
Realitas sosial pada suatu masyarakat sering kali digambarkan melalui teks-teks sastra seperti puisi atau prosa. Karya sastra dianggap mewakilkan keadaan pada masa itu—bertindak sebagai suara dan saksi signifikan dalam merekam kenyataan yang sering kali tidak dimunculkan tulisan lain. Damono (2020) menyebutkan bahwa sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium; bahasa adalah ciptaan masyarakat. Sastra menampilkan gambaran kehidupan; dan kehidupan tak lain adalah suatu kenyataan sosial.
Identitas yang ditampilkan pada suatu realitas sosial memperlihatkan memori kolektif pada masyarakatnya salah satunya melalui kajian historis. Tulisan ini akan menganalisis novel Kar karya Orhan Pamuk yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yang berjudul Salju, diterbitkan oleh Serambi Ilmu Semesta. Novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Berliani M. Nugrahani.
Kajian ini memfokuskan pada pendekatan sosiologi sastra melalui kajian historis. Tulisan ini akan membongkar konflik-konflik masyarakat yang mencakup identitas nasional, sekulerisme, budaya Timur dan Barat, agama, dan politik identitas melalui konstruksi tokoh utama bernama Kerim Alakuşoğlu atau Ka dan juga tokoh aku sebagai pencerita.
Ka adalah seorang tahanan politik yang sudah lama tinggal di Frankfurt, Jerman. Ka adalah penyair Turki yang sudah sangat lama tidak menulis puisi. Suatu ketika ia memutuskan kembali ke Istanbul lalu ke Kars, sebuah kota kecil di Turki untuk menyelidiki banyaknya wanita muda berkerudung yang melakukan bunuh diri. Kota Kars yang selalu diselimuti salju dan berbagai konflik masyarakat dan budayanya ternyata menginspirasi Ka untuk menulis puisi kembali. Sebelum membahas konflik-konflik masyarakat lebih jauh dalam novel Salju ini, saya akan menyinggung sedikit kajian historis yang melatarbelakangi kajian ini.
Jika merunut pada sejarah sekulerisme di Turki, kita akan membahas gerakan perlawanan nasional Turki. Sejak tahun 1918 sampai kemenangan tahun 1922 adalah kisah tentang hadirnya Mustafa Kemal Pasha (Atturk) sebagai pemimpin yang berpengaruh bagi pergerakan itu. Pada tahun 1919-1923 terjadi revolusi Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal. (Tabrani, 2016:136). Mustafa Kemal mendirikan Negara Republik Turki di atas puing-puing reruntuhan kekhalifahan Turki Usmani dengan prinsip sekularisme, modernisme dan nasionalisme. Begitu dominasi panggung politik sudah kuat, Mustafa Kemal dan pemerintahannya melancarkan sebuah program pembaruan yang ekstensif. (Asy-Syalabi dalam Tabrani, 2016:136).
Sekularisme dan nasionalisme merupakan ciri khas ideologi Turki Muda paling tidak sejak tahun 1913. Pada tahun 1930-an sekularisme dan nasionalisme ini bermakna ekstrem. Sekularisme diinterpretasikan bukan saja sebagai pemisahan antara agama dan negara, tetapi juga sebagai penyingkiran agama dari kehidupan publik dan tegaknya pengawasan negara atas institusi-institusi keagamaan masih ada. Satu bentuk ekstrem nasionalisme, dengan mitos-mitos historis yang menyertainya dimanfaatkan sebagai alat utama dalam pembinaan identitas nasional baru, dan hal demikian ini dimaksudkan untuk mengambil alih kedudukan agama (Asy-Syalabi dalam Tabrani, 2016:136-137).
Telaah historis yang telah disebutkan di atas tidak bisa lepas dari posisi geografi Turki yang terletak dia antara dua benua berbeda yaitu Asia dan Eropa—menjadikan Turki sebagai jembatan antara Timur dan Barat. Turki menjadi sebuah wilayah ideal yang terjadi pertemuan praktis antara budaya Barat dan Timur. Hal ini tercermin dalam novel Salju karya Orhan Pamuk yang memperlihatkan arus politik identitas, agama, dan segala bentuk pemberontakan masyarakat di Kars dan gejolak politik Turki pada saat itu.
Disorganisasi: Masalah kemiskinan, kejahatan hingga bunuh diri
Disorganisasi atau keadaaan kacau karena adanya perubahan pada keadaan sosial tertentu turut menjadi perbincangan dalam novel Salju ini. Kekacauan ini terjadi akibat kemiskinan dan perbedaan sosial di antara masyarakat Kars. Ketimpangan sosial yang terjadi ini mengakibatkan kejahatan hingga bunuh diri. Ka selaku penyair dan bertindak sebagai ‘wartawan’ dari Republikan mencoba mencermati pergolakan di kota Kars.
