia Modern. 2021. Alayasastra, Volume 17, No. 1

Erowati, Rosida dan Bahtiar, Ahmad. 2011. Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Lemlit UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Claudine Salmon. 2010. Sastra Indonesia Awal: Kontribusi Orang Tionghoa. Jakarta: KPG bekerja sama dengan Ecole Francaise d’Extreme-Orient,  Forum Jakarta-Paris, Pusat Bahasa, Yayasan Nabil, Perhimpunan Tionghoa Indonesia (INTI), dan MTjersil (Masyarakat  Tjerita Silat).

Claudine Salmon. 1985. Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu. Jakarta: Balai Pustaka.

K.S, Yudiono. 2010. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: PT Grasindo)

Sumardjo, Jakob. 2004. Kesusastraan Melayu Rendah Masa Awal. Yogyakarta : Galang Pres