Kajian Ekokritik: Perbandingan Pendekatan Ekokritik Dalam Dua Buku Kajian Ekokritik

Tangkapan layar sampul depan buku Beginning Theory: An Introduction to literary and cultural theory (edisi ke-2) karya Peter Barry Diakses dari https://books.google.co.id/books?id=SNy26bx7L5UC&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_atb#v=onepage&q&f=false dan buku Ecocriticism (edisi ke-2) karya Greg Garrard Diakses dari versi ebook dalam koleksi pribadi.

Kajian ekokritik hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap alam serta resistensi tehadap segala sesuatu yang mengeksploitasi alam. Pendekatan ekokritik menentang sifat alam yang hanya menjadi objek pemenuh kebutuhan manusia—alam tidak bisa habis dan ditanggalkan hanya oleh pelaku kapitalis. Pendekatan ekokritik hadir sebagai kajian lintas disiplin ilmu salah satunya kajian pada karya sastra. Sastra selalu menjadi rekaman realitas sosial yang terjadi pada saat itu. Ekokiritik hadir sebagai kajian bagi teks-teks sastra tentang bagaimana hubungan alam dan manusia, manusia dengan alam, dan respons dari keduanya. Sering kali melalui teks-teks sastra (termasuk film: ekosinema), kita bisa melihat “pernyataan” alam yang sudah sedemikian rapuh.

Alam yang direpresentasikan dalam teks-teks naratif menjadi bentuk pendekatan menarik yang harus terus dikaji dengan cara memahami teori-teori atau pandangan kajian ekokritik dari berbagai ahli dan negara. Konsep dan teori ekokritik ini menjadi tolok ukur penelitian pada teks-teks sastra yang membutuhkan pendekatan ekokritik. Teori-teori ekokritik akan dibahas pada tulisan ini tentang perbandingan dua buku yang membahas pendekatan ekokritik yakni dalam buku Beginning Theory: An Introduction to literary and cultural theory edisi ke-2 karya Peter Barry dan Buku Ecocriticism edisi ke-2 karya Greg Garrard.

Perbandingan Konsep Pendekatan Ekokritik

Peter Barry dalam bukunya yang berjudul Beginning Theory: An Introduction to literary and cultural theory menempatkan ecocriticism atau ekokritik pada bab 13 yang berisi sejarah ekokritik di Amerika dan Inggris; pemaknaan green studies; konsep culture and nature; hingga apa yang dilakukan oleh kajian ekokritik. Sementara Greg Garrard dalam bukunya Ecocriticism membahas lebih dalam tentang rincian kajian yang melingkupi ekokritik seperti pollution atau pencemaran; positions yang didalamnya membahas salah satunya ekofeminsme; Heideggerian ecophilosophy; social ecology; dan eco-marxism;  hingga deep ecology.

Garrard dalam bukunya juga membahs kajian pastoral, hutan belantara (wilderness), bencana (apocalypse), tempat tinggal (dwelling), binatang (animals), serta masa depan bumi futures the earth. Barry lebih menitikberatkan pada konsep awal (pengantar) ekokritik sedangkan pada Garrard menekankan pada pembahasan kajian ekokritik secara lebih rinci dan mendalam. Namun, dalam buku Beginning Theory karya Barry kita diajak untuk mengetahui dan memahami sejarah hadirnya ekokritik yang tidak dijelaskan pada buku Ecocriticism karya Garrard. Secara lebih umum, Barry menawarkan sebuah pengantar, sedangkan Garrard menawarkan kajian analisis kasus. Hal ini bisa dimengerti karena Barry menulis buku Beginning Theory dirancang sebagai konsep pengantar beberapa pendekatan teori sastra selain ekokritik seperti strukturalisme, postrukturalisme, posmodernisme, psikoanalisis, feminisme dan lain-lain. Namun, karena sifatnya buku pengantar, buku ini bukan berarti buku yang tidak menawarkan konsep apa pun—Barry dalam bukunya yang padat dan lugas ini—membuat kita makin tertarik untuk mempelajari pendekatan yang dibahas didalamnya.

