Refleksi Bacaan Buku Beginning Postcolonialism by John McLeod

Refleksi Bacaan pada Chapter 2: Reading Colonial Discourses

Tangkapan layar sampul depan buku Beginning Postcolonialism karya John McLeod dan tangkapan layar Chapter 2. Diakses dari versi ebook dalam koleksi pribadi.

Reading colonial discourses atau membaca wacana kolonial dalam tulisan ini akan menyoroti tentang studi wacana kolonial yang berkaitan dengan hubungan kaum penjajah dan terjajah serta bagaimana pandangan Edward W. Said dalam Orientalism dan Homi K. Bhabha dalam konsep mimicry dan ambivalen dalam memandang praktik kolonialisme.

Kolonialisme bergantung pada penggunaan kekuatan dan paksaan fisik, tetapi itu tidak dapat terjadi tanpa adanya kepercayaan yang dianut untuk membenarkan kepemilikan dan pendudukan terus-menerus atas tanah atau negara orang lain (kaum terjajah). Keyakinan-keyakinan ini terlihat dalam bahasa yang digunakan oleh para penjajah kepada sasaranya yaitu orang-orang terjajah.

Pendekatan membaca sastra dalam konteks wacana kolonial terkadang disebut sebagai colonial discourses analysis atau analisis wacana kolonial ini menolak asumsi humanis bahwa teks sastra berada di atas dan di luar konteks historisnya. Ia menempatkan teks-teks dalam sejarah dengan mengungkap bagaimana konteks sejarah memengaruhi produksi makna dalam teks-teks sastradan bagaimana representasi sastra itu sendiri memiliki kekuatan untuk mempengaruhi momen sejarahnya.

Tujuan lain dari membaca sastra dalam konteks wacana kolonial adalah kritik terhadap wacana kolonial berani menunjukkan sejauh mana (yang dianggap) very best dari budaya tinggi Barat yang terperangkap, dieksploitasi dan perampasan kolonial serta wacana kolonial di masa lalu dapat bertindak sebagai sarana untuk melawan kelanjutan representasi kolonial saat ini (neo-kolonialisme).

Berbicara tentang praktik kolonialisme ini maka tak lepas dari buku berpengaruh karya Edward W. Said berjudul Orientalism. Orientalisme mengacu pada representasi Barat tentang Timur. Ada enam bentuk orientalisme yang dijelaskan dalam bab reading colonial discourses diantaranya sebagai berikut:

 (1) Orientalism constructs binary divisions atau orientalisme mengonstruksi pembagian biner yang yang ditegaskan oleh orientalisme adalah pembagian biner antara Timur dan Barat. Timur sering digambarkan dalam serangkaian istilah negatif yang berfungsi untuk menopang rasa superioritas dan kekuatan Barat. Jika Barat dianggap sebagai pusat pengetahuan dan pembelajaran, maka Timur adalah tempat kebodohan dan kenaifan. Dengan demikian dalam Orientalisme, Timur dan Barat diposisikan melalui konstruksi dikotomi yang timpang. Barat menempati peringkat yang lebih tinggi sementara Timur adalah other dan dalam posisi yang lebih rendah.

(2) Orientalism is a Western fantasy atau Orientalisme adalah fantasi Barat. Penting untuk memahami argumen Said bahwa pandangan Barat tentang Timur tidak didasarkan pada apa yang diamati ada di negeri-negeri Oriental, tetapi sering kali merupakan hasil dari mimpi, fantasi, dan asumsi Barat tentang apa yang terkandung di tempat yang sangat berbeda dan kontras.  

(3) Orientalism is an institution. Orientalisme adalah sebuah institusi sebagaimana Said menyebutkan Timur menjadi objek yang cocok untuk dipelajari di akademi, untuk dipamerkan di museum, untuk rekonstruksi di kantor kolonial sebagi ilustrasi teoretis dalam antropologis, biologi, linguistik, ras, sejarah dan lain-lain. Keragaman institusi atau akademis ini menunjukkan bagaimana Orientalisme mendarah daging dan dalam kehidupan sehari-hari di Barat.

(4) Orientalism is lirary, Said mengidentifikasi filologi, leksikografi, sejarah, biologi, teori politik dan ekonomi, penulisan novel dan puisi lirik sebagai bagian dari Orientalisme.

(5) Orientalism is legitimating   yakni Orientalisme adalah sistem representasi luas yang terikat pada struktur dominasi politik. Representasi orientalis berfungsi untuk membenarkan kepatutan kekuasaan kolonial Barat atas tanah Timur.

 (6) There is ‘latent’ and ‘manifest’ Said membagi Orientalisme menjadi dua yaitu Orientaslisme laten (tersembunyi) dan Orientalisme nyata. Orientalisme laten menggambarkan mimpi dan fantasi tentang Timur yang, dalam pandangan Said, tetap relatif konstan dari waktu ke waktu. Orientalisme manifest (nyata) mengacu pada banyak sekali contoh pengetahuan Orientalis yang dihasilkan pada titik-titik sejarah yang berbeda.

Selain bentuk-bentuk Orintalisme yang sudah disebutkan di atas, dalam bab ini dijelaskan juga tentang stereotypes of the orient atau stereotipe yang melekat pada orang timur, diantaranya (1) the orient is timless yang menyebutkan bahwa jika Barat dianggap sebagai tempat kemajuan sejarah dan perkembangan ilmiahnya, maka Timur dianggap jauh dari pengaruh perubahan sejarah.

