
Hubungan antara penjajah dan terjajah dilihat sebagai salah satu kajian poskolonialisme—sebagai upaya pertukaran kebudayaan atau superioritas kaum Barat terhadap kaum Timur. Tulisan ini terfokus pada pertukaran, persilangan atau tercampurnya antara budaya Barat dan Timur, dalam hal ini kolonial dan pribumi. Percampuran ini disebut hibriditas, yang diiringi mimikri dan ambivalensi pada kaum kolonial maupun kaum pribumi.
Tulisan ini terfokus kepada teori poskolonial Homi K. Bhaba yaitu hibriditas, mimikri, dan ambivalen pada tokoh perempuan dalam cerpen Belenggu Emas yang memunculkan ruang ketiga. Ruang ketiga adalah ruang yang memungkinkan adanya interaksi antara kaum kolonial dan pribumi yang tercermin dalam tokoh perempuan. Cerpen Belenggu Emas ini adalah salah satu cerpen yang terdapat dalam kumpulan cerpen Teh dan Pengkhianat karya Iksaka Banu diterbitkan oleh KPG tahun 2019 dan mendapatkan penghargaan Kusala Sastra 2019.
Tokoh perempuan dalam cerpen Belenggu Emas yang disoroti diantaranya Nellie sebagai tokoh aku, Nyonya Westenenk, dan Roohana Koeddoes sebagai perempuan bumiputra yang biasa dipanggil One (kakak). Tiga tokoh perempuan ini mengalami hibriditas yang dicapai melalui mimikri.
Lacan menyebuatkan mimikri adalah seni menirukan. Efek mimikri adalah kamuflase (Bhabha, 2021: 1). Mimikri adalah aktivitas beradaptasi bahkan mengadopsi kebudayaan barat ataupun pribumi. Sebagai subjek suatu perbedaan yang hampir sama, tetapi tidak sepenuhnya, wacana mimikri dibangun di sekitar ambivalensi (Bhabha, 2021: 3).
Mimikri yang dialami tiga tokoh perempuan ini ditemukan dalam cara berbusana atau berpenampilan, gaya rumah, pendidikan, dan cara berbahasa. Hibriditas tercermin salah satunya pada saat kunjungan tokoh perempuan Belanda untuk berdiskusi dengan tokoh perempuan bumiputra. Hibriditas tercermin dalam pemilihan gaya properti rumah kaum bumiputra yang menerapkan perpaduan gaya model barat dan pada ruangannya berderet buku-buku berbahasa Belanda, Arab, dan Melayu. Rumah ini digambarkan oleh tokoh aku (Nellie) ketika berkunjung bersama Nyonya Westenenk ke sebuah rumah milik tokoh Roohana Koeddoes, wanita bumiputra pendiri sekolah Amai Setia dan pemilik surat kabar Soenting Melajoe.
Tokoh Roohana digambarkan memiliki suara lantang dan fasih berbahasa Belanda. Mimikri Roohana ini tercermin dari penguasaanya terhadap bahasa Belanda juga pendidikannya yang maju sehingga mengundang tokoh perempuan kulit putih mengunjunginya juga menjadi pembicaraan kaum kolonial akibat kemajuan yang dimilikinya.
Mimikri tercermin juga dari cara berbusana Nellie yang merupakan wanita berkebangsaan Belanda, tapi gemar berpakaian kebaya putih layaknya pakaian wanita pribumi. Nellie menentang adanya diskriminasi pakaian dalam dirinya yang dilakukan oleh suaminya sendiri, Theodoor Makenburg yang melarangnya berapakain demikian.
Nellie mengalami Ambivalen saat merasa tidak ada larangan bahwa seorang kulit putih memakai kebaya. Ambivalensinya menjurus kepada pembelaan terhadap pribumi padahal Nellie adalah seorang kulit putih. Hibriditas dan mimikri yang dialami Nyonya Westenenk tercermin dalam usahanya bergeliat membangun diskusi antar wanita pribumi demi kemajuan perempuan.
Dalam cerpen Belenggu Emas ini melalui fokaslisasi tokoh aku (Nellie) tergambarkan hibriditas para kaum pemuda bumiputra terpelajar mengenakan dasi dan pantolan serta para bupati kerap mengenakan jas dan baju pesiar gaya Eropa. Hibriditas yang terjadi antar kolonial dan pribumi memunculkan kebudayaan baru yang kemudian diiringi mimikri tanpa harus menghilangkan unsur-unsur pribumi dan kolonial pada diri masing-masing, yang ada hanya muncul ambivalen sebagai akibat adopsi dan adaptasi yang terjadi melalui hibriditas dan mimikri.
Sumber Referensi:
Banu, Iksaka. 2019. Teh dan Pengkhianat. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).
Bhabha, Homi K.1994. The Location Of Culture. New York: Routledge.
Bhabha, Homi K. 2021. Tentang Mimikri. Terj. Saut Pasaribu. Yogyakarta: Circa.