Ekokritik sebagai salah satu kajian yang dibahas dalam buku Beginning Theory ini membahas tujuan hingga contoh ekokritik. Pembahasan diawali dengan sejarah kemunculannya. Dalam bukunya, Barry menjelasakan ekokritik sebagai sebuah konsep pertama kali muncul pada akhir 1970-an. Barry menuliskan konsep ekokritik dari Cheryll Glotfelty yang diakui di AS sebagai pendiri. Glotfelty menyatakan bahwa ekokritik adalah studi tentang hubungan antara sastra dan lingkungan fisik. Istilah ecocriticism atau green studies menjadi pendekatan kritis yang dimulai di Amerika Serikat pada akhir 1980-an dan di Inggris pada awal 1990-an.  Dalam sejarahnya, di AS terdapat tiga penulis besar abad 19 yang karyanya membicarakan tentang nature (Ralph Waldo Emerson, 1803-1882), the life force (Margaret Fuller, 1810-1850) dan wilderness (Henry David Thoreau, 1817-1862). Sedangkan di Inggris, merujuk pada Romantisisme Inggris tahun 1790-an, tokoh pendirinya adalah Jonathan Bate.

Selanjutnya, Barry mengemukakan konsep culture dan nature yang menjelaskan bahwa hal yang paling mendasar adalah bahwa para ahli ekokritik menolak segala sesuatu yang dikonstruksi secara sosial dan atau linguistik. Alam tidak dapat direduksi menjadi konsep praktik budaya semata. Kepedulian ekokritik kepada culture dan nature misalnya, apa yang dapat kita sebut ‘lingkungan luar’ sebagai serangkaian area yang berdampingan dan tumpang tindih yang bergerak secara bertahap dari alam ke budaya, seperti area wilderness misalnya gurun, lautan, daratan tak berpenghuni, dan tak ramah. Selanjutnya, area scenic sublime atau pemandangan indah, misalnya hutan, danau, pegunungan, tebing, air terjun. Lalu ada area countryside yaitu pemandangan daerah pedesaan, misalnya perbukitan, ladang, hutan, terakhir ada  domestic picturesque yaitu keindahan lokal, misalnya taman, kebun, dan jalan setapak.

Jika dalam Beginning Theory karya Barry dibuka dengan konsep awal dan sejarah ekokritik, pada buku Ecocriticism yang ditulis Garrard ini dibuka dengan masalah pollution atau pencemaran. Garrard menghadirkan isu dan kasus pencemaran diawali dengan dongeng Carson tentan lingkungan modern dimulai dengan ‘A Fable for Tomorrow’, dalam Silent Spring karya Rachel Carson (1962) yang mengatakan bahwa dahulu pernah ada sebuah kota di jantung Amerika di mana semua kehidupan tampak hidup selaras dengan lingkungannya dan makmur; ada gambaran peternakan, ladang hijau, bunga liar, burung yang tak terhitung jumlahnya, dan lain-lain. Namun, tiba-tiba penyakit aneh  merayapi daerah itu dan semuanya mulai berubah; ayam, sapi, dan domba jatuh sakit dan mati. Di mana-mana ada bayangan kematian. Begitulah Garrad menulis bukunya sebagai awal perkenalan ekokritik yang selanjutnya membahas tentang pencemaran pestisida organik. Di tengah pembahasan, seperti halnya Barry, Gerrard juga mengutip konsep ekokritik dari Glotfelty. Gerrard juga menyebutkan ekokritik adalah teori yang unik di antara teori-teori sastra dan budaya kontemporer karena hubungannya yang erat dengan ilmu ekologi.

Pada bab selanjutnya yaitu position, Garrard menjelaskan singkat tentang berbagai orientasi politik dan filosofis dalam spektrum lingkungan yang luas, sebagian untuk memperjelas bahwa tidak ada perspektif tunggal atau sederhana yang menyatukan semua ekokritik. Pada bab ini, Garrard membaginya ke dalam cornucopia, environmentalism, deep ecology, ecofeminism, social ecology and eco-marxism, dan Heideggerian ecophilosophy. Dalam kajian lingkungan atau environmentalism, Gerrard menjelaskan tentang isu-isu lingkungan seperti pemanasan global dan polusi; Deep ecology berpendapat tentang pengurangan populasi jangka panjang di seluruh dunia; social ecology and eco-marxism menjelaskan seperti halnya ekofeminisme. Posisi-posisi yang dibahas di sini tidak menunjukkan bahwa masalah lingkungan disebabkan oleh sikap antroposentris semata, tetapi mengikuti sistem dominasi atau eksploitasi manusia oleh manusia lain.

