Pada darah, pada tubuh, kuciptakan puisi sepi: semalam aku berbahasa jari melepaskan kuku-kuku menerjemahkan darahnya, ada puisi di alirnya terlampau pucat untuk melahirkan sari makanan
darahku kehabisan metafora
kupeluk tubuhku sendiri
dibiarkannya merasai napas sendiri
biar kugundahkan jari tanpa kuku tadi
dengan air sendi, air tulang, air mataku pasti
tubuhku kosong tanpa puisi.
kesepianku melangitkan doa-doa
pada kerinduan yang tak padam-padam
sekeras leburnya tubuh, dihitamkan darahnya sendiri
kukira yang kukata: puisi sang intuisi
adalah larik paling raja
nyata darahku mengalirkan sunyi
biar luahkan tuah-tuah
kalau kelak, demimu, kubangun
sebuah kebaikan berbirama
padaku, kukembalikan puisi.
***
Ciputat, 11 September 2016
