Mengurangi Fase Krisis; Menumbuhkan Kesadaran akan Hak Tubuh-Jiwa

Salah satu fase yang akan dilalui manusia dewasa adalah menuju usia 30 tahun-an. Fase yang makin mematangkan diri sekaligus fase paling membebani. Tubuh yang mulai memerlukan perhatian; kesehatan fisik dan mental. Penurunan fungsi tubuh terkadang membuat kita harus menyadari—bahwa—kita telah melalui fase 20 tahun-an yang sangat buruk. Sebaliknya, jika kita mengalami kualitas fungsi tubuh yang makin baik; kita berhasil melewati fase 20 tahun-an dengan kesadaran penuh atas kesehatan diri. Meskipun demikian, semua telah berlalu. Tidak perlu ada penyesalan yang akan makin menyesakkan diri.
Saat ini, kita sedang berhadapan dengan fase dengan angka yang asing: 30. Kita masih muda, tapi juga tidak semuda dulu. Kita sudah tua, tapi juga tidak setua itu. Fase yang ganjil, tanggung, tetapi membutuhkan perhatian penuh—dari diri—dengan penuh kesadaran. Bohong jika saya katakan bahwa saya tidak gundah. Saya sangat gundah mengetahui dalam beberapa waktu ke depan akan menginjak usia 30 tahun. Tetapi, kegundahan itu hanyalah sisa-sisa. Sisa dari fase kriris yang saya alami saat usia 27 hingga menjelang 29 tahun. Orang bilang, pada rentang usia 25, 26 atau 27 tahun adalah fase lanjutan dari fase quarter-life crisis hingga menjelang usia 30 tahun. Saya memercayai hal itu. Selain mengalami sendiri, saya juga menyaksikan orang-orang di sekitar saya mengalami fase krisis yang sangat kentara. Kami hanya saling menghibur tanpa perlu memberikan saran. Setelah itu, kami kembali sibuk dengan pikiran masing-masing. Kami sibuk menata hari demi hari hanya untuk bertahan hidup.
Fase transisi menuju dewasa yang dikenal sebagai emerging adulthood ternyata tidak selalu berjalan mulus, dapat terhambat oleh disonansi antara harapan yang diidamkan dan realita yang ditemui. Sehingga, berpotensi menciptakan krisis yang sering disebut sebagai krisis usia seperempat abad atau quarter-life crisis. (Rahmah & Madfufah, 2023, p.451). Quarter-life crisis merupakan suatu respons terhadap ketidakstabilan yang memuncak yang menyebabkan terlalu banyaknya pilihan, perasaan panik, dan tidak berdaya (sense of helplessness) yang biasanya muncul pada individu di rentang usia 20 hingga 30 tahun. (Syifa’ussurur et al., 202, p.62).
Krisis yang terjadi pada seperempat bagian hidup ini adalah tantangan yang hadir dalam fase hidup; yang mesti kita hadapi. Fase krisis akan dimulai dengan menelisik memori otak kita yang mulai membongkar kenangan belasan hingga 20 tahun-an yang begitu muda. Menghitung penyesalan demi penyesalan tetapi tidak berusaha menata ke depan. Tidak mampu mengidentifikasi stressor, mengisolasi diri dari sosial, dan merobek segala kemungkinan menjadi ketidakmungkinan.Itulah yang akan dialami orang-orang dengan quarter-life crisis. Masa transisi menuju dewasa muda adalah fase yang kompleks. Tidak hanya melibatkan perubahan fisik, melainkan juga kejiwaan.