Selanjutnya Garrard pada bab 3 dalam buku Ecocriticism menuliskan tentang pastoral yang salah satunya adalah classical pastoral hingga pastoral ecology. Tradisi pastoral ini dan  signifikansinya bagi lingkungan hidup adalah tradisi kesusastraan khusus, yang melibatkan retret dari kota ke pedesaan atau memisahkan  diri dari dunia ramai (perkotaan) untuk mencari ketenangan batin (desa). Seperi halnya Barry dalam bukunya Beginning Theory, Garrard juga menyinggung tentang konsep Wilderness yang terdiri dari old world wilderness, the sublime, new world wilderness, the trouble with wilderness, dan penulis Austin, Leopold  dan Abbey sebagai penulis tentang alam abad kedua. Gagasan tentang hutan belantara yang menandakan alam dalam keadaan tidak tercemar oleh peradaban, adalah konstruksi alam yang paling kuat yang tersedia bagi lingkungan Dunia Baru. Ini adalah konstruksi yang dimobilisasi untuk melindungi habitat dan spesies tertentu, dan dipandang sebagai tempat untuk menyegarkan kembali mereka yang lelah dengan polusi moral dan material kota. Hutan belantara menawarkan janji pembaruan, hubungan otentik manusia dan bumi.

Penulisan tentang hutan belantara Amerika cukup luas, tetapi tokoh kuncinya adalah Thoreau dan Muir pada abad kesembilan belas, Mary Austin (1868-1934), Aldo Leopold (1887-1948) dan Edward Abbey (1927-89). Selanjutnya, Gerrad membahas tentang Apocalypse atau bencana. Pembahasan tentang Apocalypse adalah satu-satunya metafora utama yang paling kuat dan merupakan komponen penting dari wacana mental lingkungan. Ia mampu membuat para aktivis, mungkin mempengaruhi pemerintah dan kebijakan komersial.

Garrard juga menjelaskan tentang Dwelling atau tempat tinggal yang terdiri dari georgic, Modern georgic: Berry, Berger and Sale, The ‘Ecological Indian’ Writing relations: Silko and Erdrich, dan The trouble with animism. Wacana tempat tinggal menjadi salah satu kajian ekokritik Garrard. Berkenaan dengan tempat tinggal ini, Garrard juga menampilkan Silko dan Erdrick yang pada karya-karyanya membahas tentang suku Indian dan ekologi Indian. Salah satu novel Leslie Marmon Silko adalah Ceremony (1977) yang mencontohkan tentang penataan kembali ritual veteran perang ras campuran yang rusak. Ia mencoba melakukan penyelarasan seperti itu dengan memasukkan cerita-cerita paralel dari tradisi lisan Pueblo tentang pahlawan dan roh budaya.

Kajian selanjutnya adalah tentang animals atau hewan. Kajian ini sepertinya tidak disebutkan dalam buku Barry Beginning Theory. Garrard menjelaskan kajian hubungan hewan dan manusia dalam humaniora terbagi antara analisis representasi hewan dalam sejarah dan budaya, atau studi hewan, dan pertimbangan filosofis hak-hak hewan. Kajian terakhir yaitu tentang futures: the eart atau masa depan bumi yang menjelaskan tentang perubahan utama bumi, untuk kemudian menyarankan kemungkinan masa depan untuk ekokritik.

Pandangan dan Simpulan terhadap Kajian Ekokritik Buku Beginning Theory: An Introduction to literary and cultural theory Karya Peter Barry dan Buku Ecocriticism Karya Greg Garrard

Pada buku Beginning Theory: An Introduction to literary and cultural theory karya Peter Barrysecara runut  menuliskan tentang apa saja yang mungkin dilakukan oleh ekokritik salah satunya membaca ulang sastra-sastra besar atau kanon dengan perspektif dengan perhatian khusus pada representasi dari dunia alam. Kemudian memperluas jangkauan praktik kritik sastra dengan menempatkan penekanan baru pada penulisan faktual yang relevan, terutama pada materi topografis seperti esai, catatan perjalanan, memoir, dan sastra daerah.  Para ahli ekokritik juga juga berpaling dari ‘konstruktivisme sosial’ dan ‘determinisme linguistik’ dari teori-teori sastra yang dominan (dengan penekanan mereka pada konstruksi linguistik dan sosial dari dunia luar) dan sebaliknya menekankan nilai-nilai ekosentris dari pengamatan yang cermat, tanggung jawab etis kolektif, dan klaim dunia di luar diri kita.

