Refleksi Bacaan Buku Understanding Material Culture by Ian Woodward

Part 1 Locating Material Culture: The Material as Culture: Definitions, Perspectives, Approaches.

Tangkapan layar sampul depan buku Understanding Material Culture by Ian Woodward dan tangkapan layar Part 1. Diakses dari versi ebook dalam koleksi pribadi.

Objek adalah material atau benda-benda yang digunakan dan berdampingan dengan manusia. Mempelajari benda sebagai suatu bagian budaya—berinteraksi dengan manusia disebut dengan budaya material atau material culture. Objek disebut sebagai budaya material yang menekankan bagaimana benda-benda mati di dalam lingkungan dimaknai oleh manusia untuk tujuan menjalankan fungsi sosial, mengatur hubungan sosial, dan memberi makna simbolis pada setiap aktivitas manusia. Objek juga membawa makna pribadi dan emosional bagi penggunanya seperti memfasilitasi interaksi interpersonal.

Lebih jauh lagi, objek atau material ini masuk ke dalam kajian studi budaya material atau material culture studies yang menggabungkan berbagai penyelidikan ilmiah dalam kegunaan dan makna benda. Pernyataan utama studi budaya material adalah bahwa objek memiliki kemampuan untuk menandakan sesuatu atau membangun makna sosial. Objek dapat dilihat sebagai penghubung penting antara sosial dan struktur ekonomi. Objek atau benda-benda ini mungkin menandakan status sosial.

Objek menjadi tergabung dan mewakili wacana sosial yang lebih luas terkait dengan norma dan nilai. Objek atau benda yang dimaknai sebagai sebuah kebudayaan dan berhubungan dengan praktik-praktik budaya tentang bagaimana objek dapat digunakan sebagai, penanda sosial, sebagai penanda identitas dan jaringan kekuatan budaya serta politik.

Objek sebagai penanda sosial dimaknai sebagai penanda nilai dan estetika, seperti dalam tulisan Bourdieu (1984) yang menyebutkan tentang rasa dan gagasan tentang objek sebagai penanda nilai estetika dan budaya paling berkembang. Bourdieu menekankan peran pilihan estetika sebagai selera seseorang dalam mereproduksi ketidaksetaraan sosial. Objek dimaknai sebagai penanda sosial memperlihatkan kelompok-kelompok sosial yang dominan memiliki wewenang untuk menentukan parameter nilai budaya misalnya gagasan tentang budaya berpenampilan tinggi dan rendah. Objek sebagai penanda sosial ini menekankan pada cerminan pemakainya dan nilai estetika yang ditekankan.

Dalam masyarakat konsumerisme penanda perbedaan sangat terlihat dan memunculkan perbedaan struktur, status sosial, dan kelas-kelas tertentu yang memperlihatkan dikotomi penggunaan benda dengan berbagai budayanya.

Selanjutnya, objek dimaknai sebagai penanda identitas berkaitan langsung dengan pembentukan identitas, ciri atau representasi pemakainya sebagai bagian dari masyarakat sosial. Selain manusia bisa memaknai objek sehingga didapatkan kegunaannya, objek turut pula dapat memberi makna bagi manusia atau yang disebut dengan identitas baik secara personal maupun di tengah masyarakat sosial. Objek sebagai penanda identitas bersifat sangat pribadi dengan tingkat makna pribadi yang tinggi dan asosiasi yang sangat kuat dengan identitas pribadi seperti melambangkan ciri, karakteristik, dan nilai.

Selain objek dimaknai sebagai penanda sosial dan penanda identitas, objek dapat dimaknai sebagai sebagai situs kekuatan budaya dan politik. Pembahasan objek sebagai penanda kekuatan budaya dan politik ini sering juga disebut sebagai teori aktan yang memperlihatkan objek-objek dikonstruksikan oleh relasi kuasa tertentu, dan pada gilirannya juga secara aktif membangun relasi semacam itu, salah satunya hubungan antara manusia dan teknologi.