Mereka mendengar tentang derita tanpa akhir di Kars. Mereka mendapatkan informasi tentang tingginya angka pengangguran dan semakin mewabahnya kasus bunuh diri. Mereka mendengarkan para ibu yang bercerita sambil berurai air mata tentang anak-anak lelaki mereka yang menganggur atau dipenjara, juga para pelayan permandian yang meskipun telah bekerja selama dua belas jam sehari di hamam tetap tidak mampu menyokong kebutuhan keluarga yang beranggotakan delapan orang. Mereka menyimak keluh kesah para pria pengangguran yang tidak mampu lagi membayar tagihan kedai teh. Orang-orang itu menyambat dan mengeluh tentang nasib malang mereka, juga tentang dewan kota dan pemerintah—menimpakan setiap masalah yang mereka hadapi pada bangsa dan negara.
(Pamuk, 2015, hal. 16)
Masalah perempuan, jilbab dan keluarga
Awal mula kedatangan Ka ke Kars adalah untuk melakukan reportase tentang banyaknya perempuan berjilbab yang bunuh diri. Ka ditemani asisten polisi mendatangi keluarga-kelaurga yang telah kehilangan anak-anaknya itu. Mereka menceritakan bahwa mereka merasa tidak ada masalah pada anak perempuan mereka.
Seluruh keluarga para gadis yang melakukan bunuh diri (Ka mendengar bahwa telah terjadi enam insiden bunuh diri dalam waktu yang singkat) bersikeras bahwa putri-putri mereka tidak pernah menyusahkan, sehingga semuanya merasa syok dan gundah ketika mengetahui apa yang telah terjadi.
(Pamuk, 2015, hal. 15)
Setelah Ka mendapatkan pernyataan tersebut, ia masih mencoba menggali konflik yang terjadi. Ternyata terjadi disorganisasi seperti paksaan keluarga seperti menikah. Larangan untuk mengenakan jilbab yang telah diperintahkan sekolah dan pemerintahan saat itu membuat tekanan di keluarga mereka. Beberapa keluarga diancam oleh pemerintah daerah jika anak-anak perempuan mereka masih mengenakan jilbab, alhasil para orang tua melakukan serangkaian ancaman pernikahan pada anak-anaknya jika tetap ingin mengenakan jilbab. Hal ini membuat para anak-anak perempuan jilbab tersebut mengalami tekanan mental, mereka merasa identitas mereka sebagai muslimah hancur lebur.
Ada seorang gadis, contohnya, yang dipaksa menikah dengan seorang pemilik kedai teh yang telah berumur. Dia sempat makan malam bersama ibu, ayah, tiga orang saudara, dan neneknya, seperti yang dia lakukan setiap malam Setelah membersihkan meja sambil cekikikan dan saling bercanda bersama adik-adik perempuannya, gadis itu keluar dari dapur, pergi ke kebun untuk memetik buah-buahan sebagai pencuci mulut, dan setelah itu, dia memanjat jendela untuk memasuki kamar orangtuanya, tempat dia menembak dirinya sendiri menggunakan senap berburu. Sang nenek mendengar ledakan senapan dan segera berlari ke atas, hanya untuk mendapati cucunya, yang disangkanya ada di dapur, terkapar tanpa nyawa di atas genangan darah di lantai kamar orangtuanya. Wanita tua itu tidak dapat memahami bagaimana cucunya bisa berpindah dari dapur ke kamar, apalagi alasan gadis itu melakukan bunuh diri.
Ada pula gadis 16 tahun lain yang bertengkar dengan…… dua orang adiknya soal siaran televisi dan akhirnya berhasil merebut remot kontrol. Ayah mereka datang melerai dan memberikan dua pukulan keras pada gadis itu. Kemudian. si gadis langsung berlari ke kamarnya, menemukan sebotol besar obat ternak, Mortalin, dan menenggak isinya seperti meminum soda. Seorang gadis lain, yang telah menikah dengan bahagia pada umur 15 tahun, memiliki bayi berumur enam bulan. Merasa terancam oleh pemukulan suaminya yang pengangguran, dia mengunci diri di dapur setelah pertengkaran rutin dengan pria itu. Si suami mencium gelagat buruk istrinya, tapi sebelumnya si istri telah menyiapkan tali dan cantolan di langit-langit, sehingga dia berhasil menggantung diri sebelum suaminya mendobrak pintu.
(Pamuk, 2015, hal. 17)
Kontruksi Identitas: Agama, Sekuler, dan Misi Modernitas Barat
Identitas masyarakat kota Kars seperti terpecah dan mengalami semacam pembelahan identitas yaitu kaum islamis politis dan kaum sekuler. Kaum islamis politis ini yang menekankan bahwa masyarakat harus kembali ke Islam. Namun, cara-cara ini dipandang para sekuler dan para golongan kiri semacam ancaman bagi kemerdekaan mereka selalu individu, masyarakat, dan negara.