Sementara pada Garrard menekankan pada analisis kasus—teori ekokritik Garrard sudah banyak digunkaan oleh para kritikus dalam kajian-kajian penelitian ekokritik dalam teks sastra maupun ekosinema dalam film. Jika dalam buku Ecocriticism terdapat bab-bab yang menjelaskan konsep dan kasus pollution atau pencemaran, positions, pastoral, hutan belantara (wilderness), bencana (apocalypse), tempat tinggal (dwelling), binatang (animals), serta masa depan bumi futures the earth. Namun, dalam banyak penelitian ilmiah, beberapa penelitian cenderung hanya menggunakan teori Garrard meliputi pencemaran (pollution), hutan belantara (wilderness), bencana (apocalypse), perumahan/tempat tinggal (dwelling), binatang (animals), dan bumi (earth). Setelah membedah buku Ecocriticism lebih dalam lagi tampaknya wacana seperri pastoral juga patut dijadikan pisau analisis kajian ekokritik, karena fokus ekokritik sastra adalah untuk mengeksplorasi cara-cara dalam memberikan gambaran hubungan antara manusia dan lingkungan dalam segala bidang salah satunya alam pedesaan.

Setelah melakukan sintesis dan perbandingan antara buku Beginning Theory dan Ecocriticism didapatkan beberapa perbedaan dan kesamaan. Perbedaan terletak pada cakupan bahasan yang seperti sudah disinggung sebelumnya. Jika pada buku Beginning Theory karya Peter Barry ini merupakan buku pengantar kajian awal beberapa teori sastra bukan merupakan buku khusus yang mengkaji kajian atau pendekatan ekokritik, berbeda halnya dengan buku Ecocriticism karya Greg Garrard merupakan buku yang khusus mengkaji pendekatan ekokritik. Jadi perbandingan mendasar tampaknya terlihat dari proporsional bahan kajian.

Namun, bukan berarti buku Barry ini bukan merupakan buku yang tidak layak dibaca, buku Beginning Theory: An Introduction to literary and cultural theory edisi ke-2 karya Peter Barry sangat layak dibaca sebagai buku pengantar, bahkan setelah membaca secara mendalam buku Barry bisa disebut sebagai buku penarik minat pada kajian-kajian sastra, karenanya kita diajak mendalami pendekatan-pendekatan yang sudah sedemikian menarik dan lengkap ditulis Barry meliputi konsep, sejarah, kritik-kritik, hal-hal apa saja yang dilakukan oleh pendekatan tersebut hingga menghadirkan contoh. Dengan demikian, buku Beginning Theory: An Introduction to literary and cultural theory karya Peter Barry ini sangat cocok untuk dibaca sebagai pengantar dan penawar minat lebih dalam lagi pada kajian-kajian sastra.

Sedangkan pada buku Buku Ecocriticism edisi ke 2 karya Greg Garrard, kajian ekokritik dihadirkan sedemikian jelas dan mencakup banyak isu lingkungan salah satunya animal right atau hak-hak hewan yang terkadang luput menjadi kajian. Namun, buku Ecocriticism karya Greg Garrard ini memang lebih cocok bagi peneliti yang akan terjun dalam kajian ekokritik, karena di dalam buku ini, Garrard banyak menampilkan perbandingan, isu, kajian serta analisis yang membutuhkan kita membaca lebih fokus dan mendalam. Buku Ecocriticism karya Garrard ini menjadikan teori ekokritik makin tereksplor dengan baik.

Dengan demikian, perbandingan mendasar pada buku Beginning Theory: An Introduction to literary and cultural theory edisi ke-2 karya Peter Barry dan Buku Ecocriticism edisi ke 2 karya Greg Garrard terletak pada pola penyajian: jika Barry menekankan pada konsep awal, sedangkan Garrard pada analisis kasus. Kedua buku ini memiliki sifat saling melengkapi artinya jika ingin membaca kajian ekokritik secara sederhana sebagai konsep awal maka buku Beginning Theory bisa dijadikan landasannya untuk kemudian dilanjutkan dengan buku Ecocriticism karya Greg Garrard.

Daftar Referensi

Barry, Peter. (2002). Beginning Theory. An Introduction to literary and cultural theory (Edisi ke-2). Manchester & New York: Manchester University Press.

Garrard, Greg. (2012). Ecocriticism (Edisi ke-2). New York: Routledge.