Pembahasan objek sebagai penanda kekuatan politik dan budaya ini dimaknai sebagai objek bisa diproduksi dan terhubung dalam jaringan wacana budaya dan politik, karena berbicara mengenai kekuasaan, maka tentu ada aktor-aktor yang berperan dalam produksi objek kekuasaan ini sehingga menimbulkan dan mencerminkan relasi kekuasaan atau power politik untuk mencapai tujuan tertentu.

Objek atau benda dapat dimaknai sebagai penanda sosial, identitas, dan kekuasaan politik ini merupakan bagian dari pemahaman budaya material tentang bagaimana objek dapat membawa makna budaya.

Studi budaya material memiliki perhatian utama pada hubungan timbal balik antara manusia dan objek. Studi budaya material berkaitan dengan apa yang digunakan manusia untuk meletakkan objek dan apa yang dilakukan objek untuk manusia. Objek atau benda yang kemudian menjadi budaya material memiliki berbagai makna simbolis bagi penggunanya.

Istilah budaya material sering digunakan dalam hubungannya dengan benda yang terdiri dari artefak, barang, komoditas dan baru-baru ini disebut aktan. Artefak adalah produk fisik atau jejak aktivitas manusia. Seperti objek, artefak memiliki kepentingan karena materialitas atau konkretnya, dan menjadi subjek interpretasi dan pemesanan retrospektif.

Artefak umumnya dianggap sebagai simbol dari beberapa aspek sebelumnya dari aktivitas budaya atau sosial pada masa itu. Selanjutnya adalah barang yaitu objek yang diproduksi di bawah hubungan pasar tertentu, biasanya diasumsikan sebagai kapitalisme—diberi nilai dalam sistem pertukaran. Sedangkan komoditas adalah ekspresi teknis yang terkait dengan konsep barang. Komoditas adalah sesuatu yang dapat dipertukarkan, sementara istilah aktan dirancang untuk mengatasi perbedaan apriori antara dunia sosial, teknologi dan alam serta menekankan hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara manusia dan materi.

Refleksi bacaan pada bagian 1 yang berjudul The Material as Culture: Definitions, Perspectives, Approaches ini memperkenalkan studi budaya material, definisinya serta persepektif hingga kegunaan pendekatan budaya material. Budaya material atau material culture merujuk pada benda-benda yang digunakan serta diberikan makna oleh manusia dalam hubungan masyarakat sosial. Objek, material, atau benda bisa dimaknai secara budaya karena merujuk pada benda-benda yang ditemui, berinteraksi dan digunakan dalam keseharian, karena kenyataannya kita hidup berdampingan dengan benda-benda yang akhirnya memunculkan kebudayaan material.

Setiap objek atau benda itu bisa dimaknai beraneka ragam dan tidak tunggal maknanya, ada yang dianggap sebagai penanda sosial, penanda identitas, atau mencerminkan sesuatu kekuasaan politik atau power. Manusia tidak bisa lepas dari benda-benda, betapa pentingnya peran benda terhadap kehidupan terutama sekali pada era teknologi saat ini.

Pada objek sebagai penanda sosial diperlihatkan kaum kelas bawah dan kaum kelas atas melalui penggunaan dan pemaknaan objeknya sehingga muncul pula kekuatan politik yang menjadikan aktor atau seseorang berkuasa yang manjadikan objek sebagai medianya.  Zaman teknologi informasi ini menjadi sangat bias antara manusia dan identitasnya sendiri, maka itu di antara tercabutnya manusia dengan identitasnya, objek menawarkan sebagai representasi atau pembentuk identitas sesorang. Objek dalam budaya material menjadi makna simbolis dan fungsi representatif bagi penggunanya.

Daftar Referensi

Woodward, Ian. 2007. Understanding Material Culture. London: SAGE Publications.