“Saya teramat sangat mencintai Tuhan,” ujar Necip dengan suara gemetar. “Kadang-kadang, saat saya menanya kan kepada diri saya sendiri tentang apa yang akan terjadi,”
(Pamuk, 2015, hal. 214)
Pada kutipan di atas memperlihatkan tokoh Necip yang merupakan pengagum Lazuardi (seorang tokoh islamis politis), menyatakan dengan terang-terangan tentang agamanya pada Ka yang seorang Ateis.
“Aku membaca di koran Turki bahwa dia adalah seorang Islamis politis militan.” kata Ka. “Aku juga membaca banyak hal buruk tentangnya.”Necip cepat-cepat menyela. ‘Islamis Politis’ hanyalah nama yang dilekatkan penganut paham Barat dan sekularis kepada kami, kaum muslim yang siap berjuang untuk agama kami, katanya. “Bapak seorang sekularis, tapi tolonglah, jangan sampai Bapak memercayai kebohongan-kebohongan tentang Lazuardi yang disebarkan oleh pers sekuler. Beliau tidak pernah membunuh siapa pun, bahkan saat di Bosnia, tempatnya berjihad untuk saudara-saudara kami sesama muslim, bahkan saat di Grozny, tempat bom Rusia melukai kaki beliau hingga cacat.”
(Pamuk, 2015, hal. 102)
Selama Ka tinggal di Kars, ia banyak menghasilkan puisi-puisi dan memang tujuan awalnya adalah agar ia kembali bisa menulis. Puisi-puisi Ka dalam novel ini disimbolkan sebagai upaya konstruksi identitas Ka yang sudah lama hilang sebagai tahanan politik. Selain puisi yang dijadikan simbol, ada juga salju dan pertunjukan teater. Salju seperti judul novel ini memperlihatakan keindahan di Kota Kars tapi menyimpan banyak luka. Pamuk mencoba membandingkan salju dan keheningan serta kota Kars di masa lalu yang sangat maju dengan kota Kars masa kini yang banyak bergejolak konflik. Selain itu, simbol pertunjukan teater merupakan cara Pamuk memperlihatkan misi modernitas yang dititipkan oleh para kaum sekuler. Dalam pertunjukan itu terdapat berbagai kontorvesial melalui dialog dan adegannya.
“Oh, penduduk Turki yang terhormat dan baik hati,” kata Sunay Zaim. “Kalian semua sedang melangkah di jalan pencerahan, dan tidak seorang pun akan dapat mengalihkan kalian dari perjalanan hebat dan penuh makna ini. Jangan takut. Para reaksioner yang ingin kembali ke masa lalu, para binatang buas dengan pikiran berselimut sawang itu, tidak akan pernah bisa keluar dari liang mereka. Orang orang yang mencoba-coba bermain-main dengan republik.dengan kemerdekaan, dengan pencerahan akan mendapat kehancurannya sendiri.”
(Pamuk, 2015, hal. 17)
Selain itu, Lazuardi menyinggung masalah pers Turki yang kebarat-baratan, seperti pada kutipan berikut.
“Pers Turki tertarik pada masalah-masalah negeri ini hanya jika pers Barat sudah tertarik,” kata Lazuardi. “Jika tidak begitu, pembahasan tentang kemiskinan dan bunuh diri akan dianggap sebagai kelancangan. Pers Turki mem bicarakan tentang hal-hal ini seolah-olah peristiwanya terjadi di negeri yang belum beradab. Dengan kata lain, Anda juga akan terpaksa memublikasikan artikel Anda di Eropa. Karena itulah saya ingin menemui Anda: Anda tidak akan menulis kasus bunuh diri para gadis itu untuk koran Turki ataupun koran Eropa! Bunuh diri adalah dosa besar! Bunuh diri adalah penyakit yang akan tumbuh semakin parah jika kita semakin membahasnya! Terutama kasus yang baru saja terjadi. Jika Anda menulis bahwa pelaku bunuh diri .
(Pamuk, 2015, hal. 114)
Analisis pada novel Salju karya Orhan Pamuk dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra dengan kajian historis memperlihatkan konflik-konflik masyarakat yang didasarkan pada masyarakat, agama, dan sekulerisme. Konflik dan konstruksi identitas yang terjadi pada masyarakat Kars dalam novel Salju karya Orhan Pamuk adalah konflik antar individu, identitas nasional, agama, dan politik identitas sehingga memunculkan identitas nasional masyarakatnya.
Daftar Referensi
Damono, Sapardi Djoko. 2020. Sosiologi Sastra. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Pamuk, Orhan. 2015. Salju. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta
Tabrani, “Perubahan Ideologi Keislaman Turki (Analisis Geo-Kultur Islam dan Politik pada Kerajaan Turki Usmani).“ Jurnal Edukasi Vol 2, Nomor 2, 2016