Stereotipe selanjutnya adalah (2) the orient is strange yang menyebutkan bahwa Timur tidak hanya berbeda, namun tidak biasa, fantastis, dan aneh. Orang Barat bisa bertemu dengan segala macam tontonan di sana, Jika Barat rasional, masuk akal dan akrab, maka Timur tidak rasional dan abnormal.

 (3) orientalism makes assumptions about race yang menggambarkan orang-orang Timur sering muncul dalam representasi Barat sebagai contoh dari berbagai stereotipe rasial yang lebih rendah. Timur adalah di mana orang-orang di Barat akan menghadapi ras-ras yang dianggap lebih rendah dari mereka, yang tentu saja membantu untuk menopang perasaan Barat tentang dirinya sendiri sebagai orang yang superior dan beradab.

(4) orientalism makes assumptions about gender yakni stereotip orang Timur dianggap gagal memenuhi kode gender yang diterima yakni laki-laki, menurut standar Barat, dimaksudkan untuk aktif, berani, kuat; dengan cara yang sama, wanita dimaksudkan untuk menjadi pasif, bermoral, dan suci. Tetapi laki-laki dan perempuan Oriental tidak mematuhi peran gender ini. Hal ini menambah pengertian umum tentang keanehan dan ketidaknormalan yang dianggap berasal dari Timur.

(5) the orient is feminine, stereotipe ini berarti Timur secara keseluruhan ‘diperempuankan’ atau feminised dan dianggap pasif, submisif, eksotik, sedangkan Barat menjadi ‘maskulin’ yaitu aktif, dominan, heroik, dan rasional.

Stereotipe terakhir yaitu (6) the orient is degenerate, berkenaan tentang gagasan bahwa orang-orang oriental perlu beradab dan dibuat untuk menyesuaikan diri dengan standar moral yang dianggap lebih tinggi yang ditegakkan di Barat. Dengan demikian, dalam menciptakan stereotipe-stereotipe ini, Orientalisme membenarkan kepatutan kolonialisme dengan mengklaim bahwa orang-orang Timur perlu diselamatkan dari diri mereka sendiri.

Selain dari bentuk-bentuk dan streotipe tentang orientalisme dan Timur, dalam bab ini juga dijelaskan tentang kritik terhadap Orientalisme Said diantaranya tentang orientalisme yang bersifat ahistoris, Said mengabaikan perlawanan kaum terjajah, perlawanan di Barat dan mengabaikan perbedaan gender. Kritik-kritik ini merupakan usaha pemahaman yang lebih lengkap bagaimana wacana kolonial berkembang dan berpikir lebih terbuka.

Salah satu tokoh lain yang berbicara tentang wacana poskolonial yakni Homi K. Bhabha dalam konsepsi ambivalensi dan mimikri yang digagasnya. Bhabha telah menjadi salah satu suara terkemuka dalam poskolonialisme sejak awal 1980-an, karyanya seringkali sangat sulit dipahami pada pembacaan pertama karena gaya penulisannya yang padat dan kompleks.

Bhabha berpendapat bahwa kolonialisme didasarkan pada serangkaian asumsi yang bertujuan untuk melegitimasi pandangannya tentang tanah dan bangsa lain. Bhabha menyebutkan colonised subject atau subjek yang dijajah adalah makhluk yang sifatnya aneh dan eksentrik adalah penyebab rasa ingin tahu dan perhatian. Yang terjajah dianggap sebagai the other dari orang Barat. Bhabha menyebutkan dalam wacana kolonialisme, subjek-subjek terjajah terbelah di antara posisi-posisi yang berlawanan. Mereka dijinakkan, tidak berbahaya, dapat diketahui tetapi juga pada saat yang sama liar, berbahaya, misterius.

Bhabha berpendapat bahwa, sebagai konsekuensinya, dalam representasi kolonialis, subjek yang dijajah selalu bergerak, meluncur secara ambivalen di antara kesamaan dan perbedaan dan subjek yang terjajah tidak akan tinggal diam.

Jadi, karakteristik wacana kolonialisme Bhabha adalah ambivalensi subjek terjajah menjadi ancaman langsung terhadap otoritas penjajah melalui efek mimikri. Bhabha menggambarkan mimikri sebagai salah satu strategi yang paling sulit dipahami dan efektif dari kekuasaan kolonial. Bhabha tentang pandangannya pada wacana kolonialisme memberikan banyak kontribusi dalam perhatiannya pada ambivalensi, paling tidak karena mampu menunjukkan bagaimana wacana kolonial memungkinkan kondisi kritik mereka sendiri (subjek yang dijajah).

Dalam bab reading colonial discourses ini juga dipaparkan tentang contoh karya sastra dan hubungannya dengan wacana kolonial yaitu pada puisi The Overland Mail karya Rudyard Kipling. Said mengutip karyanya dalam Orientalisme sebagai contoh sikap kolonial terhadap orang-orang Oriental. Puisi ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1886 dalam edisi kedua dari koleksi Departmental Ditties. Puisi The Overland Mail berkisah tentang pengangkutan surat-surat kepada orang-orang buangan Inggris di India yang tinggal di Indian hall-station. Penulis menyebutkan alasan mengapa menggunakan puisi ini sebagai contoh karya sastra pada pembahasan ini yakni adanya pernyataan menarik tentang lanskap India yang harus dilalui oleh pelari Indian (the Indian runner) yang membawa surat, subjeknya sebagian adalah pelari Indian (Indian runner) itu sendiri sebagai colonised subject atau subjek terjajah dari wacana kolonial. Dalam analisis puisi ini menggunakan konsep Said dan Bhabha sebagai upaya praktik wacana kolonial dalam sebuah teks sastra. []

Daftar Referensi

McLeod, John. 2000. Beginning Postcolonialism. UK: Manchester University Press.