Berbagai saran hingga tata cara menghadapi quarter-life crisis bertebaran di media sosial atau internet: menjarah otak kita untuk membaca infografis atau esai-opini yang bahkan saya menyebutnya sebagai bagian dari propaganda toxic positive, toxic positif, atau toksis positif atau sebutan-sebutan lain yang membuat kepala bersarang . Agar lebih familier, saya menyebutnya sebagai toxic positif. Orang-orang dengan quarter-life crisis selalu dihadapkan dengan sikap toxic positif dari media sosial atau bahkan orang-orang di sekitarnya. Toxic positif adalah sikap yang memaksakan hal-hal positif secara tidak realistis, sehingga mengabaikan emosi negatif yang seharusnya wajar dialami seseorang.
Tentu saja, nasihat baik seharusnya bisa menjadi hal baik yang dapat diterima. Tetapi, orang dengan kepala yang riuh belum tentu bisa menerima nasihat. Mereka akan menganggap nasihat itu sebagai bentuk penghakiman dan penekanan. Setidak-tidaknya kita hanya perlu mendengarkan saja mereka: orang-orang dengan quarter-life crisis. Terlebih jika krisis yang mereka alami telah meluas menjadi masalah mental: anxiety, depresi, PTSD, bipolar, dan lain-lain—kita hanya perlu menyimak-menatap mereka, tanpa perlu berbicara.
Setiap orang akan mengalami fase quarter-life crisis pada rentang usia yang berbeda-beda. Mungkin juga, ada orang yang tidak mengalaminya—mengenai hal ini—saya sangat sangsi. Mungkin jika ada, saya sangat menghormati ketahanan mentalnya. Tidak semua orang diberkati kemampuan mengelola emosi dengan sangat baik. Kalaupun ada orang yang tidak mengalami gejala quarter-life crisis, saya ingin mengatakan padanya: Anda luar biasa!
Saya juga percaya orang-orang dengan kekuatan fisik adalah mereka yang hidup dengan aturan olahraga yang ketat selama bertaun-tahun. Begitu pula orang-orang dengan mental yang luar biasa, adalah mereka yang telah mengalami naik-turunnya kehidupan yang menempa mereka.
Saya tidak bisa mengatakan bahwa fase quarter-life crisis bisa diatasi dengan mudah. Sudah banyak sekali tip atau saran yang berterbaran di internet untuk mengatasi quarter-life crisis. Namun, apakah saran-saran itu akan membuat kita meniadakan fase krisis? Jawabannya tentu saja tidak. Fase krisis akan tetap ada, entah hingga usia berapa. Kita hanya bisa menunggu sambil berbuat sebaik yang kita mampu.
Saya hanya bisa mengatakan bahwa fase krisis bisa dikurangi dengan hanya menyadarkan diri kita untuk mencintai tubuh dan jiwa kita, sepenuhnya. Apakah fase krisis ini akan hilang? Tentu saja tidak. Tapi, fase krisis ini saya pastikan akan berkurang. Menumbuhkan kesadaran akan kehadiran diri kita adalah upaya yang paling pantas kita lakukan untuk memberikan hak kepada tubuh dan jiwa—bahwa kita, ada untuk dicintai oleh diri kita sendiri.
Kegundahan menuju usia 30-an, bukanlah suatu cela. Perasaan gundah tersebut adalah sesuatu yang normal dan bisa dimengerti. Memangnya kenapa dengan usia 30 tahun? Bukankah usia tersebut menandakan bahwa kita sedang mekar merekah seperti bunga di taman. Usia 30 tahun adalah usia penuh tanggungjawab tentang kebahagiaan diri sendiri. Bahagiakan diri kita, itu adalah tanggungjawab kita pada usia kepala tiga.[]
Daftar Referensi
Syifa’ussurur, M., Husna, N., Mustaqim, M., & Fahmi, L. (2021). Discovering Various Alternative Intervention Towards Quarter Life Crisis: A Literature Study. Journal of Contemporary Islamic Counselling, 1(1), pp. 53-64
Rahmah, A.D & Masfufah, U. (2023). Krisis pada Quarter-life, Peran Dukungan Sosial dalam Membantu melewatinya. Jurnal Flourishing, 3(10), pp. 450–458
